Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
Baru Permulaan


__ADS_3

“Kau benar-benar sakit jiwa! Sebaiknya kau berkunjung ke dokter jiwa sesegera mungkin. Periksakan dirimu. Keadaanmu sudah sangat akut. Sebagai orang yang mengenalmu dengan baik, aku harus merujukmu ke psikiater, kau sakit mental. Kau harusnya sadar bahwa apa yang kau lakukan itu sudah kelewat batas. Masih saja kau bertindak seolah-olah kau benar setelah melakukan semua ini? Serahkan dirimu ke kantor polisi, atau aku yang akan melaporkanmu sekarang!”


“Jangan berani-beraninya kau Earnest! Apakah kau pikir kau bisa melakukan sesuatu untuk menghancurkan aku? Sebaiknya kau pulang ke negaramu, kamu bahkan bukan orang sini, masih berani mengancamku!” Dia benar-benar sakit jiwa!


"Dengar Gaia Kim! Aku sangat serius sekarang ini. Ingat dengan baik kata-kataku. Kau sebaiknya memikirkan cara untuk bertobat. Serahkan dirimu ke polisi atau pikirkan sesuatu yang legal untuk menebus dosa-dosamu. Jika tidak, aku yang akan melakukannya. Kau sangat bodoh jika kau berpikir aku tidak bisa melakukan apa pun untuk menghancurkanmu. Kau tidak mengenalku dengan baik. Kau pikir aku tidak tau tentang semua tindakan jahat yang berusaha kau kubur dengan bantuan papamu? Aku akan pastikan papamu ikut terlibat dalam hal ini. Mari kita lihat bagaimana citra keluargamu akan hancur setelah ini. Sekarang keluar kau dari ruangan ini. Kau sebaiknya patuh dan bersikap baik. Serahkan semua urusan administrasi kepadaku. Pergi dari sini!" Ku keluarkan semua kartu yang ku simpan.


Aku serius akan melakukan sesuai dengan apa yang ku ucapkan jika dia berani bertingkah. Matanya berkobar dengan amarah. Tapi dia tau, untuk saat itu dia harus patuh. Dia harusnya tau bahwa Earnest Lee tidak pernah main-main dengan perkataannya. Dia pergi sambil mendengus marah. Tipikal Gaia Kim yang tidak boleh kalah dalam hal apa pun. Aku bahkan tidak bisa hitung lagi seberapa sering dia menyalahgunakan kekuasaan dan kekayaan keluarganya untuk menindas orang yang tidak dia sukai. Bahkan pernah hampir menghiilangkan nyawa. Dia hanya beruntung karena papanya bisa menggunakan segala cara untuk menyelamatkan dia dari jerat hukum. Tapi tidak jika itu berkatian denganku. Dia seharusnya tahu bahwa dia tidak bisa main-main dengan Earnest Lee. Aku bahkan bisa menghancurkan seluruh keluarganya.


Aku menyimpulkan bahwa kecelakaan itu sangat serius. Aku bersyukur berulang kali karena setidaknya dia masih hidup. Jade bukan orang yang lemah secara fisik. Tapi siapa pun akan hancur jika disiksa dengan cara yang begitu brutal tanpa ada niat untuk membela diri. Setelah bicara dengan dokter dan memeriksa semua hasil check-up, aku semakin geram. Beberapa tulang di bagian bahu, punggung dan lengannya patah dan dia mengalami gegar otak ringan. Dia mendapat jahitan di kulit kepala dan di beberapa bagian lain. Perban menutupi beberapa bekas luka di wajah dan lengannya.


Itulah yang terjadi pada Jade sehari setelah kami jadian, setelah dia setuju untuk memilihku dan melepas Gaia. Rasa bersalah menghantui hati nuraniku. Kemarin dia ingin mengandalkan aku untuk hidup yang wajar, namun harga yang harus dibayarnya sangat mahal. Dia hampir kehilangan nyawa. Setelah bertahun-tahun menghabiskan waktu sebagai sahabat, aku akhirnya mengutuk Gaia. Seringkali aku hanya berdiri sebagai sahabat yang peduli dan menasihatinya. Sesekali mempengaruhi dia untuk membatalkan niat buruk yang akan dia eksekusi terhadap orang-orang yang tidak dia suka. Tidak lagi. Aku bahkan berharap dia segera mendapatkan karma dari semua perbuatan buruknya. Dia sebaiknya datang dengan niat baik untuk memohon ampun dan bertobat, jika tidak aku bisa jadi orang gila yang bertekad menghancurkan hidupnya.


...


Setelah hampir seminggu, Jade bangun dari koma. Saat dia membuka mata dan menatapku adalah momen yang paling berharga yang pernah terjadi selama beberapa tahun terakhir dalam hidupku. Aku tidak henti-hentinya berdoa agar Tuhan tidak mengambil wanita ini dariku. Baru kemarin aku menghayal bahwa Tuhan khusus menciptakan dia untukku, masak baru sehari menjadi pacar sudah mau diambil? Tidak adil kan? Kami baru saja memulai kisah cinta yang indah. Aku masih ingin menikmati semua hari yang akan kami habiskan bersama.


“Jade… Terima kasih sudah bertahan. Dan aku minta maaf…” Dia tersenyum, sorot matanya sangat lovely. Bisa-bisanya dia tersenyum padahal seluruh tubuhnya mungkin masih terasa perih. Aku menahan air mata, menggigit bibirku. Dia harus tahu sekarang betapa aku mencintainya dan betapa takut aku kehilangan dia.


