Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
Utuh


__ADS_3

Sudut Pandang Earnest


"Halo tante…" Aku menjawab telpon dari mama Kim.


"Halo Earnest, tante sedang dalam perjalanan ke sana. Izinkan tante menemui Jade sebentar saja. Boleh kah? Apakah menurutmu dia akan baik-baik saja?" Dia kelihatan gelisah. Namun aku tau dia senang dengan perkembangan Jade yang dia dengar nanny, dan yang pasti sedikit kesal. Karena seharusnya, dia menjadi orang pertama yang mendapatkan perlakuan itu dari Jade karena dia adalah mamanya.


"Iya tante, datanglah. Tadi kami sempat ngobrol dan pasti tidak apa-apa jika tante datang. Bicaralah dengan Jade. Aku yakin kalian akan saling memahami. Sebentar lagi kami akan makan malam. Jika tante bisa, ayo kita makan malam bersama. Itu pasti akan menyenangkan…"


Di sana mereka berdua tidak henti menangis dan saling memeluk. Pemandangan itu sangat mengharukan. Aku melihat dua wanita cantik mengklaim satu sama lain sebagai milik mereka. Mereka menghabiskan kurang lebihsatu jam untuk mencurahkan semua emosi yang selama ini terpendam. Dan itu cukup bagiku. Jade sudah bisa melamapui satu hal paling sulit dalam hidupnya, memaafkan orang yang telah melukainya paling dalam. Jade sudah menjadi manusia seutuhnya. Itu adalah salah satu peristiwa yang paling ku nantikan. Satu misi lagi. Hal terakhir yang ku harapkan terjadi adalah, pria mengerikan itu segera ku temukan dan menerima hukuman setimpal. Aku ngeri membayangkan jika dia masih hidup dan berkeliaran dengan bebas bahkan berpikir untuk melakukan hal serupa di tempat lain.


Kami makan malam dengan tenang, maksudku, dalam diam. Aku mencoba menengahi keadaan bisu itu dengan bicara apa pun yang berhubungan dengan makanan yang sedang kami nikmati. Tetapi mereka tampaknya membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat mengucapkan kata-kata. Pada akhirnya, aku membiarkan mereka  menunjukkan kasih sayang dalam perhatian dalam bentuk isyarat. Denise bertingkah seperti seorang mama, meski selama ini pun dia bersikap sebagai mama dari jauh, tapi hari ini berbeda. Dia memperhatikan makan Jade dengan seksama, meletakkan semua jenis makanan di piring Jade dan Jade memakan semua dengan haru, sambil menahan air mata, namun akhirnya mengalir di pipinya. Ku bantu menyerahkan helai tisu untuk mengeringkan wajahnya.


Akhirnya Denise pulang. Aku masih berusaha menenangkan Jade, ku peluk dia yang tidak berhenti menangis. Masih diam, hanya menangis. Sampai kemudian dia tertidur. Ku pandangi wajahnya yang teduh. Gadis yang pertama kali ku temukan dengan jiwa kosong itu, kini telah berubah menjadi manusia seutuhnya. Mungkin belum penuh. Maka aku bertekad akan mendampinginya sampai jiwanya penuh. Hatinya lengkap. Dan dia tidak pernah merasa disia-siakan lagi. Aku tidak bisa mengekspresikan bahagiaku dengan kata-kata. Ku cium keningnya. Wajah sembab dan mata bengkaknya tetap kelihatan super cantik di mataku. Good job sayang. Kau sudah melakukan tugas dengan baik. Dia harusnya tau betapa bangganya aku. Ku peluk dia, hatiku berbunga-bunga, aku mendapatkan wanita yang sempurna dalam pelukanku. Aku merasa lengkap.


Aku bangun di pagi hari dan menemukannya berbaring di sisi lain tempat tidur. Dengan masker wajah dan mata. Aku tertawa melihat tampangnya. Setelah semalaman menangis dari cara paling cantik sampai paling jelek, dia sekarang peduli untuk terlihat cantik. Dan kenapa harus di seberang, di bagian paling tepi tempat tidur. Aku tertawa melihat pemandangan itu, dan bergerak lebih dekat ke sisinya.

