
"Iya sayang. Seharusnya begitu. Kenapa emang? Bagaimana menurutmu?"
"Mmm… Agak aneh rasanya. Akhirnya aku memanggil seseorang mama. Tapi lidahku kelu. Tidak tau kenapa." Dia memelukku lebih erat dan mencium ubun-ubunku.
"Tapi aku senang mendengar perubahan ini saying. Tidak menduga bahwa kau akan mencetuskan ini duluan. Kau hebat. Dan iya, panggillah mama. Tau nggak? Aku punya mama mertua yang bisa ku andalkan. Dia adalah mama yang menjagamu dengan baik. Yang memikirkan segala sesuatu untuk kebaikanmu. Bahkan ketika dia tidak baik-baik saja pun, dia masih memikirkanmu. Sudah waktunya berdamai. Panggil dia mama. Oke?" Semua yang dia bilang masuk akal. Aku memproses ide itu dengan baik.
"Bagaimana dengan suaminya? Haruskah aku memanggil papa seperti yang dia katakan?"
"Kenapa tidak? Dia sudah melakukan yang terbaik untuk menemani mama sebagai suami yang baik, dan berusaha menterjamahkan sosok seorang papa yang seharusnya selama kau ada di sini. Bukankah indah jika kita memiliki sepasang mama dan papa yang lengkap dan memperhatikan kita dengan baik? Jadi memanggil papa sudah seharusnya kan saying?"
"Tapi aku masih merasa aneh…"
"Masih marah pada mama?" Aku berpikir sejenak dan mengangguk.
"Sedikit…"
"Oke. Tidak apa-apa. Pakai waktumu sayang, lepaskan rasa marah itu pelan-pelan. Coba fokus pada apa yang sudah dilakukannya untuk memperjuangkan kau tetap selamat. Kau tahu semua alasan mengapa dia melakukan apa yang dia lakukan kan?"
__ADS_1
"Mmm…" Aku mengangguk.
"Tau nggak? Ketika aku telpon mama kemarin dalam perjalanan ke sini, ketika meminta izin untuk diperbolehkan menemanimu selama sisa minggu ini, mama tertawa. Namun aku tau apa arti tawa itu. Dan mama jujur berkata bahwa dia sedih. Menurut mama, kau seharusnya lebih membuka diri untuknya, bukan untukku. Ketahuilah Jade, dia sangat mencintaimu. Dia melakukan segalanya untukmu sayang. Mama itu adalah seorang yang bijaksana. Apa pun yang sudah dilakukannya padamu, yang bisa pikirkannya hanyalah keselamatanmu. Kau juga harus tahu bahwa ketika dia membuat keputusan berat itu, dia juga patah hati. Sangat parah. Sampai-sampai harus terapi ke rumah sakit jiwa. Jadi, tidak bisakah kita di menghargai usahanya? Hmm…?" Seharusnya begitu. Bagaimana pun juga, dia melakukan semua untuk keselamatan kami berdua. Mau nggak mau, aku harus mencoba kan?
"Ketika dia mengambilmu dari istana itu, dia mempertaruhkan nyawanya sendiri karena dia mencintai bayi yang pernah dia lepaskan. Itu semua terjadi karena kekuatan cinta seorang mama. Tidak mudah melewati masa-masa itu. Masih membencinya?"
"Tapi aku tetap tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia meninggalkanku sendirian di taman gereja. Aku membencinya karena itu. Ketakutan yang dia berikan padaku saat itu masih ada sampai sekarang…" Air mataku pecah.
"Aku mengerti. Oke. Ayo pakai waktu yang ada. Tidak ada yang perlu diburu-buru. Apa pun keadaan hatimu dan perasaanmu sekarang, tidak apa-apa sayang. Tidak masalah. Kita masih punya banyak waktu kok…" Dia mengusap-usap punggungku dengan lembut. Tapi kemudian kami mendengar bunyi perut yang keroncongan, dia pasti sangat lapar. Dan kami tertawa.
"Aku mandi dulu ya. Aku akan menuyusul ke meja makan" Dia mencium keningku --aku menyukainya-- kemudian bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi. Aku menyiapkan sepasang baju yang akan dia pakai sehabis mandi, ku ambil dari kopernya. Ku letakkan di atas tempat tidur.
"Valene, ini mama…" Mama? Ya, dia bilang dia mama. Terus? Dia berjalan mendekatiku. Aku merasakan perasaan yang sangat asing menyelimuti seluruh keberadaanku. Dia adalah mamaku? Air mata mulai mengalir di pipiku. Aku menyadari, yang kurasakan adalah kehangatan. Aku belum pernah merasakan kehangatan yang sedemikian di dalam hidupku sebelumnya. Wanita ini adalah mamaku. Dia semakin mendekat padaku dan memelukku erat.