"Kenapa berterima kasih? Apa yang sudah ku lakukan?"


"Kau dalam keadaan begini kan karena aku..."

__ADS_1


"Bukan. Karena kau atau bukan, jika aku melepaskan diri darinya, aku tau, setidaknya hal begini pasti terjadi. Begitulah cara Gaia memandangku. Aku hanya salah satu dari miliknya yang tidak boleh disentuh oleh orang lain. Kebetulan saja, salah satu milik yang cukup berharga yang dia sukai. Dia tidak se-ide dengan kita bahwa aku juga punya free-will. Punya hak yang sama seperti dia. Sama sekali bukan salahmu..."


“Aku akan melaporkannya pada yang berwajib dan menuntutnya di pengadilan...”


"Jangan..."


"Kenapa?"


“Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kalian berdua.”


"Tapi ini tidak adil bagimu!"


"Kenapa tidak? Setelah menjalani kehidupan yang baik selama bertahun-tahun bersama dia, aku bisa menerima ini. Anggap saja bahwa aku sedang melunaskan utang budi padanya. Aku bahkan berpikir bahwa dia akan membunuhku.”


"Aku tau. Tapi dia memilihku. Siapa pun pasti bisa berada di posisi itu dan bekerja keras. Tapi dia memilihku..." Aku kehabisan kata-kata. Mencoba menyelami perasaannya dan memahami cara berpikirnya. Dari perspektifnya, yang sudah mengalami banyak hal dalam hidup sebelum bertemu Gaia, sikap Gaia padanya adalah hal yang bersifat dewa. Aku kembali mengingatkan diriku bahwa aku sedang jatuh cinta pada seorang gadis polos dan naif. Yang hanya tau bagaimana caranya untuk bisa hidup seperti kebanyakan orang. Apa yang terjadi pada masa kecilmu yang hilang itu Jade? Aku membatin. Semakin kuat alasan untuk kami segera mencari.


"Oke. Aku paham. Tapi kau harus tau, kau sangat berhak untuk diperlakukan sebagai seorang manusia. Tidak ada yang berhak menindasmu dengan alasan apa pun..." Aku menegaskan ulang. Dia kembali tersenyum dan memberiku tatapan yang sangat lembut.


“Aku membutuhkan seseorang untuk mengingatkanku setiap hari bahwa aku layak. Dengan kata-kata dan tindakan...” Katanya. Bagaimana bisa aku tidak mencintainya? Dia bijaksana. Aku mendapati bahwa dia pun sedang berusaha untuk keluar dari perspektif yang aneh itu. Dia harus segera menjadi mrs.Lee. Agar aku bisa mengingatkannya setiap saat.


“Baiklah, aku akan melakukannya setiap hari. Dan kita harus cek keadaanmu sekarang. Katakan padaku, bagaimana perasaanmu?” Dia meringis.

__ADS_1


“Jangan ditanya. Kepalaku pusing dan rasa nyeri ada di mana-mana, di seluruh tubuhku.” Tapi dia mengatakan itu sambil tersenyum meringis.


"Apa yang bisa ku bantu?"


"Tetaplah disini. Jangan tinggalkan sedetik pun. Aku takut dia akan datang lagi...”


"Oke. Aku akan di sini bersamamu. Akan ku kunci pintu itu jika aku perlu menggunakan toilet...” Dia terkekeh tapi akhirnya meringis. Luka di pipinya pasti terasa perih.


“Apakah ada cara untuk menghilangkan bekas luka di pipiku?”


“Tentu saja. Kita mampu membeli obat yang paling mahal untuk itu. Jangan khawatir..."


“Ah, baguslah. Terima kasih. Tolong bantu untuk lakukan itu. Aku butuh kulit mulus agar orang setidaknya mengagumi kecantikanku sebagai pacarmu kan? Hanya itu yang aku punya...” Aku refleks tersenyum tersipu, bahagia yang ku rasakan overload. Rasanya ingin terbang ke langit ke-tujuh hanya karena pernyataan yang dia buat.


“Gitu dong. Harus selalu tersenyum. Mari lupakan apa yang terjadi kemarin. Kita harus bahagia karena masih bisa berada dalam keadaan yang baik begini. Orang di luar sana bahkan mungkin tidak bisa berkunjung ke rumah sakit meski sedang sekarat..." Ku tatap dia penuh cinta. Baru sadar, dia sengaja mengatakan itu untuk membuatku lupa bahwa aku sangat membenci Gaia. Dia bisa dengan cepat mempengaruhi aku.


"Oke. Aku akan lakukan seperti apa katamu...” Jawabku setengah berbisik menahan emosi haru.


“Apakah ada yang tidak bisa diperbaiki lagi dari tubuhku? Maksudku, apakah aku akan sembuh total? Atau mungkin aku akan kehilangan salah satu lenganku?” Dia bertanya dengan santai. Seharusnya aku merasa miris kan? Tapi aku tersenyum, dia membantu aku untuk bisa melihat keadaan itu dari jendela yang penuh tanaman bunga warna warni.


"Semuanya baik-baik saja. Kau akan pulih dan kembali utuh. Hanya perlu waktu. Jangan khawatir..."

__ADS_1


"Kalau begitu, kita tidak punya alasan untuk sedih kan?" Dia menambahi kotbahnya.


"Iya. Tak ada alasan untuk itu. Semuanya baik-baik saja. Cepatlah sembuh...” Dia kembali tersenyum.


__ADS_2