
“Apa yang kalian inginkan melalui database itu?”
“Entahlah. Sejauh ini, tidak ada hal yang penting yang bisa saya dapatkan dengan mengetahui apa pun dari file-file itu. Hanya sekedar tau dan cukup.”
“Kenapa kalian harus mencari-cari orang yang hilang dari istana itu jika tidak ada hal penting yang bisa kalian dapatkan?”
“Hanya sekedar memastikan letak keberadaan kita semua ada di mana. Mungkin ada alasan dibalik itu. Namun saya tidak bisa tau sampai ke sana.”
“Apakah kalian masih dalam tahap mencari-cari atau apakah semua sudah ditemukan?”
“Bukan kami. Saya tidak terlibat. Mereka…” Aku memicingkan mata. Mereka?
“Siapa yang kau maksudkan dengan mereka? Bukankah jika anda bisa mengakses database berarti anda adalah salah satu dari mereka?”
“Saya punya cara. Dan saya bukan salah satu bagian dari mereka. Dan saya pikir, pembicaraan ini cukup sampai di sini saja. Apakah ada hal yang perlu saya ketahui lagi? Atau kenapa saya harus hadir dalam rapat ini?” Ya ada lah. Tapi aku bingung, bagaimana cara mengatakannya?
“Pertama, saya ingin memastikan dugaan-dugaan saya. Ternyata benar, saya bahkan tidak perlu bertanya. Anda mengakuinya dengan terus terang. Kedua, saya ingin tau bagaimana caranya anda bisa di sini sekarang. Bukankah seharusnya anda berada di tempat itu? Di mana semua anak perempuan berkumpul, seperti yang anda katakan tadi…” Aku belum selesai bicara, dia sudah memicingkan mata. Aku terdiam, berusaha menelusuri kembali kata-kata yang telah ku ucapkan. Apa aku salah bicara?
__ADS_1
“Anda bertanya kenapa saya ada di sini sekarang seolah-olah tau bahwa saya seharusnya tidak di sini sekarang. Bagaimana anda bisa tau?” Dia bertanya dengan tenang namun dengan sorot mata yang tajam. Argh! Aku terjebak dalam tanyaku sendiri. Jika ku katakan aku ingin menelusuri kembali asal usulku, akan ketahuan bahwa aku melanggar kontrak. Aku memutar otak, menemukan alasan dengan cepat agar tidak menumbulkan kecurigaan tentang Jade.
“Bukan begitu maksud saya. Pertanyaan saya mengarah kepada, kenapa datang ke Indonesia. Seharusnya Paris adalah tempat yang ideal untuk hidup. Apalagi, pasti sulit beradaptasi dengan tempat yang baru. Belajar budaya dan bahasa yang baru. Dan membaur dengan orang-orang yang punya kebiasaan berbeda dengan anda…” Ah, selamat. Semoga dia mengerti maksudku. Dia masih menatapku dengan penuh tanda tanya, tidak langsung menjawab. Kecurigaannya masih di sana, namun berusaha ditepis. Ekspresi wajahnya kembali berubah tenang.
“Anda harusnya sudah membaca profil diri saya mr.Lee. Berita tentang saya bisa diakses di mana-mana. Dan kenapa saya datang ke Indonesia juga ada di berita-berita…” Dia benar-benar orang yang sulit. Percakapan itu cukup melelahkan, karena aku harus memutar otak untuk mempertahankan percakapan itu berlanjut sampai aku menemukan jawaban yang ku inginkan.
“Tentu saja, saya tau. Anda datang ke sini karena pacar anda. Apakah berarti kekasih anda adalah orang lokal Indonesia?” Matanya berkedut. Dia masih berusaha tampak tenang, namun sebenarnya dia tidak tenang. Sepertinya dia tidak suka dengan pertanyaanku.
“Sepertinya pembicaraan kita sudah melenceng mr.Lee. Apakah ini masih ada hubungannya dengan kontrak kerja yang baru saya tanda tangani?”
