
Segala sesuatu menjadi lebih baik. Selama weekend, suasana di rumah itu berbeda dan lebih hidup. Acara makan tiga kali sehari berlalu dengan baik. Kami makan di meja makan karena ada aku di sana. Biasanya, semua aktivitas makan Jade dilakukan di kamar. Meski dia masih diam, hatiku senang bukan main. Waktu aku membacakan buku pun, Jade dalam keadaan bangun, duduk di sofa di kamarnya memeluk boneka beruang dan melempar pandangannya ke arah lain. Tapi itu masih jauh lebih baik ketimbang membacakan buku pada seseorang yang sedang tidur. Beberapa ekspresi akhirnya muncul dari wajah dan bahasa tubuhnya. Denise dan suaminya datang untuk mengambil alih jadwal kunjungan pada hari minggu, tetapi mereka balik kanan dan pergi setelah melihat keadaan di rumah itu, mereka tidak ingin merusak suasana yang sedang terbangun dengan baik.
Dan ketika aku akan berangkat pada Minggu malam, dia tidak melepaskan pelukannya dan tangisannya tidak berhenti, untuk waktu yang lama. Ini pun membuatku sangat senang. Ekspresi menangis itu jauh lebih baik ketimbang melihat seseorang yang diam tanpa ekspresi. Aku mengambil waktu untuk menenangkannya sampai larut malam, jam tidurnya pun berubah karena berjaga-jaga agar aku tidak berangkat.
“Sayang, aku akan kembali lagi Jumat malam oke?” Aku berusaha membujuk, namun dia belum melepaskanku. Sampai akhirnya Jade tertidur di pelukanku yang tidak berhenti mengusap punggungnya dengan lembut. Lewat tengah malam, akhirnya aku bisa melepaskannya dari pelukanku. Aku meletakkan kepalanya di atas bantal dan merapikan selimut menutupi tubuhnya.
Ku habiskan waktu untuk mengamati keadaannya, sambil tidak henti-henti merasakan bahagia. Kondisinya sudah jauh lebih baik. Kulitnya kelihatan lebih sehat bersinar. Wajahnya masih sama, sangat tenang dan damai. Ku cium keningnya dan pergi mengejar waktu. Aku bertekad akan menyelesaikan urusanku secepat mungkin dan kembali lagi Jumat malam. Tidak akan terlambat lagi.
__ADS_1
…
Sudut Pandang Jade
Mereka tidak mengerti, bukan ini yang ku inginkan ketika mereka menemukanku di ruang bawah tanah. Seharusnya mereka membiarkan saja. Aku ingin pergi selamanya. Bukan dibangunkan agar hidup kembali.
Dan dia berpura-pura baik sekarang. Menyebut dirinya mama? Mama apaan? Bukankah mama yang selalu digambarkan oleh orang lain itu sangatlah indah? Mereka menyayangi setiap makhluk yang lahir dari rahim mereka. Apakah aku benar-benar berasal dari rahimnya? Berani-beraninya dia menyebut dirinya mama. Dan kenapa sekarang? Bukankah dia seharusnya melakukan itu bertahun-tahun yang lalu? Saat aku paling membutuhkan seorang mama? Dia malah menelantarkan aku dan kebingungan seumur hidup. Dia bicara tentang maaf setiap hari. Seolah-olah maafnya bisa memutar waktu dan kami bisa kembali memperbaiki segala sesuatu. Dia bicara bahwa hal-hal yang terjadi bukanlah salahku. Dia bilang mencintaiku. Benar-benar munafik! Setelah bertahun-tahun, dia berani mengatakan cinta padaku? Aku benci dia. Kebencian yang tidak bisa ku ekspresikan. Ingin ku teriakkan kata-kata amarah, namun lidahku kelu. Ku harap dia mampu melihatnya dari sorot mataku.
__ADS_1
Dan Earnest. Aku tidak bisa menghitung berapa ratus hari telah berlalu. Bagiku hari-hari sama saja. Kecuali jika waktunya dia datang. Debar-debar di hatiku masih berdetak dan itu membuat hari Jumat berbeda.
