Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
Tersesat Dalam Alur


__ADS_3

Sudut Pandang Earnest


Aku lebih takut. Bukan tentang fakta di balik hidupnya yang masih jadi misteri. Memang, bisa jadi menakutkan. Tapi aku takut jika tidak bisa menemukan cara yang tepat untuk membantunya menerima kebenaran. Aku pun ragu. Harsukah kami berhenti saja?


Jade sudah mulai menulis cerita. Itu adalah sebuah proses yang cepat. Dia sudah menyelesaikan beberapa draft cerita. Semua masih dalam tulisan pendek, dan tidak ada yang sampai selesai. Ceritanya gantung, tanpa awal dan akhir. Sepertinya dia mencoba lagi untuk memulai sesuatu yang baru setiap kali menemukan jalan buntu. Namun cerita yang sama di ulang-ulang. Dalam versi yang berbeda-beda. Seolah dia hendak menumpahkan sebuah kisah yang terpendam di benaknya. Namun hanya sepotong.


Semua potongan cerita itu membuatku merinding. Setelah selesai membaca, aku berusaha menata ekspresi wajahku setenang mungkin, tidak ingin ekspresi semangat di wajahnya hilang begitu saja hanya karena kemampuanku yang tidak memadai untuk mengkritisi sebuah hasil tulisan.


Kemudian kami menghabiskan waktu untuk mendiskusikan plot ceritanya. Berusaha menemukan awal cerita yang tepat dan membicarakan kemungkinan-kemungkinana yang masuk akal sebagai ending dari potongan cerita itu. Tetapi ketika dia kembali ke layar Macnya, dia tenggelam dalam idenya sendiri. Seolah-olah lupa dengan hal yang baru saja kami bicarakan.


Aku menyarankan untuk segera menyewa jasa seorang tutor menulis agar dia bisa dengan cepat mendarat pada sebuah plot yang membentuk sebuah badan cerita, sekaligus belajar hal-hal teknis dalam menulis. Tetapi dia belum siap, dengan alasan bahwa keseluruhan cerita yang ada dalam benaknya masih tampak aneh. Jujur aku sangat takut. Tidak habis pikir, kekasihku yang senantiasa polos dan berpikir naif itu bisa mendapatkan ide cerita yang mengerikan. Tapi ku biarkan dia melanjutkan tulisannya. Setidaknya, dia bisa menumpahkan semua isi benaknya. Melepas semua ide yang tersangkut di alam bawah sadarnya. Aku jadi berpikir, kami mungkin bisa mendapatkan sesuatu dari sana. Entah apa pun itu.

__ADS_1


...


Pintu diketuk 3 kali, dengan irama yang familiar di telingaku. Aku tau artinya. Aku akan kembali melakukan tugas mulia.


Aku bangun dan turun dari ranjang. Kakiku mencoba menyentuh lantai pelan-pelan, rasanya sangat dingin menusuk sampai ke tulang. Tapi aku dengan senang menyambut sensasinya dan mendengar bunyi riak air mengalir karena sentuhan kakikuk. Refleks, ku tarik kembali kakiku. Tapi tidak boleh, aku harus mempersiapkan diri segera. Aku harus menjaga citra diriku yang baik di depan raja. Aku tidak boleh terlambat sedetik pun. Tidak peduli berapa detik, terlambat menandakan sifat yang buruk. Raja pasti tidak akan senang.


Ku jejakkan kembali kakiku di lantai, kubiarkan air yang mengalir menutupi hingga ke mata kaki. Menimbulkan suara cipratan ringan saat aku melangkah. Sangat dingin, rasa membeku merayap sampai ke tulangku, membuat aku bangun total dan mendapatkan semua kesadaranku.


Aku berjalan ke arah cermin panjang di sudut ruangan, cukup untuk melihat seluruh tubuhku dari kaki hingga kepala. Ku ambil waktu untuk mengamati penampilanku. Sempurna. Aku berbisik, suaraku bergema, telingaku menangkap suaraku yang menyusul setelah beberapa detik.