"Valene, ini mama sayang. Mama…" Apa mungkin dia ingin mendengarkan kata-kata itu dariku?
"Mama…?" Aku menggumam. Dia menangis semakin kencang.
__ADS_1
"Iya, ini mama..." Dan memelukku semakin erat.
"Mama…" Bisikku berkali-kali. Aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan mampu mengatakan kata itu. Sebuah beban yang sangat besar yang menghimpit dadaku, terasa lepas, ku rasakan lega dan damai. Dan pelukannya terasa hangat. Kami berpelukan untuk beberapa saat dan kemudian akhirnya melepas pelukan itu. Kami saling menatap mata. Aku ingin benar-benar merasakan cintanya padaku.
"Terima kasih sudah kembali sayang… Mama menunggu sangat lama…" Aku masih tidak bisa berkata apa-apa karena aku tidak tahu apa yang harus ku katakan. Tapi ku pikir aku telah melakukannya dengan baik. Aku telah melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan. Menerima, mengampuni dan memeluknya. Dia menyeka pipiku dari sisa air mata, dan aku menirunya, menyeka air mata di pipinya.
"Tapi aku lebih suka dipanggil Jade…" Kataku. Nama Valene membuatku merinding, itu membuatku mengingat Kembali adegan-adegan yang ada di ingatanku.
"Iya, Jade. Maaf, ini adalah Jade. Kita lupakan nama itu. Mama terima kasih karena kau sudah baikan. Teruslah begitu. Oke?" Haruskah aku mengatakan hal yang sama? Dia juga melakukannya dengan baik meski sangat sulit. Sepertinya aku harus.
"Terima kasih juga ma, karena sudah bisa melewati itu semua dan semakin pulih. Terima kasih ma…" Kali ini, aku yang memeluknya. Aku akhirnya bisa memahami cara berpikir dan bertindaknya. Dengan begitu, bukankah harusnya aku berterima kasih? Wanita lemah ini, mempertaruhkan nyawanya untuk membawaku keluar dari istana neraka itu. Kemudian dia pun telah melewati nerakanya sendiri. Bagaimana mungkin aku baru menyadarinya sekarang? Kami menghabiskan beberapa saat lagi menumpahkan semua perasaan kami dalam pelukan.
Kami berkumpul di meja makan untuk makan malam, tanpa sepatah kata pun. Earnest mencoba mengucapkan beberapa kata dan kami berhasil menjawab sesuai dengan yang dia mau. Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa dan memutuskan untuk membiarkan waktu membantuku menemukan cara untuk bicara dengan leluasa. Mungkin tidak sekarang. Mama memberi perhatian dengan sesekali meletakkan beberapa makanan
di piringku. Aku tidak bisa menahan haru dan air mataku mengalir begitu saja. Kehangatan yang ku dapatkan saat itu cukup untuk mencairkan semua bongkahan es yang membeku di hatiku, airnya terus berjatuhan lewat mataku. Aku memakan semua yang dia taruh dalam piringku.
Dan mama pulang malam itu juga. Dia membiarkan aku menghabiskan sisa minggu ini Bersama dengan Earnest. Dia akan berkunjung lagi sesuai jadwal, pada hari Senin. Earnest memelukku, berusaha menenangkan aku tapi aku masih tidak berhenti menangis. Dia sibuk menyeka air mataku, mengusap punggungku dan menghujaniku dengan ciuman. Sulit menghentikan tangis itu, sampai lebih dari satu jam. Kemudian aku tertidur.
__ADS_1
Aku bangun pagi dini hari, dan terkejut ketika melihat diriku di cermin di kamar mandi. Wajahku membengkak, apalgi mataku! Aku tidak bisa tampil sejelek ini saat Earnest ada! Aku cepat-cepat menuju sudut ruangan. Di sana ada kulkas kecil khusus untuk menempatkan bahan-bahan untuk skincare, aku mengambil masker
wajah dan mata. Kemudian ku baringkan diriku di tempat tidur, tetapi mengambil jarak yang jauh dari Earnest. Aku harap bisa menyelesaikan ritual ini sebelum dia bangun. Dia harus melihatku dalam cantik. Seperti yang seharusnya. Aku berharap dia masih jet leg agar bangunnya masih lama. Aku membaringkan tubuhku menghadap langit-langit.