
Adalah hal yang lumrah bagi seseorang seperti mereka untuk mengunjungi gereja sering-sering. Bukan hanya untuk keperluan ibadah dan berdoa. Mungkin ada acara yang melibatkan keikutsertaan mereka. Dan mungkin mereka secara teratur memberi donasi ke gereja. Dengan kata lain, kehadiran Denise Kim di sana bukan sebuah hal yang janggal.
Tapi ada sesuatu yang menggelitik rasa penasaranku hari ini. Setelah ku pikir-pikir, aku sering melihatnya di sana. Ketika dia keluar dari gereja dan berjakan menuju mobil yang menunggu di pinggir jalan, dia pasti akan menoleh ke arah taman, menatap kosong selama beberapa saat, lalu bergegas menuju mobilnya.
Menatap ke arah taman? Wajar saja. Kita bisa dengan refleks menoleh ke mana saja dan kebetulan ada taman di sisi jalan. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, tidak, yang dia lakukan itu tidak normal. Ku pikir-pikir lagi. Mobil jemputannya harusnya bisa langsung masuk ke dalam pekarangan gereja dan dia dijemput persis di depan lobby gereja, pintu keluar dari gedung gereja. Maksudku, jika kamu ke sana naik mobil. Bukan angkutan umum. Tapi kenapa dia harus berjalan jauh dari pintu masuk gereja ke arah jalan raya. Itu bukan jarak yang pendek. Jaraknya cukup jauh, sekitar kurang lebih 500 meter. Bisa jadi lebih. Karena gedung gereja itu adalah salah satu yang terbesar di kota itu dan areanya sangatlah luas.
Dan saat itu, ketika dia menoleh ke arah taman, Jade sedang duduk di sana, mata mereka bertemu. Ekspresi di wajahnya menunjukkan keterkejutan. Dengan refleks memalingkan wajahnya mengindari tatapan Jade ---yang seperti biasa meneliti dengan seksama--. Bagi Jade, itu adalah pemandangan biasa. Dia memang sengaja memandang wajah setiap wanita paruh baya yang lewat dari taman itu. Tak satu pun dari mereka terlewat. Namun tidak ada tanda-tanda bahwa dia mengenal salah satu dari mereka. Seperti yang dia katakan, dia sama sekali tidak mengingat wajah wanita itu.
Aku terbenam dalam analisaku. Denise Kim... Seorang wanita keturunan Perancis Korea. Prancis? Kemudian ku tatap wajah Jade dengan seksama. Jade? Apa mungkin?
Dengan sigap aku search nama Denise Kim di internet. Dengan cepat, foto-fotonya muncul di halaman pencarianku, sangat banyak. Wajar saja, bisa dibilang, dia adalah selebriti dari kalangan keluarga kaya. Aku mulai periksa satu persatu. Secara sekilas, aku melihat kecantikan yang ada pada diri Jade dalam dirinya. Tapi tidak persis sama. Mata, hidung, bibir mereka tidak mirip. Beda versi. Mungkin kulitnya? Tidak juga. Tipe kulit Jade jauh lebih putih. Tapi secara sekilas, kecantikan mereka sedikit cocok. Tapi aku tidak bisa menyimpulkan hanya karena mereka sama-sama cantik. Aku kembali mencari dengan kata kunci berbeda, Denise Kim di masa mudanya. Tidak jauh berbeda. Dia sama sekali tidak mengubah wajahnya sedikit pun, yang berarti, itu adalah wajah aslinya.
Aku menghela nafas. Iya lah, mana mungkin semudah itu. Tapi setidaknya aku punya sesuatu untuk diselidiki. Dari pada tidak sama sekali.
__ADS_1
...
"Peluk dong..." Ku rentangkan tanganku. Karena dia tidak bergerak sama sekali untuk menyentuhku. Dia mengikuti kebiasaanku ketika pulang, aku tidak akan menyentuhnya sebelum membersihkan tubuhku.
