Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
Denise Varon


__ADS_3

Aku pun tidak malu-malu. Toh, dulu pun aku selalu bersikap santai berada di rumah mereka ketika berkunjung.


"Apakah boleh sarapan saja tante? Dan bolehkan saya mengajak teman untuk bergabung?" Aku menerima tawaran itu. Makan pagi bersama Drey di sana pasti akan membuat percakapan kami berjalan dengan formal. Aku butuh waktu lebih lama untuk membaca situasi. Mungkin selama makan, aku akan menemukan beberapa clue untuk bisa menang, jika itu adalah perang. Entah kenapa, dia memang tidak tampak berbahaya, tapi di mataku di adalah orang jahat. Jika bukan jahat apa namanya? Dia tega hidup dengan enak dan tenang sementara di luar sana, ada seorang anak sebatang kara yang kehilangan banyak hal termasuk jati dirinya. Aku memutuskan untuk tetap waspada.


"Tentu saja. Ayo, panggil dia." Aku menelepon Drey untuk masuk sambil mengikuti langkahnya menuju meja makan. Ku perhatikan sekeliling. Dan bertanya-tanya apakah tempat ini biasanya ditempati. Karena rumah tinggal mereka berbeda, rumah yang dulu sering ku kunjungi. Karena tidak ada desas desus tentang hubungan mereka, aku menyimpulkan rumah itu tidak ditempati. Dia pasti tinggal di rumah mereka. Tidak mungkin mereka tinggal terpisah. Tapi entahlah.


"Tante dapat izin dari om untuk menempati rumah ini sebulan sekali. Anggap saja seperti liburan. Sambil menunggu seseorang untuk pulang dan tinggal di sini. Rumah ini adalah permintaan tante, satu-satunya benda berharga yang sah tante miliki. Dan ini cukup. Toh orang mati tidak akan bawa apa-apa ke dalam kubur. Jadi ini saja cukup. Apa penjelasan tante bisa menjawab rasa penasaranmu?" Dia menatapku dengan senyuman anggun dan elegan yang tidak pernah meninggalkan wajahnya. Sepertinya dia paham arti kerutan di wajahku, laksana pertanyaan-pertanyaan yang bergelantungan minta dijawab.


"Oh, begitu. Aku memang penasaran Tante, maaf..." Jawabku. Dia tersenyum lagi.


"Beberapa pekerja mengurus rumah ini dengan rutin. Mereka mengatur agar rumah ini seolah-olah ada yang menempati. Setiap kali tante berkunjung, semuanya siap sebagaimana sebuah rumah. Jika ada beberapa bagian yang masih kosong dan lapang, menunggu penghuni barunya masuk dan memutuskan akan di dekor seperti apa..." Dia berkata sambil menerawang melihat sekeliling. Aku penasaran, siapa penghuni itu? Namun ku putuskan tidak bertanya. Tampaknya terlalu personal.

__ADS_1


Drey datang, kami duduk menghadap makanan yang sudah terhidang di atas meja. Khas sajian hidangan keluarga Kim, jumlah banyak dan macam-macam. Menyiratkan bahwa mereka berkelimpahan dan tidak ingin kelihatan kekurangan. Apa saja yang mereka ingin makan ada di sana.


Kami pun menikmati sarapan dengan menu lengkap. Acara makan itu berlangsung hening. Kami bahkan tidak bicara. Dalam damai itu, aku memanfaatkan waktu ku dengan baik untuk belajar tentang situasi itu.


Kemudian kami kembali ke sofa, menghadap hidangan teh. Drey kembali ke posisi berjaga-jaga.


"Earnest... Sekarang kau boleh bertanya apa saja. Akan tante jawab sebaik mungkin. Tapi ada satu permintaan. Biarkan Jade berada dalam kegelapan selamanya..." Aku tertegun. Tidak menduga pernyataan yang dia keluarkan langsung to the point. Apa-apaan ini? Semudah itu? Berarti dugaanku benar! Amarahku menggelegak. Dia benar-benar perempuan jahat. Aku sudah susah payah mengatur kalimat untuk mewawancarainya dengan benar agar mendapatkan informasi yang ku inginkan. Dia malah memulai, dengan segamblang itu.


