Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Sudut Pandang Jade


"Aku mencintaimu..." Aku tidak bisa menahan kata-kata itu lagi. Keluar begitu saja dari mulutku. Dia harus tau sekarang. Aku tidak bisa menunggu waktu lagi untuk mengatakannya. Sorot mata itu terpaku, kemudian terharu. Matanya berkaca-kaca.


"Aku mencintaimu..." Dia berbisik membalas ucapanku dan menghujani wajahku dengan ciuman sampai aku tertawa kegelian. Dalam waktu yang singkat itu, aku merasakan kedamaian hati yang luar biasa. Beban yang ku bentuk sendiri dalam bentuk dugaan-dugaan salah dan selama ini ku jaga dalam hatiku, lepas dan hilang. Aku menemukan, hubungan antara dua orang memang harus dijaga dengan bekerja sama. Semua praduga yang ku simpan bisa hilang begitu saja karena kepercayaan yang dengan kerja keras dia berusaha wujudkan dengan kesetiaan. Diperlukan sebuah sikap hati yang mau percaya, menyambut dan membalas dengan frekuensi yang sama. Jika bisa, lebih dari yang diberikannya. Mungkin sudah giliranku untuk mencurahkan semua cinta yang dia mau. Aku tidak akan menyia-nyiakan pria ini. Pria yang mungkin tidak akan bisa ku temukan lagi di belahan dunia mana pun.


Dia tertidur segera setelah itu. Dia mengalami jet-leg dan kelihatan lelah. Aku menghabiskan satu jam hanya menikmati wajahnya, pemandangan terindah dari tempat terindah apa pun di dunia ini. Wajah kelihatan damai. Dia adalah malaikat yang sebenarnya yang dikirim kepadaku dan menyelamatkan aku. Janji dan tekad terucap dari bibirku, tidak akan pernah membiarkan dia menderita karena aku lagi. Aku akan memenuhi semua permintaannya. Menikah dan siap jika dia ingin membawaku ke mana saja dia mau. Bahkan jika dia menginginkan bayi kami, aku akan berjuang mewujudkan impian itu. Dari semua orang yang ada dalam hidupku saat ini, dia adalah tempat yang paling bisa ku andalakan untuk bergantung, aku akan mengandalkannya dalam keadaan apa pun. Ku cium pipinya sebelum aku tertidur.


Sudah lewat waktu sarapan dan makan siang, dia masih tidur. Aku sudah selesai melakukan rutinitas harian termasuk membaca buku yang belum selesai yang biasanya dibacakan wanita itu untukku. Dia tidak datang hari ini, mungkin karena Earnest ada di sini. Jadi ku lanjutkan saja membaca sendiri. Mungkin setelah ini, aku tidak akan membutuhkan siapa pun lagi untuk membacakan buku untukku. Banyak hal lainnya, aku akan melakukannya sendiri. Earnest harus bangga punya kekasih yang bisa diandalkan dalam segala hal. Waktu untuk berdiam dalam gelap dan bisu sudah selesai. Sudah saatnya mengibaskan semua memori itu dan memulai hidupku yang baru.


Setelah merenung agak lama, aku bertanya-tanya, apakah aku akan memanggilnya mama? Ibu? Atau apakah  dengan cara Korea? Tapi kenapa rasanya sangat aneh? Ada yang mengganjal di sudut hatiku. Sangat sulit untuk mengatakan kata itu. Ku coba praktikkan sendiri pun masih terasa janggal, apalagi jika aku harus mengatakan kata itu di depannya. Tenang Jade. Masih ada waktu. Latihan terus, pasti bisa. 


Dan bagaimana dengan suaminya? Dia memang menyebut dirinya papaku. Haruskah ku panggil papa? Namun sama saja, rasanya sangat aneh. Apakah dengan begitu aku menjadi saudara dengan Gaia? Ah, lebih aneh lagi. Aku tidak bisa mengidentifikasi perasaan apa yang sedang ku rasakan. Berbagai macam emosi baru berkecamuk dalam benakku.


