
Seorang wanita dengan pakaian semi formal menyambut kami dengan ramah. Yang pasti dia bukan Chanel Travis. Melihat penampilannya, dia adalah orang Indonesia, seorang wanita paruh baya yang berpenampilan menarik dan lugas. Mungkin orang yang membantu mengelola manajemen selebgram hits itu. Aku sedikit kecewa dengan penyambutan itu. Seharusnya Chanel ada bersama dengan dia.
"Selamat datang di Jakarta. Kapan tiba di sini?" Dia basa basi sambil memandu jalan kami menuju lift. Bahasa inggrisnya cukup fasih.
"Terima kasih. Baru saja. Sekitar dua jam lalu kami tiba di bandara..." Dia tertawa lepas dan geleng-geleng kepala.
"Itu adalah salah satu ciri khas dari kota Jakarta. Dari bandara ke pusat kota bisa memakan waktu selama itu karena macet. Tapi itulah uniknya. Kalau tidak macet, bukan Jakarta namanya. Sudah sarapan pagi?" Aku pun mengangguk-anggukkan kepala sebagai tanda bahwa aku paham apa maksudnya. Mungkin sebagian dari penjelasan itu adalah bentuk simpati atas penderitaan yang kami alami duduk di dalam mobil mengarungi lautan mobil di jalan raya selama dua jam. Hanya untuk menempuh jarak sedekat itu. Hal yang sangat jarang terjadi di tempat lain.
"Sudah tadi, di pesawat. Terima kasih."
"Kalau begitu, mari makan siang bersama. Saya akan memandu bapak berdua menikmati makanan otentik khas Indonesia. Tinggal sebutkan saja, mau rendang padang? Nasi goreng? Sate? Atau?" Harus ku akui. Dia sangat ramai. Aku bingung, apakah wajar membahas makanan apa yang kami suka ketika dalam keadaan yang sangat serius begitu. Entahlah. Mungkin saja wajar. Tapi aku sedang dalam keadaan serius dan tidak mood untuk berbasa-basi.
"Oh. Terima kasih. Jika memungkinkan, kami akan lanjut ke agenda berikutnya sebelum siang hari. Malam nanti kami harus sudah kembali ke Singapura. Tapi terima kasih untuk tawaran hangatnya..." Aku berusaha menjawab sesopan mungkin. Dengan senyum dia ngangguk-ngangguk.
"Ah, sayang sekali. Kalau begitu, usahakan makan siang dulu di sela-sela kesibukan anda. Enjoy Indonesia..." Katanya lagi.
"Sure! Thank you." Kami berhenti di salah satu lantai, keluar dari lift dan memasuki sebuah ruangan kantor yang cukup luas dengan beberapa set meja dan kursi kerja. Sepertinya ruangan itu disewa khusus untuk agency mereka. Tapi tidak ada siapa-siapa. Aku mencoba melayangkan pandangan menyelidiki, siapatau ada penampakan orang lain di sana yang mungkin sedang bersenbunyi. Mataku menangkap sebuah potret Chanel Travis dalam ukuran yang sangat besar menutupi hampir salah satu sisi dinding di ruangan itu. Hanya itu. Aku harus simpulkan, berarti mereka hanya punya Chanel Travis sebagai talent yang mereka sedang kelola. Karena foto-foto lainnya pun, hanya ada dia.
__ADS_1
"Silahkan duduk." Dia meletakkan dua botol air mineral di atas meja.
"Bukankah seharusnya kami bertemu dengan talent anda? Tapi tidak ada siapa-siapa di sini..." Aku berkata to the point.
"Oh. Betul. Seharusnya Chanel ada di sini sekarang menyambut orang-orang dari Earnest Fashion. Tapi last minute, dia memutuskan hanya akan bertemu jika kontrak sudah deal. Semua diskusi sebelum kontrak disepakati, diserahkan pada manajemen. Kami mohon maaf. Itu adalah syarat mutlak dalam prosedur kerja bersama dengan Chanel. Apakah anda keberatan?" Aku cepat-cepat mencerna pernyataan itu. Cukup baru bagiku. Selama ini, semua selebriti yang kami ajak bekerja sama, akan sangat excited dan pasti mau bertemu langsung, tentu saja didampingi oleh orang-orang dari manajemen mereka. Aku mengangguk-aggukkan kepala tanda paham. Yang pasti, dia tidak tau bahwa orang yang sedang dia hadapi adalah orang punya Earnest Corps. Kami hanya memperkenalkan diri sebagai pegawai dari divisi PR.
"Oh Tidak. Kami sangat menghargai aturan yang ditetapkan oleh kantor manajemen di mana talent yang hendak kami ajak berkerja sama bernaung. Sama sekali tidak masalah. Jangan kuatir..."