Dia masih Earnest yang dulu, tidak berubah. Melakukan hal yang sama setiap kali datang. Aku penasaran, sampai kapan dia akan bertahan bersikap seperti itu. Tidakkah dia capek dan menyerah saja? Agar aku pun tidak kesulitan berusaha karena dia. Manusia seperti aku harusnya cukup tau diri untuk tidak menginginkan manusia luar biasa seperti dia. Aku lupa menghitung berapa banyak buku yang telah dia bacakan untukku. Aku bahkan lupa buku mana yang menceritakan kisah yang mana. Dia menempatkan buku-buku itu di sebuah rak buku di sudut ruangan. Sudah hampir penuh memenuhi setiap ruang yang ada. Dan entah sudah yang ke berapa rak buku itu berganti. Mulai dari rak yang berukuran kecil sampai besar. Mungkin mereka tidak bisa menduga sampai kapan mereka akan membacakan buku-buku itu. Sepertinya, sebentar lagi pun, mereka akan membeli satu rak yang berukuran lebih besar. Earnest selalu datang dengan membawa buku.Wanita itu juga sering membawa buku.
Mereka tidak berhenti. Kemurkaan dan kemarahan di hatiku yang mengkristal perlahan mencair. Aku lupa perasaan yang dulu pernah ku pegang. Aku sempat bersumpah akan membiarkan mereka tersiksa dengan keadaanku yang seperti itu. Aku mulai menunggu dia datang. Setiap Jumat sore selesai makan dan beres-beres, aku berdiri di jendela menatap keluar. Begitu ku lihat hidung mobilnya masuk, aku bergegeas tidur. Asal dia datang saja, aku sudah nyaman. Kadang, aku hanya pura-pura tidur. Aku menikmati suaranya ketika membacakan semua buku. Aku mendengar semua curhatannya, kadang sambil tertawa, kadang menangis, seolah-olah aku meresponnya dengan baik. Aku suka ketika dia menyentuh kepalaku dan mencium ubun-ubunku atau keningku, kadang di bibirku.
Kemudian rasa takut perlahan menghampiri. Bagaimana jika mereka berhenti bersikap sebaik ini? Bagaimana jika akhirnya mereka memutuskan meninggalkanku setelah mereka pikir aku cukup baik untuk ditinggal sendiri? Aku takut dan memutuskan untuk berada dalam keadaan itu selamanya. Jika keadaanku bisa membuat mereka mengelilingi aku selamanya dan mencurahkan perhatian, akan ku lakukan begitu. Selama aku bisa memiliki semua perhatian dan kasih sayang yang berlimpah dari mereka, aku bisa berada dalam kondisi itu selamanya.
__ADS_1
Dan orang itu. Aku tidak mengenalnya. Aku hanya pernah melihatnya dari TV atau internet karena dia terkenal, dia adalah papanya Gaia. Setiap kali dia datang berdua dengan wanita itu, aku melihat pemandangan yang indah dari dua orang yang saling mencintai. Mereka berdua kelihatan bahagia. Kadang, dia datang sendirian membacakan buku bergantian dengan wanita itu. Jujur aku suka. Suaranya yang khas kebapakan terdengar seperti musik di telingaku. Kadang, dia tidak membacakan apa pun. Dia hanya bicara sendirian menceritakan semua yang ingin diceritakannya tentang wanita itu. Sedikit banyak aku akhirnya tau bagaimana perjuangan perempuan itu menjalani tahun pertama ketika dia tiba di negeri ini. Kondisinya sangat buruk, dia kelihatan seperti orang gila dan harus mengunjungi rumah sakit jiwa secara rutin. Akibat keadaan yang ku alami. Jadi begitu. Ternyata, bukan hanya aku yang menderita saat itu. Tapi terus kenapa? Fakta bahwa dia meninggalkan ku sendirian masih tidak dapat ku terima. Kemudian aku curiga, jangan-jangan wanita itu yang meminta dia untuk menceritakan itu semua agar aku dapat memaafkannya.