__ADS_1


"Sayang? Tidur...?" Dia menggerakkan jari ke mulutnya untuk mendiamkanku. Tapi dia kelihatan lucu, jadi aku berniat untuk menggodanya lebih lagi.


"Sayang, jangan gitu dong. Aku membutuhkan calon istriku ini untuk membantuku beres-beres. Bagaimana dengan sarapan pagi? Aku lapar..." Ucapku sambil menahan tawa.


"Daddy…" Dia merengek sambil tetap menaruh jarinya di bibir untuk mendiamkan aku.


"Aku lapar…" Bisikku dalam ke telinganya, aku berpura-pura lemah. Dia merengek.


"Daddy… "


"Daddy… Kau sangat menyebalkan. Harusnya aku perlu berdiam begini sampai beberapa menit lagi supaya ada efeknya. Aku kan tidak ingin terlihat jelek di depanmu. Wajahku sembab dan bengkak, lihat ini..." Dia bersungut-sungut. Aku menatapnya dan meneliti wajahnya dengan seksama, pura-pura mencari apa maksudnya. Bagiku, wajah itu, dalam kondisi apapun, tetap kelihatan cantik. Alasan yang dia berikan tidak masuk akal.


"Kamu benar-benar cantik sayang. Tidak ada yang salah dengan wajahmu..."


"Beneran? Waktu aku bangun, satu jam yang lalu, wajahku bukan benar-benar jelek. Coba ku lihat lagi di cermin..." Dia turun dari tempat tidur. Namun ku tarik dia ke pelukanku.

__ADS_1


"Nggak ada yang perlu diperiksa sayang. Kamu sangat cantik. Masak nggak percaya? Kau membuatku ingin memeluk dan menciumu sekarang." Aku terus menggoda. Wajahnya tersipu merah.


"Kalau begitu biarkan aku menaruh ini di tempat sampah..." Dia menunjukkan lembaran masker di tangannya. Masuk akal. Ku biarkan dia pergi. Dia turun dari tempat tidur sambil cekikikan. Aku merasa kecolongan. Mau tidak mau aku tertawa.


"Kena kau!" Dia teriak sambil berjalan ke kamar mandi.


"Daddy… Wajahku masih terlihat sama! Kamu bohong!" Dia menjerit. Aku tertawa terbahak-bahak. Aku berjalan ke kamar mandi dan melihatnya membersihkan wajahnya dengan sabun. Dia mendelik kesal ke arahku. Aku tertawa  lebih terbahak-bahak. Tampang lucunya benar-benar tidak ketolong. Dan itu adalah pertama kali aku melihat ekspresi itu di wajahnya. Aku terkejut senang.


"Kamu menyebalkan!" Dia mendengus kesal dan membilas wajahnya dengan air, mengeringkannya dengan handuk.


Kami pun melakukan kegiatan rutin di pagi hari. Dia mengambil sikat gigiku dan mengoleskan pasta gigi, menyerahkannya padaku. Dia melakukan hal yang sama pada miliknya. Kami mengambil waktu untuk membersihkan diri.


Setelah beres-beres, dia mengambil sebuah tas dari lemari display. Itu adalah hadiah ulang tahun dari suami Denise. Dikeluarkannya dompet dari dalam tas itu dan memamerkan isinya padaku. Dia punya banyak uang.


"Dia bilang aku bisa menghabiskan ini semua. Untuk bersenang-senang. Bagaimana menurutmu daddy?" Dia menatap mataku meminta persetujuan. Aku menatapnya, mencoba memahami apa yang dia maksud dengan perkataan itu.

__ADS_1


"Daddy… Aku mau keluar, jalan-jalan, boleh?" Ah… Aku dengan cepat menangkap maksudnya. Ke dunia luar? Itu terlalu cepat. Aku terkejut, tapi senang. Dia sangat siap untuk melakukan hal-hal yang dilakukan oleh orang pada umumnya. Aku yang tidak siap melihat betapa cepat dia tiba di sana. Tidak yakin apakah itu akan baik untuknya.


__ADS_2