Rambut adalah lambang keindahan di istana ini. Mungkin, sekitar 30 kali ketukan lagi di pintu, rambutku akan mencapai lutut. Dan kecantikanku akan semakin bertambah. Raja berkata, jika sudah mencapai lutut atau labih panjang lagi, aku bisa terpilih menjadi putri berikutnya yang akan dipersembahkan kepada para dewa. Aku sangat bersemangat untuk cepat-cepat sampai pada level itu.

__ADS_1


Sebelum itu terjadi, aku harus mempertahankan citra diri yang baik. Harus mempertahankan kebaikan hati dan tidak membuat kerepotan yang tidak perlu terjadi.


Ku seka telapak tanganku yang berminyak ke pipi, dahi, dan daguku. Memberi kesan berkilat di kulitku. Langkah terakhir, ke bibirku. Sempurna.


Ku ambil jubah putih dari gantungannya di samping meja rias dan mengenakannya. Menutupi semua tubuhku sampai ke mata kaki dan hoodienya tegak di belakang kepalaku menciptakan kesan yang megah. Ku patut diriku di cermin dan memastikan segala sesuatu sudah tertata sempurna. Setelah merapikan itu, aku berjalan menuju pintu. Malaikat hitam yang tadi mengetuk pintu sedang menungguku di luar pintu dengan tongkat perak panjang dengan lambang malaikat bersayap di ujungnya. Dia menundukkan kepalanya dan memberi isyarat kepadaku untuk berjalan di depannya. Aku pun berjalan perlahan, dengan langkah elegan. Sesuai yang sudah diajarkan kepada kami. Bahwa setiap gerak, setiap langkah, kami harus menggambarkan bahwa diri kami adalah putri raja.


Kami memasuki sebuah ruangan yang sangat luas, dengan interior yang megah, atap yang menjulang sangat tinggi di atas kepala hampir serupa langit. Sebuah meja jamuan makan yang terbuat dari kayu kokoh mengkilap dengan pahatan khas serupa malaikat bersayap, yang besar dan luas, terletak persis di tengah ruangan. Sekeliling ruangan itu dijaga oleh para malaikat hitam masing-masing lengkap dengan tongkat perak di tangan mereka. Masing-masing tongkat berbeda panjang dan coraknya sesuai dengan tingkatan jabatan para malaikat.


Kami duduk menghadap meja. Ada tujuh orang di sana, 6 orang anak perempuan dengan penampilan yang sama denganku, mungkin aku yang paling muda, karena rambutku yang paling pendek diantara mereka --tapi aku yakin, akulah yang paling mirip dengan raja dan yang paling cantik di antara mereka semua--. Seperti biasa, raja duduk di area kepala meja dengan penuh wibawa. Dia sangat tampan, tubuhnya tinggi, kulitnya putih susu, dan perawakannya kuat. Aku mendapatkan kulitnya, matanya dan hidungnya. Bingkai wajah kami juga sama. Semua gadis dan anak perempuan yang pernah ku temui di istana itu mirip dengannya. Beberapa dari kami hanya berbeda warna kulit dan bentuk wajah.


Aku pernah bertemu dengan seorang anak perempuan yang lucu dengan rambut keriting dan kulit gelap, ketika aku masih berada di aula pertama bersama ratusan anak lainnya. Aku seperti melihat diriku sendiri dalam versi yang berbeda. Dalam ingatanku, kami semua mirip. Beberapa wajah berbentuk oval. Beberapa lainnya bulat. Ada yang berkulit gelap, putih susu, coklat dan sawo matang. Tapi kebanyakan, kami memiliki mata, hidung, dan bibir yang sama. Fitur wajah itu yang membuat kami mirip. Dan itulah mengapa kami semua memahami bahwa kami adalah anak-anak raja. Kami memiliki fitur wajahnya.

__ADS_1


Aula pertama adalah tempat perhentian pertama begitu kami tiba di sana sebelum dipilih dan ditempatkan di ruangan-ruangan khusus. Kami masih kecil-kecil, namun entah darimana datangnya hasutan itu, kami sudah bersaing satu sama lain, kami suka berdebat tentang siapa yang paling mirip dengan raja.


Kami dipanggil malaikat putih. Dan yang terpilih akan naik pangkat, kemudian disebut sebagai putri. Aku adalah salah satu dari para putri yang terpilih itu. Dengan bangga, aku tidak henti-henti mencuri pandang pada raja.


__ADS_2