
Sudut Pandang Earnest
Begini saja sudah cukup. Hanya kami berdua, bersama 3 orang putra dan putri kami yang sehat dan lucu-lucu. Kami menempati villa milik Jade pemberian dari papa dan mama Kim di kot Seoul. Ku jadikan rumah itu menjadi rumah utama kami. Negara dan kota lain menjadi tempat singgah sementara, untuk bekerja. Kantor pusat Earnest Corps tetap berada di Singapura, namun aku lebih banyak menghabiskan waktu di Seoul. Beberapa tahun ke depan, aku berencana akan memindahkan kantor pusat ke Seoul setelah membenahi banyak hal.
Aku akhirnya menikahi wanita pujaan hatiku, Jade Lee. Kami mengadakan pernikahan yang sangat private. Hanya dihadiri oleh papa dan mama Kim. Aku memutuskan untuk tidak melibatkan papa dan mama Lee karena keputusan mereka sudah mutlak untuk tidak menerima Jade sebagai menantu mereka bahkan ingin menjodohkan aku dengan wanita pilihan mereka. Dalam hal ini aku tau bahwa aku sudah sangat mengecewakan mereka. Namun Jade dan hidupku adalah prioritas utama. Aku memilih untuk tetap berbakti kepada mereka dengan cara yang lain. Kurang lebih 7 tahun pernikahan kami, Jade memberikan aku bayi-bayi yang cantik dan tampan. Anak pertama kami perempuan, kami panggil kakak, dan dua orang adiknya adalah bocah laki-laki yang tidak bisa diam. Rumah yang begitu luas dan besar sudah habis mereka jelajahi begitu mereka bisa berdiri dan berjalan. Aku harus menambah pasukan nanny untuk membantu Jade mengurus mereka. Jika dia sendirian, bisa-bisa dia jatuh pingsan karena lelah, tidak pernah diam dan istirahat.
Aku mengumumkan pernikahan melalui media-media dengan hormat. Menginformasikan kepada publik bahwa aku sudah menemukan separuh jiwaku dan sudah membangun rumah tangga. Meskipun urusan soal masa lalu Jade sudah terkuak dan terselesaikan secara hukum, aku masih ingin memberikan kedamaian hidup pada Jade. Dia menginginkan untuk tetap hidup dalam sunyi, tanpa publikasi, hanya tinggal di dalam istana kecil kami. Ku penuhi permintaan itu. Aku pun juga menginginkan kedamaian. Lagipula, aku tidak tau ada berapa banyak lagi manusia mirip Jade yang di luar sana. Mereka yang berhasil meloloskan diri, satu dua mulai tampak di media menjalani berbagai profesi yang mengandalkan kesempurnaan wajah dan fisik. Aku maklum. Siapa pun pasti gatal tangannya untuk mengorbitkan mereka menjadi bintang. Sayang jika kecantikan paripurna itu dibiarkan tenggelam begitu saja. Namun aku tau, hal itu tidak baik untuk istriku. Maka adalah keputusan bijkasana untuk menyembunyikan wajahnya selamanya dari publik. Aku akan menikmati wajah cantiknya sendiri saja.
Lucian Warren. Aku bertemu dengannya. Aku masih mengingat wajah yang sudah tampak mulai menua itu, meski sisa-sisa ketampanannya masih di sana. Tidak ada gurat-gurat jahat di wajahnya. Aku berjuang untuk mengingat semua kejahatan yang sudah dia lakukan dengan cara sangat tersistem agar aku tidak jatuh iba. Dari wajahnya aku menangkap, hingga saat itu pun, dia masih mengandalkan hidupnya pada obat-obatan, entah bagaimana cara mereka mendapatkannya. Aku akhirnya maklum kenapa Chanel tidak boleh bertemu dengan orang-orang sesering mungkin, karena mereka masih orang-orang yang sama yang pernah tinggal di istana neraka itu. Hanya dalam versi yang lebih miskin. Mereka berdua mengandalkan uang dari hasil kerja Chanel Travis untuk menyambung hidup.
Dia bercerita ketika pertama kali mereka direkrut untuk pengadaan proyek maksiat itu. Ada puluhan orang, namun mereka tidak saling tau siapa saja dari mereka yang lolos sampai akhir dan diberikan sebuah istana dan berapa pun jumlah uang yang mereka minta. Bagi mereka, itu bagaikan menjual diri mereka untuk mendapatkan paket ‘all you can eat’ tentang uang, dalam jumlah yang tidak terbatas. Meski akhirnya mereka tidak tau menahu apa saja yang sudah mereka kerjakan, namun ada satu kekuatan di atas sana yang mengatur sistem itu bisa berjalan dengan rapi tanpa cacat setiap hari, bertahun-tahun, dan mereka hanya perlu turut perintah.
