Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
Cinta Sebenarnya


__ADS_3

Dia bercerita betapa dia mencintai wanita itu. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama ketika bertemu dalam sebuah acara yang diadakan oleh gereja. Dia tidak pernah bahagia dengan pernikahannya yang pertama dan memutuskan untuk mengejar wanita itu. Di akhir dari cerita-ceritanya, dia tidak pernah lupa memberitahu bahwa dia adalah papaku. Karena aku adalah putri wanita itu, maka aku adalah putrinya juga dan memintaku untuk memanggilnya papa.


Dia selalu membawa hadiah. Dia bawa apa saja yang dia mau. Sampai aku bingung, untuk apa semua itu? Aku tidak butuh apa-apa. Wanita itu menempatkan semua di sebuah lemari pajangan di sisi lain di kamarku. Dia pernah membawakan tas dan dompet, untuk hadiah ulang tahunku. Untuk apa? Aku tidak pernah memiliki rasa keterikatan pada istilah dan hal-hal ulang tahun. Aku bahkan tidak pernah mendengar istilah seperti itu ada setelah Clara meninggal. Dan ketika itu, aku masih belum paham apa arti lilin di atas cake dan meniupnya. Dan apa arti masakan khas Korea, sup rumput laut yang terhidangan di atas meja. Yang aku tahu, aku lahir dan aku ada, itu saja! Mengapa aku harus senang tentang itu? Kemudian, setiap kali dia akan pulang, dia memasukkan sejumlah uang ke dalam dompet itu, dengan mengatakan bahwa aku akan membutuhkannya nanti. Gadis seusiaku harusnya pergi hang-out, shopping, makan direstoran dan bersenang-senang. Untuk melakukan itu semua, aku membutuhkan uang itu. Jika dia sedang bersama wanita itu, dia akan menimpali, bahwa aku mungkin akan memerlukan kartu untuk bisa melakukan semua itu. Mereka tertawa dan dia berjanji akan memberi sebuah kartu dengan limit tidak terbatas segera setelah aku ingin melakukan hal-hal menyenangkan itu. Entahlah. Aku pun bertanya-tanya, akankah waktu itu akan tiba?


90% perhatianku tertuju pada Earnest. Dia membuatku berpikir tentang dia setiap detik. Mengingatkan aku kembali, apa itu cinta. Separuh diriku pesimis bahwa cintanya hanya sementara. Tidak lama lagi dia juga akan pergi. Namun separuh diriku terus mengatakan menunggu dan melihat, sampai kapan dia akan bertahan. Pria itu sangat sempurna, dia tampan, baik hati dan penuh hormat. Aku penasaran jika dia punya wanita lain di luar sana, yang cukup waras untuk menemaninya seumur hidup? Mengapa dia datang dengan rajin mengunjungiku setiap weekend? Sesungguhnya aku gelisah di antara banyak pertanyaan itu.

__ADS_1


Pada awalnya, aku menganggap kedatangannya sebagai bagian dari rasa tanggung jawab saja. Karena dia adalah pria yang baik dan bertanggung-jawab, tentu saja dia tetap ada di sana untuk menunjukkan rasa simpati. Dia tidak mungkin pergi begitu saja setelah apa yang terjadi padaku. Aku mencoba untuk berdiri di posisinya dan berpikir berdasarkan perspektifku. Dia tidak mungkin, akan pernah menginginkanku lagi sebagai seorang wanita setelah dia tau tentang masa laluku yang kelam. Siapa yang menginginkan seseorang yang pernah minum darah manusia, memakan daging manusia, ditambah lagi, yang pernah menjadi pecandu narkoba? Dan agar lengkap, seorang putri iblis pula. Jika aku jadi dia, aku akan segera melarikan diri. Tepat setelah wanita itu, yang katanya mamaku mengambil seluruh tanggung jawab hidupku, dia seharusnya pergi.


Namun seiring berjalannya waktu, aku akhirnya mencoba untuk mengerti. Mungkinkah itu cinta?