“I know you from the beginning. Anda hanya ingin memastikan bahwa saya sedang bersama dengan orang yang anda cari-cari…” Ah, good. Meski aku merasa sedikit kecolongan karena kok bisa, dia tau segala yang ku pikirkan. Tatapannya tajam ke arahku. Ku tunggu dia melanjutkan perkataannya.
“Bisa jadi apa yang kita pikirkan ini adalah sama. Hanya, anda tau resiko apa yang akan menimpa anda jika berani-beraninya menelusuri asal usul anda?”
“Jadi anda datang ke sini bersama Lucian Warren…” Aku to the point. Matanya berkedut. Masih berusaha menatapku tajam tanpa ekspresi. Tenang yang dibuat-buat.
“Saya bertanya mr.Lee. Apakah anda tau resiko yang mungkin anda hadapi jika berani mengorek hal ini?” Aku tidak peduli dengan ancaman kosongnya. Toh dia sudah bilang bahwa dia bukan salah satu dari mereka. Dia hanya kebetulan bisa punya akses ke database organisasi itu.
__ADS_1
“Dan Lucian Warren lah yang membantu anda untuk settle di sini. Dia juga yang membuka akses ke database itu sehingga anda kelihatan tau semua…” Dia akhirnya terdiam. Artinya, aku mungkin benar. Nah, begitu. Jadi lebih baik diam saja jika tidak membantu apa-apa. Aku ngomel dalam hati. Dia sama saja seperti mereka semua. Pintar untuk mengendalikan situasi dengan tenang dan berkata-kata seperti orang genius. Aku jadi ingat pertama kali aku bertemu dengan Jade. Kami juga terlibat dalam percakapan yang cukup konyol. Berputar-putar di topik yang kurang penting hanya karena kami bisa mengikuti alur pembicaraan itu, tidak peduli seberapa tidak penting.
“Lucian Warren itu, yang adalah ayah anda, dan usianya hampir 3 kali lipat dari anda, adalah pacar yang anda makud. Dia bersembunyi di belakang anda. Dan membuat anda bekerja untuk memenuhi kebutuhan kalian selama dalam pelarian. Jangan-jangan, Chanel Travis, dia mengangkat anda jadi permaisuri? Di istana yang sudah tidak ada lagi, istana yang hanya ada dalam benak anda…” Rahangnya mengeras. Kena kau! Pukulan telak dari perkataan-perkataanku harus bisa meruntuhkan egonya. Sampai dia tidak bisa berkata apa pun lagi.
“Dan saya menduga, dia tidak pernah berani menampakkan diri di depan umum, because he is wanted, dia buronan. Iya kan?” Ku pikir aku sedikit angkuh karena berhasil membuat dia terdiam. Ku angkat sebelah alisku dan tersenyum menyindir. Dia masih diam terpaku. Matanya mulai memerah. Ah, dia pandai, sudah ku bilang, dia pandai. Dia mau memakai air mata untuk menyelamatkan dirinya dari keadaan yang mengancam itu.
“Apa yang kau mau?” Dia bertanya tertahan. Dia mengganti kata anda dengan kau. Hah! Baguslah. Dia kehilangan kontrol diri. Yang ku mau? Ku coba berpikir keras. Apa sebenarnya yang ku mau? Aku hanya ingin tau satu hal, bahwa aku bukan berasal dari DNA nya. Sudah cukup. Bagaimana dengan tujuanku untuk memenjarakan dia? Entahlah. Untuk saat ini, tujuan itu buyar. Yang ada di pikiranku hanya ada Jade. Yang lain-lain bisa menunggu.
“Pertemukan aku dengannya…”
“Jika kalian bertemu, apa yang akan anda lakukan?”
“Aku ingin bertanya, apakah aku adalah hasil dari DNA nya, apakah kita saudara?”
“Kau tidak perlu bertemu dengannya jika hanya ingin tau soal itu. Aku akan memberitahukannya padamu…”
“Apakah kau tau?”
__ADS_1