Pada awalnya, dia merasa berjalan di atas angin. Pria normal mana di dunia ini tidak bahagia jika disuguhkan tempat mewah dengan fasilitas lengkap dan pelayang yang siap sedia selama 24 jam, dan tugas utamanya hanya tidur dengan wanita. Terlebih, wanita cantik dan sempurna, pilihan dari antara yang terbaik. Keadaan semakin buruk ketika bayi-bayi yang adalah anaknya, mulai dbagi-bagi sesuai kategori peruntukan mereka. Untuk dijual dan untuk dijadikan gundik. Ada momen dia tidak sanggup dan ingin menyerah namun sudah terlambat. Dia sedang berurusan dengan organisasi mafia terkuat di Eropa. Jika melarikan diri, taruhannya adalah mati, keluarganya akan dibantai. Jika dia memutuskan kontrak, uang penalti yang harus dibayarkannya tidak akan terkumpul bahkan jika dia mati.
__ADS_1
Dan dia memutuskan tetap lanjut. Obat-obatan yang mereka konsumsi adalah salah satu yang terbaik, mereka bisa fokus pada tugas utama saja, sisanya, mereka tetap bahagia dan tidak memiliki efek samping apa-apa jika terus dikonsumsi dalam dosis yang tepat secara berkelanjutkan. Itu sangat menolongnya melupakan hakikatnya sebagai manusia sekaligus membungkam hati nuraninya.
Sesekali, dia mengusap wajahnya yang kelihatan setengah ngantuk. Matanya cekung, sayu dan penampakan wajahnya tampak jauh lebih tua dari umurnya. Dia belum bicara bahkan setengah jam, dia sudah tampak lelah namun mulutnya terus nyerocos, menumpahkan semua yang sudah tersimpan selama puluhan tahun. Mungkin karena dia adalah manusia. Hati nuraninya masih bisa bicara, meski sudah sangat lama dibungkam. Di titik terendah dalam hidupnya, apalagi kalau bukan hati nurani? Yang menolong dia untuk bertahan, meski hanya sekedar menyesal atau pun mengutuk nasib.
Dia memandangi aku dengan seksama. Dengan yakin dia mengatakan bahwa aku bukan keturunannya. Dia menyebut sebuah nama –yang sama sekali tidak ingin ku ingat– karena aku kelihatan sangat mirip. Salah satu pria pilihan yang tidak terlalu menonjol secara fisik, namun karena IQ nya.
Ku tinggalkan rumah apartemen itu. Ku hubungi Drey untuk segera mengeksekusi rencana kami, melaporkan mereka kepada yang berwajib. Kami sudah menelusuri rangkaian proses yang akan mereka lalui selama proses penangkapan. Mahkamah hukum internasional di Indonesia akan membantu berjalannya proses itu sampai dua orang ayah anak, sekaligus suami istri itu di serahkan kepada pihak kepolisioan di Perancis.
Ku ceritakan pada Jade kisah itu. Sekaligus penutup bahwa hidupnya kini sempurna. Dia tidak perlu sembunyi karena dia tidak bersalah. Dan tidak perlu takut karena ada aku menjaganya. Dia hanya seorang manusia yang sama seperti manusia lainnya. Karena itu, aku ingin dia hidup secara wajar. Bebas pergi ke mana pun. Melakukan apa pun yang dia mau. Dan tidak perlu takut karena dunia ini adalah tempat yang aman untuk ditinggali.
Ku tarik dia dalam pelukanku. Setelah 5 hari di Beijing, aku bergegas pulang untuk mengejar waktu, berharap masih bisa melihat mereka bangun menyambutku. Namun sudah lewat tengah malam. Ketiga putra dan putriku sudah tidur nyenyak di ranjang dan kamar mereka masing-masing. Aku mendaratkan beberapa ciuman di pipi dan kening mereka. Berharap agar mereka bangun namun juga menjaga agar mereka tidak terbangun. Hahaha! Se-desperate itu aku ingin memiliki interaksi yang hidup dengan mereka.
Yang terakhir adala istriku. Ku rebahkan tubuhku di sebelahnya dan menarik tubuhnya ke pelukanku. Kalau yang ini, aku sangat berharap bahwa dia akan terbangun. Ku cium keningnya. Dia bergerak, tangannya merangkul pinggangku.
__ADS_1
“Daddy…?” Aku senangnya bukan main. Dia bangun.
“Iya sayang, aku pulang. Maaf terlambat…”
“No problem… Perlu aku siapin makanan atau minum?”
“Nggak perlu. Besok aja sarapan bersama. Ayo tidur lagi…” Dia bergerak melepaskan pelukannya dan mengecup bibirku. Lalu kembali ke pelukanku.
“Kami rindu daddy… Terima kasih sudah pulang dengan selamat. I love you…”
“I love you sayang…”
—Tamat—
__ADS_1