Dia tidak pernah, sekali pun lupa mengisi jadwalnya untuk menemaniku. Dia datang dengan tepat waktu dan berdandan dengan rapi. Aku tidak bisa menyangkal fakta betapa tampannya dia. Tapi apa gunanya? Tapi ... sebagian dari diriku, kurasa seluruh diriku, aku mengaguminya. Jantungku berdetak lebih cepat setiap hari Jumat. Dia datang di sore jelang malam hari. Setelah dia selesai dengan pekerjaannya selama seminggu. Dia hampir selalu  membawa buku dan membacakannya untukku. Terkadang hanya ngobrol tentang pekerjaannya, jadwalnya dan momen lucu yang dia alami bersama anggota bandnya setelah melakukan acara TV. Kadang dia membawa beberapa barang bagus saat dia datang dari luar negeri, selain buku. Tas, dompet, dress dan perhiasan-perhiasan. Kemudian dia akan mengambil waktu untuk mengatur mereka semua di lemari pajangan dan di lemari pakaian. Dia tidak lupa menciumku sebelum pulang.

__ADS_1


Jumat sore. Pukul 6. Aku sudah beres-beres dan siap menunggu dia. Aku berdiri di dekat jendela menunggu gerbang terbuka dan sebentar lagi mobilnya akan datang. Dia akan bicara dengan nanny sebentar tentang kabarku dan datang ke kamarku, mencium kepalaku dan mulai bicara. Tapi dia tidak muncul. Aku terus menunggu, sampai jam 7 malam. Tetap tidak muncul. Aku terus menatap ke luar jendela, ke arah gerbang, berharap, apakah mungkin dia terlambat? Tapi sudah terlalu lama, dia belum juga datang. Aku merasakan takut yang luar biasa. Mulai menangis dan tangisanku berubah kencang setiap jarum jam berdetak. Akankah dia akhirnya meninggalkanku? Lihat kan? Dia pasti tidak mencintaiku. Dia akhirnya lelah dan berhenti. Masuk akal, dia pasti merasa lelah. Apa mungkin dia telah menemukan seseorang yang sempurna untuknya?


Aku akhirnya menjerit-jerit ketakutan. Terus menangis sambil tetap melihat jam, menatap keluar jendela hingga  akhirnya wanita itu datang dan menenangkanku. Dia memelukku. Tapi aku tidak bisa berhenti menangis.


"Mama sudah mencoba menelpon Jade. Sabar ya, kita tunggu. Mungkin pesawatnya delay. Tau kan? Dia ada di Jepang sekarang. Kita tunggu saja, dia pasti datang, oke?" Dia terus membujukku. Aku sangat berharap begitu adanya. Please, mau delay atau apa pun itu, tolong datang malam ini. Aku tidak henti-henti memohon dalam hati. Akhirnya aku tertidur di pelukannya.

__ADS_1


Tak lama, aku segera bangun. Ku lihat jam, sudah jam 10. Tapi dia belum datang juga. Aku sangat lemah dan hanya bisa terisak sedih. Ketakutan menyelimuti jiwaku. Apakah kau benar-benar melakukan ini padaku? Kau tidak akan datang lagi? Aku meratap.


Kemudian ada suara beberapa orang bicara di lantai bawah. Itu dia! Suara Earnest. Dia bicara dengan nanny.  Ku pejamkan mata. Dia harus menemukanku sedang tidur. Tiba-tiba aku sangat senang. Hanya mendengar suaranya dan tau bahwa dia akhirnya datang sudah cukup. Aku bisa tidur dengan tenang. Ku dengar langkah kakinya mendekati pintu dan membuka pintu dengan pelan, hampir tidak kedengaran, selalu begitu. Dan menutupnya dengan cara yang sama. Aku mencium aromanya dari jauh. Benar, dia adalah Earnest. Dia pasti  langsung dari bandara. Bau parfumnya adalah campuran dari keringat sepanjang hari dan bau AC mobil. Dia  mendekat, perlahan menyentuh pipiku dan merapikan selimutku. Kemudian duduk di tepi tempat tidur, di sampingku. Tidak menyalakan lampu seperti biasa, yang berarti dia tidak akan membacakan buku. Mungkin dia akan tinggal selama beberapa menit dan pergi.


__ADS_2