"Oh. Terima kasih mr.Lee. Kita baru pertama bertemu, tapi pegawai dari Earnest Corps benar-benar profesional. Tadinya saya kuatir jika hal ini akan menyebabkan masalah..."
"Kami hanya perlu mau menyampaikan beberapa syarat mutlak untuk dapat bekerja sama dengan kami. Semua tertuang dengan jelas dalam dokumen ini. Silahkan dipelajari. Jika ada hal yang perlu di diskusikan, kami dengan senang hati meluangkan ruang dan waktu untuk negosiasi. Kami senang karena bertemu dengan manajemen yang profesional. Jadi seharusnya anda tau bahwa kami juga akan bertemu dengan dua kandidat lainnya pada hari ini juga. Tapi jangan kuatir, segala sesuatu akan kami pertimbangkan seobjective mungkin." Terus terang aku kesal. Sebesar apa pamor selebgram satu ini sehingga kami tidak bisa bertemu langsung sebelum tanda tangan kontrak? Dia salah mengambil keputusan. Dia tidak tau sedang berhadapan dengan siapa.
"Kami akan mengingat saran ini dengan baik. Namun perlu diketahui. Kami tidak mencari orang yang hanya mampu mengenalkan brand kami kepada masyarakat ramai. Tetapi orang yang mampu menggerakkan massa untuk membeli dan memakai produk brand Earnest fashion dengan bangga." Aku berkata dengan tandas.
"Baik. Tentu saja. Kita sedang bicara bisnis. Kami paham tujuan utama dari kerjasama ini. Kami akan bekerja keras untuk mewujudkannya apabila diberi kesempatan..."
"Terima kasih. Kami mohon pamit."
__ADS_1
Kami meninggalkan gedung itu dengan cepat. Aku belum bisa menguasai rasa kesal dari kejadian itu.
"Drey, apakah normal jika talent itu tidak mau bertemu dengan kita? Apakah dia tidak tau sebesar apa Earnest Corps?" Aku mendengus kesal.
"Saya juga baru tau boss. Ini baru pertama kali terjadi. Yang sudah-sudah, mereka malah berlomba-lomba ingin bekerja sama dengan kita."
"Kita tidak punya pilihan lain. Sudah temukan alamat tinggalnya di mana? Kita ke sana sekarang."
"Baik boss. Sudah."
"Serahkan agenda berikutnya kepada tim PR. Beri catatan. Segala sesuatu yang berhubungan dengan hal ini harus lewat persetujuan saya. Tidak peduli setenar apa dia di sini, saya yang akan memutuskan."
"Siap boss."
Kami menghabiskan sejam lebih lainnya di dalam mobil hanya untuk mencapai sebuah komplek apartemen mewah tidak jauh dari kantor. Harusnya tidak masalah. Itu bukan pertama kali aku ke Jakarta. Ketika masih aktif bersama The Knights, kami sudah mengunjungi Indonesia untuk konser ataupun tampul di acara-acara musik lainnya beberapa kali. Semua kenangan itu indah. Memang macet. Tapi suasana waktu itu tidak sekesal yang ku alami saat ini. Masih soal Chanel Travis. Jika kami bertemu langsung dengannya, setidaknya aku bisa memastikan dengan mata kepalaku sendiri bahwa wajahnya adalah foto copy dari Jade. Sekarang? Kami harus begerak diam-diam. Melakukan suatu hal yang cukup ribet yang harusnya tidak perlu seandainya kami bertemu.
Informasi tentang Chanel Travis sangat rapi dan lengkap. Kedua orang tuanya masih tinggal di Perancis, nama mereka sama sekali tidak ada hubungannya dengan Lucian Warren. Dia hijrah ke Indonesia karena berkenalan dengan seorang pria secara online, yang kemudian menjadi kekasihnya, yang sedang tinggal di Indonesia. Dia pindah ke sini karena ingin tinggal berdekatan dengan pria itu. Prospek hubungan mereka cerah. Saat dia minginjak usia 30an tahun, setelah mencapai puncak karir yang diinginkannya, dia baru akan menikah dan membangun sebuah keluarga dengan anak-anak. Informasi itu kami dapatkan setelah Drey mengadakan research tentangnya di internet dan platform berita. Hampir semua hasil wawancara tentang dia isinya sama. Bahkan akun-akun gosip yang biasanya memberkan sesuatu hal yang mencurigakan, isinya sama saja. Tidak ada yang mencurigakan.
__ADS_1
Saat ini, klami sedang bergerak menuju rumahnya hanya untuk membuktikan, siapa kekasihnya itu? Mungkinkah Lucian Warren?