Tapi aku tidak sabar ingin menuntaskan semua yang sedang nanggung. Aku tidak bisa selamanya bisu dan tidak bicara pada mereka. Dan untuk bicara dengan mereka, aku harus punya panggilan yang seharusnya. Aku harus bicara dengan Earnest. Dia mungkin punya ide tentang bagaimana hal-hal itu harus dilakukan. Dia pasti bisa mengajariku karena memanggil papa atau mama adalah hal yang biasa baginya. Aku harus berdamai dengan semua orang agar aku bisa melanjutkan hidupku ke fase selanjutnya. Jika aku memikirkan tentang menikah dan punya bayi, aku sudah seharusnya hidup dengan baik dengan semua orang kan? Harus. Aku pikir aku tidak  akan pernah bisa berpisah dengan Earnest lagi.


Kupandangi wajahnya yang masih tidur lelap. Dia bahkan belum makan pagi dan siang. Wajar saja, dia terbang dari tempat yang sangat jauh setelah mengerjakan banyak hal. Belum lagi jet lag yang dialaminya dari perjalanan itu. Aku mencuri ciuman sesekali, selembut yang aku bisa, agar dia tidak terbangun karena sentuhanku. Tapi ku tunggu-tunggu, sudah hampir jam makan malam. Dia tidak seharusnya melewatkan yang itu. Makan malam dulu kemudian tidur lagi, aku berencana menyarankan begitu. Ku sentuh pipinya dengan telunjukku.


"Daddy…" Panggilku dengan berbisik.

__ADS_1


"Bangun..." Sambil menowel pipinya. Tapi dia tidak bergerak sama sekali. Ku cium pipinya sekali lagi.


"Ayo bangun dulu, makan malam, terus nanti bisa tidur lagi. Kau sudah melewatkan 2 kali makan untuk hari ini. Tidak bagus. Ayo daddy, bangun…" Dia akhirnya bergerak, mendengus tawa dan membawaku ke pelukannya.


"Mmm… Tunggu dulu, kira-kira 5 menit, tetap seperti ini sayang. Bisakah aku mendengar panggilan itu lagi?" Dia menggumam masih dengan suara tidur.


"Daddy?" Ku panggil dengan semesra mungkin. Dia terkekeh.


"Ah… Aku merasa sangat baik sekarang. Caramu membangunkanku adalah yang terbaik. Lagi dong…" Bisiknya.


"Daddy…" Ku ulangi dengan nada yang sama.


"Nah begitu. Tau kan? Aku sudah kehilangan kata itu selama 470 hari menunggumu. Ayo, katakan lagi, kalau bisa ratusan kali..." Aku cekikikan dan berhenti. Berusaha melepaskan tubuhku dari pelukannya. Dia ngawur.


"Nggak mau ah. Itu kebanyakan..."


"Biarin. Salah sendiri, kenapa lupa kemarin-kemarin bilang begitu. Aku nggak akan bangun nih. Aku bisa tidur sampai besok loh..." Dia mengancam.


"Daddy…" Aku merengek dan mencubit bagian tubuhnya yang bisa kugapai dengan tanganku. Dia tertawa dan mencium ubun-ubunku.

__ADS_1


"Oke deh. Aku bangun sekarang. Tapi mandi dulu... Ada menu apa untuk makan malam?" Masih memeluk tubuhku erat.


"Mmm... Ada sup daging sapi, ikan panggang, sup sayuran dan hidangan pendamping lainnya. Daddi kan harus makan sehat dan enak, biar cepat kembali energinya. Atau apakah daddy kepingin makan hidangan tertentu? Biar aku lapor ke chef sekarang, bisa disiapkan selama daddy mandi..."


"Aku suka semua yang kau sebutkan sayang. Tapi tunggu, siapa yang menentukan menunya?"


"Aku minta..."


"Ngomong ke siapa?"


"Nanny..." Dia memelukku semakin erat dan mencium ubun-ubunku.


"Bagus sayang. Sejak kapan sudah ngomong sama nanny?"


"Sejak tadi pagi..." Aku menjawab sambil cekikikan senag. Aku bangga mendapatkan pujian.


"Keren. Terus nanny bilang apa? Dia pasti terkejut..."


"Sedikit. Terus menangis dan memelukku... Bilang, senang karena aku ngomong."

__ADS_1


"Good job sayang... Kekasih hatiku ini memang keren. Lihat kan? Kami semua menunggu-nunggu saat ini. Aku menduga bahwa mama Kim pasti sudan mendengar berita ini sekarang. Aku belum periksa ponselku, bisa jadi dai menelepon..."


"Haruskah ku panggil mama?" Aku mencetuskan tanya itu. Dia melonggarkan pelukannya dan menatap wajahku, mengamati wajahku dengan seksama.


__ADS_2