"Tante sangat berterima kasih padamu. Kau tidak bisa bayangkan betapa senangnya tante karena Jade bertemu dengan seorang pria sepertimu. Tapi bukan begini yang tante mau Earnest. Tante tidak ingin kamu membawa Jade ke masa lalunya. Apakah dia yang menginginkan ini?" Ingin rasanya mengumpat. Dia bicara seolah-olah kami sudah pernah cerita tentang ini dan aku tau apa yang dia tau. Bukankah seharusnya dimulai dengan pendahuluan dulu?


Aku mencoba mengendalikan diri. Ratusan pertanyaan membombardir pikiranku dan aku tidak tahu mana yang harus kukatakan terlebih dahulu. Emosiku campur aduk. Sangat marah. Bisa-bisanya dia bicara setenang itu setelah semua yang terjadi pada Jade? Tapi tenang Earnest. Pasti ada sesuatu yang tidak kau ketahui. Tenang. Aku mencoba menenangkan diri. Mengikuti apa maunya dia.

__ADS_1


"Benar tante. Jade minta bantuan dariku."


"Seberapa jauh kau dapatkan informasi itu? Bukan. Biarkan tante menanyakan ini terlebih dahulu. Apakah kau mencintai dia?" Aku tidak bisa membendung amarahku. Dia bicara seolah-olah punya hak untuk meng-interupsi kehidupan Jade.


"Mengapa aku harus menjawab pertanyaan tante? Ada hubungan apa tante dengan Jade?" Suaraku meninggi. Dia terlihat emosional namun berhasil tetap tenang. Meski air matanya pecah.


"Kau benar. Tante sama sekali tidak punya hak untuk tau tentang dia kan?" Dia menghabiskan beberap saat untuk berusaha menghentikan tangisannya. Iya, sama sekali tidak berhak. Aku menggumam dalam hati.


"Jade memintaku untuk menyelidiki masa lalunya terlebih dahulu sebelum menjawab lamaranku. Itu adalah satu-satunya hal yang dia inginkan terjadi, untuk menemukan siapa dia. Dia lupa segala sesuatu sampai dia berusia 10 tahun. Hari dimana dia ditinggal sendirian di taman gereja. Tapi tante harus tau. Keadaannya semakin memburuk. Ada yang tidak beres dengan Jade dan aku tidak tau bagaimana menggambarkannya. Aku sedang mencoba menaruh potongan-potongan praduga dan membentuk sebuah cerita, namun tidak yakin jika itu nyata atau tidak. Dia memutuskan menulis cerita setelah berhenti dari pekerjaannya. Panjang ceritanya, jika tante ingin tau bisa tanya pada Gaia, apa yang sudah terjadi..." Dia tidak tampak terkejut. Itu membuat aku semakin yakin bahwa dia lah yang memasukkan Jade untuk bekerja di Gaia Wear. Dia hanya menatapku dengan sesekali berusaha meredakan tangisnya.


"Cerita-cerita yang dituliskan oleh Jade sungguh menyeramkan. Sepotong-sepotong kisah yang ditulis berulang-ulang dalam berbagai versi, dan tidak satu pun dari cerita itu berawal dan berujung. Satu pun tidak selesai. Aku bisa melihat bahwa dia sendiri pun kebingungan. Yang ada hanyalah hasrat yang menggebu-gebu untuk menuangkan cerita yang sama berkali-kali. Tanpa disadarinya, perilaku itu bukan suatu hal yang wajar. Sejauh ini ada 19 cerita. Tentang anak-anak dalam sebuah kerajaan, dibantai, ada raja, malaikat putih, malaikat hitam dan lain-lain. Tante pasti tahu, dia lebih sering mengunjungi taman gereja itu akhir-akhir ini. Sebuah dorongan yang sangat kuat ada dalam dirinya untuk menemukan sesuatu. Tetapi di saat yang bersamaan, dia sangat ketakutan, seolah-olah kisah dibalik misteri hidupnya yang hilang adalah sesuatu yang sangat mengerikan. Dia sangat gelisah. Makan dan tidurnya terganggu. Kami bahkan mengunjungi dokter untuk mendapatkan pill tidur..." Aku membaca sedih dan duka di air mukanya. Begitu kah roman seorang ibu yang sudah menelantarkan anaknya? Jika dia sedih, kenapa sekarang? Ada apa dibalik sikap yang tidak punya hati itu?

__ADS_1


"Apa yang terjadi tante? Apa hubungan kalian berdua? Dan mengapa laporan DNA itu ditarik?" Tangisannya malah makin menjadi-jadi.


__ADS_2