"Tumben?" Dia penasaran. Namun tidak ku jawab. Aku mendekat dan memeluk tubuhnya. Ku cium wangi tubuh dan rambutnya yang tidak pernah absen. Yang membuat aku selalu rindu untuk pulang. Satu-satunya wangi yang ingin ku hirup, dari tubuh Jade --tanpa Moon--. Entah bagaimana caranya, Jade tidak pernah lupa untuk merawat dirinya, seperti tanpa effort. Aku tidak pernah melihat dia misuh bicara tentang perawatan tubuh dan alat make-up, tapi dia selalu kelihatan cantik, rapi, bersih dan wangi. Ku hirup wangi rambutnya dalam-dalam.
"Aku kangen... Apa kabar di rumah?" Dia tergelak, aku yakin dia pasti senang. Butuh waktu beberapa saat untuk menghabiskan tawa senangnya baru kemudian dia memberi jawaban.
"Aku juga rindu. Kami baik-baik saja..." Maksudnya para pengawal lainnya yang berjaga di sana. Dia tau. Bukan hanya Drey.
"Biarin. Pokoknya aku rindu. Sudah tidak sabar ingin peluk kamu." Dia kembali tergelak tawa. Sama sekali tidak menunjukkan padaku bahwa tadi siang dia benar-benar galau, duduk sendirian di taman gereja. Begitu bertemu denganku, dia bisa berubah menjadi sebahagia itu. Aku berharap dia sedang tidak pura-pura. Bahwa dia memang benar-benar bahagia ketika bersama denganku dan melupakan semua galau hatinya. Jika iya, aku harus memuji diri. Seorang Earnest mampu membuat dia melupakan dukanya. Perlahan dia melepaskan diri dari pelukanku. Menatap wajahku dengan mata berbinar-binar. Tidak seperti biasanya. Ku balas ekspresi itu dengan senyum yang tidak kalah manis, sambil menunggu, ada apa dibalik wajah senang itu.
"Kenapa sayang? Ada kabar baik?" Dia menganggukkan kepala dengan cepat.
__ADS_1
"Aku menunggumu untuk membaca cerita yang ku tulis. Ada beberapa yang baru. Aku tidak sabar mendengar darimu, apakah aku mengalami kemajuan?" Ku cium bibirnya. Aku tidak bisa membiarkan wajahnya yang menggemaskan itu begitu saja. Dia tertawa.
"Oke. Aku akan baca. Tapi ada hal mendadak yang harus ku urus malam ini juga, jadi aku harus ke kantor untuk rapat. Aku datang agar kita bisa makan malam bersama. Tapi don't worry. Aku pulang kok. Setelah rapat, aku pulang. Aku usahakan bisa selesai dengan cepat."
"Harusnya bisa tadi langssung ke kantor kan? Nggak harus ke sini dulu. Nggak capek?"
"Nggak sayang. Untuk kamu, aku nggak ada capek-capeknya..." Wajahnya semakin sumringah. Dia berjinjit dan mencium bibirku.
"Terima kasih. Jadinya aku nggak makan bersama Drey lagi malam ini..." Aku membelalak. Tidak terima. Namun dia tertawa.
"Aku benar-benar tidak senang mendengar ini..." Aku mengeluh. Dia malah makin tertawa. Setiap kali aku pergi dan meninggalkan Drey bersamanya, dia akan selalu mengajak Drey makan. Karena dia kasihan kalau-kalau Drey jadi tidak maka karena harus selalu stand-by. Dia hanya cekikikan meresponku.
Dengan cepat, aku mengolah bahan-bahan yang sudah ada di dalam kulkas. Untuk saat-saat khusus, aku akan menyempatkan diri untuk memasak. Oh iya, Jade sama sekali tidak bisa memasak. Dia bilang begitu. Aku percaya. Dan sama sekali tidak pernah ingin memintanya untuk bisa memasak. Seoarang chef datang ke rumah jika dia atau kami ingin makan di rumah. Sisanya, kami pergi makan keluar atau aku yang memasak.
__ADS_1
Begitu selesai makan, aku meninggalkannya. Memintanya untuk lanjut menulis atau langsung tidur jika sudah mengantuk. Namun dia lebih memilih untuk merapikan teh yang ku bawa. Sudah saatnya untuk me-restock Cinese tea kesukaan kami. Ku sempatkan untuk membeli beberapa jenis sekaligus dengan beberapa tea-set yang cantik dan lucu. Kelihatannya dia suka. Dia berkata akan menungguku agar kami bisa menikmati teh bersama sebelum tidur malam itu.