
Peringatan: Lewatkan jika tidak siap membaca adegan gore.
Dia duduk di kursinya yang megah dengan jubah putihnya. Setiap kami dikawal oleh malaikat hitam yang cantik dan bertongkat perak. Namun dia dikawal oleh dua orang malaikat hitam paling cantik, masing-masing dengan tongkat emas yang paling panjang di antara semua tongkat yang ada dengan corak dan ukiran yang berbeda, malaikat bersayap yang sedang memanah menghadap langit, kelihatan lebih megah. Mereka semua bekerjasama untuk memastikan agenda pagi itu berjalan dengan baik, dengan cara yang elegan, khas tata cara hidup kerajaan.
*Bisa kah kau bayangkan betapa bangganya bisa duduk semeja dengan raja menikmati hidangan? Meskipun kami adalah anak-anaknya, karena sudah terpilih dari ratusan --mungkin lebih-- lainnya adalah prestasi yang tertinggi. Rasa bangga yang kami miliki membuncah dari dada setiap hari. Dibarengi dengan rasa takut yang menjelaga, bagaimana jika aku berbuat satu kesalahan lalu kemudian dipulangkan ke bangsal umum bersama dengan yang tidak terpilih lainnya?*Kami bisa saja kelihatan tenang dan raut wajah kami bahagia, namun dalam benak kami masing-masing, aku percaya, selalu berada dalam keadaan siaga. Setiap hari adalah pertarungan untuk tetap mempertahankan posisi itu.
Masih curi-curi pandang, ku nikmati hidangan di depanku. Menu pagi ini adalah daging mentah dengan jus darah segar. Rasanya benar-benar fresh. Aku menduga, mungkin hasil dari ritual yang kemarin. Kelihatan dari wajah raja, dia sangat menikmati hidangan itu. Pasti pendapat kami sama. Segera setelah selesai makan, kami diberi segelas air. Disebut vitamin harian yang wajib dikonsumsi sebelum menuju ke meja persembahan. Aku sangat suka meminumnya. Membantuku untuk menghimpun keberanian dan kekuatan sehingga aku bisa dengan lihai memainkan pisau di tanganku pada prosesi tugas hari itu. Aku penasaran dan tidak sabar ingin cepat tau, siapa yang akan mendapat giliran untuk ritual hari ini?
Segera setelah minum vitamin, kami berjalan dalam bentuk barisan rapi di belakang raja, digiring ke sebuah ruangan, disebut ruang suci. Salah satu malaikat hitam menyambut kami di depan pintu masuk, menyerahkan sebuah pisau yang indah --bilahnya sepanjang telapak tangan dengan gagang kayu kokoh mengkilat lengkap dengan ukiran malaikat bersayap-- masing-masing ke tangan kami sembari melangkah ke dalam ruangan.
__ADS_1
Dengan sikap siap, kami berdiri mengelilingin sebuah meja besi panjang. Raja ada di bagian kepalanya. Karena paling bungsu, aku berdiri paling ujung, menduga-duga, aku pasti akan menghadap bagian betisnya. Kain satin putih yang menutup tubuhnya pun diangkat. Aku terkagum, dia sangat cantik. Tapi tetap saja, menurutku aku lebih cantik. Rambutnya sangat panjang, terurai di satu sisi meja. Dia pasti telah melakukan banyak hal baik dan tidak pernah bertingkah sehingga dia akhirnya terpilih dan ada di sana sebagai persembahan. Aku, sama seperti yang lainnya, tidak sabar menunggu giliran untuk berada di tempat itu. Tapi tampaknya aku harus menunggu sampai lebih dari seratus ketukan di pintu untuk bisa terpilih.
Kami berdoa. Kemudian musik diperdengarkan dengan volume lumayan kencang. Raja mulai bernyanyi. Aku ingin menekankan hal ini, aku sangat menyukai jenis suaranya, suara bariton yang dalam. Aku menikmati nyanyiannya dengan memejamkan mata dan merekam semua nada di hatiku. Kemudian raja memulai ritual dengan memotong habis rambutnya yang panjang dan meletakkannya di nampan emas. Setelah itu, volume musik disetel lebih kencang, para malaikat hitam di ruangan itu menghampiri kami dan berdiri persis di belakang kami, memimpin paduan suara yang panjang sementara raja melakukan puncak ritual; untuk membuatnya tidur dengan tenang.
*Kami semua memejamkan mata sambil bernyanyi sekencang dan semerdu yang kami pikir. Setelah mengulangi lagu yang sama tiga kali, kami baru boleh membuka mata. Seperti yang ku duga, aku mendapatkan salah satu kakinya. Pekerjaan yang mudah, hanya satu kaki. Aku mulai mengerjakan bagianku. *Aku hanya perlu memisahkan daging dari tulang dan memotongnya dalam bentuk kotak-kotak dengan ukuran yang sama, memastikan hasil akhirnya terlihat bagus dan rapi. Mungkin besok atau lusa kami akan mendapatkan ini sebagai santapan di meja perjamuan seperti pagi tadi.
Kami keluar dari ruang suci itu membentuk barisan rapi di belakang raja. Menuju ke kolam renang yang sudah dicampur dengan susu. Bagian yang paling menyenangkan setelah selesai melaksanakan tugas adalah bersenang-senang di dalam air. Kami melepas semua pakaian dan masuk ke dalam untuk membersihkan tubuh dari darah yang menempel di tubuh kami. Ini adalah proses penyucian diri setelah melakukan ritual suci. Kami saling membantu untuk menggosok punggung dan membersihkan bagian tubuh lainnya. Raja dibantu oleh malaikat hitam di bagian lain kolam. Kami masih bisa melihatnya dari jauh. Sebuah kolam yang khusus, dibangun dengan indah dan megah, hanya raja dan orang-orang yang dipilih bisa masuk ke sana.
Air kolam yang tadinya putih susu, berubah kemerahan. Terlihat jelas ketika kami selesai membersihkan diri dan keluar dari sana.
__ADS_1
Setelah itu, kami diberi waktu untuk bersantai di taman, untuk mengeringkan rambut sebelum mendapatkan jus darah segar dan segelas vitamin lagi, agar kami bisa tidur dengan tenang. Karena, entah kenapa, setiap kali selesai melakukan ritual itu, energi rasanya dikuras habis. Yang lemas bukan hanya tubuh, tetapi seluruh keberadaan kami. Memang, setelah meminum vitamin itu, aku merasakan euforia. Aku bahkan memuji diri sendiri karena telah melakukan pekerjaan dengan baik untuk hari itu.
Aku berjalan ke kamar dengan senyum lebar, tetap mempertahankan gerak tubuh yang elegan. Berbaring dengan indah di atas dipan, meniru caranya –putri yang menjadi persembahan tadi– berbaring di atas meja persembahan. Aku merasa, diriku sangat hebat.
Malaikat hitam yang menemani sampai ke kamar, membantu mengeringkan telapak kakiku, dia tetap di sana sampai aku tertidur. Seperti sebelum-sebelumnya, dia mengulangi cerita yang sama tentang raja. Kami tidak punya hitungan hari dan waktu, jadi aku tidak tahu sudah berapa banyak cerita itu diulang. Tapi suaranya terdengar merdu di telingaku dan cerita tentang raja seperti surga bagi jiwaku, karena aku adalah salah satu putri pilihannya.
Malaikat hitam membisikkan sebuah kalimat sebelum dia keluar dari kamar...
"Tidurlah dengan damai putri, besok akan menjadi hari yang indah lagi." Aku tidur dengan senyum yang terindah.
__ADS_1