Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
Putri Kegelapan


__ADS_3

Haruskah aku marah pada diriku sendiri? Jika iya, dimulai dari mana? Sejak aku bisa mengingat, aku sudah hidup sedemikian rupa. Andai aku masih di sana, mungkin semua hal yang ku hadapi tidak akan kelihatan salah. Karena aku sudah tumbuh dan hidup dengan cara itu. Lihat kan? Yang salah adalah wanita itu. Kenapa repot-repot membawaku keluar dari sana hanya untuk menelantarkan aku sendirian. Dia seharusnya bertanggung-jawab atas semua hal pahit yang ku alami.


Aku perlu melakukan sesuatu sekarang, tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi.


Aku bergerak sepelan mungkin agar Earnest tidak terbangun. Aku ambil waktu sejenak untuk mengabadikan  raut wajahnya dalam benakku. Hanya melihat damai yang ada di sana, aku sudah tau bahwa kami tidak ditakdirkan untuk satu sama lain. Dia laksana seorang pangeran yang datang untuk menyelamatkan aku. Namun seperti di cerita-cerita, putri yang diselamatkan adalah putri yang baik hati. Bukan orang gila seperti aku. Dia harus tetap tinggal di sana, mungkin akan menemukan putri yang tepat untuk hidupnya kelak. Dan aku? Aku perlu mencari tahu apa yang harus ku lakukan selanjutnya dengan hidupku. Apa aku harus kembali ke asalku? Karena di sanalah realita hidupku?


Aku menggunakan handphonenya untuk mengirim pesan pada Drey. Aku sudah menyiapkan beberapa jenis makanan yang terkenal enak di sekitar kota itu, lebih jauh lebih bagus, dan meminta mereka membeli saat itu juga. Pertama perintah kepada Drey. Setelah aku mengira-ngira bahwa dia berangkat, ku kirim pesan berikutnya pada Andrew, dan terakhir pada Fred, untuk mengerahkan semua pasukan yang ada mendapatkan makanan yang ku pesan tidak peduli seberapa jauh dan lama. Mereka harusnya sudah meninggalkan base masing-masing. Aku pun bisa dengan aman keluar dari tempat itu.


Dengan berbekal uang cash dari dompetku, dan menambahkan beberapa dari dompetnya --aku memutuskan tidak membawa kartu jenis apa pun agar tidak meninggalkan jejak-- aku pergi. Aku hanya membutuhkan diriku dan sejumlah uang untuk membayar takksi. Sisanya, akan ku pakai sampai menemukan ide aku harus bagaimana selanjutnya. Aku pasti menemukan sesuatu sebelum uang di tanganku habis. Aku berangkat dari pinggir jalan agak jauh dari lobby. Setelah mengulang alamat dengan jelas, pengemudi menjalankan taksinya.

__ADS_1


...


Aku kembali ke tempat ini lagi. Tempat yang ku salah artikan sebagai kastil yang ku tuju, dan heran, kenapa tidak seindah yang sering kami bayangkan dulu.


Kamar itu kosong, sebagaimana mestinya. Siapa yang mau menghabiskan uang untuk tinggal di tempat seperti ini? Udara sangat lembab, berbau dan kotor. Suasana yang khas, karena meski begitu, kami pernah bertahan tinggal selama 3 bulan. Mungkin karena kami tidak punya uang, seperti kata wanita itu.


Ku baringkan tubuhku di sana selama beberapa saat, memeluk diriku sendiri, mengenang waktu 14 tahun yang lalu. Aku berterima kasih pada diriku sendiri karena telah bertahan selama itu. Tak lupa berterima kasih pada wanita, karena bagaimana pun juga, dia telah berjuang untuk ku saat itu, saat yang paling sulit bagiku. Keadaanku sangat aneh. Dia pasti merasa takut, namun dia bertahan. Dia bicara sendiri sepanjang waktu karena aku tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Dia mengatakan semua yang dia bisa. Terkadang aku bahkan tidak mengerti kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dia sering menangis ketika melihat aku berjuang dengan diriku sendiri. Sekarang aku bisa sedikit memaafkannya. Pria itu, yang harusnya ku panggil papa, telah menjadikan aku seorang pecandu, namun dia membantu aku berjuang untuk lepas dari ikatan itu dan memulai hidup normal.


Namun arti kata itu bisa berbeda tergantung dari sudut pandang orang yang mengalaminya. Hidupku selama di dalam istana itu adalah normal bagi kami. Aku bahagia selama 7 tahun berada di sana. Setiap hari adalah hal yang ku tunggu-tunggu karena aku akan duduk semeja dengan pria itu dan bisa mengaguminya sesuka hati meski hanya dalam diam. Dan apa pun yang terjadi di sana, adalah sebuah rangkaian aktivitas normal. Bagi kami, itu adalah cara hidup yang normal. Bahkan jika akhirnya aku mati di atas meja persembahan itu pun, aku masih akan menganggap hal itu adalah wajar. Sampai akhirnya aku dibawa ke dalam dunia yang berbeda. Nilai-nilai baru yang ku serap sangat kontradiktif. Aku yang tadinya malaikat tidak lebih hanya seorang penjahat yang menjijikkan.

__ADS_1


Salah siapa? Harusnya salah wanita itu. Dia harusnya membiarkan saja. Dia harusnya tidak tau apa-apa sehingga tidak perlu melakukan apa-apa. Dia harusnya tidak mengacaukan filosofi hidupku dengan bertindak semau dia. Jadi haruskah aku marah atau berterima kasih? Karena bagi dia, apa yang dia lakukan adalah tindakan benar.


Aku penasaran. Mengapa dia harus mengambil aku dari sana hanya untuk melemparkan aku ke jalanan? Apa yang salah dengan keyakinan pria itu yang ternyata adalah papaku? Tidak bisakah dia memahami bahwa apa yang dilakukan oleh papaku adalah hal yang benar berdasarkan sudut pandangnya? Kami semua yang ada di tempat itu adalah anak-anaknya, jadi adalah wajar apabila kami mengikuti semua instruksinya. Mengapa repot-repot mengambil aku dan mempertaruhkan nyawanya? Terlebih lagi, ketika yang bisa dia lakukan hanyalah membuangku seperti bukan siapa-siapa. Ditambah lagi, dia hanya menonton aku dalam keadaan yang sengsara dan dia tidak berbuat apa-apa. Jadi siapa di antara mereka berdua yang jahat?


Haruskah aku pulang pada papa? Tapi bagaimana caranya? Aku bahkan tidak tahu di mana tempat itu. Dan kalaupun aku tau, seberapa penting kepulanganku ke sana? Akankah aku kembali menjadi salah seorang putri terpilih? Mewarisi kerajaannya? Mungkin itu bagus, aku akan mewarisi istananya. Tidak apa-apa jika dia ingin menjadikan aku selirnya. Memangnya kenapa? Bagaimanapun juga dia adalah papaku. Dia punya hak untuk melakukan apapun yang dia inginkan atas hidupku. Toh itulah tujuan aku dilahirkan ke dunia ini kan?


Ku biarkan semua pikiran dan pertanyaan itu berseliweran di benakku. Aku bimbang, harus di atas nilai apa aku berdiri? Aku tau bahwa aku harusnya hanya memilih satu. Tapi kedua tempat itu sepertinya sudah tidak bisa menerimaku. Jika aku pulang ke istana itu, aku bukan lagi seorang putri yang murni. Mungkin tidak akan bisa dimanfaatkan jadi apa pun. Kemungkinan besar, yang ku terima adalah hukuman. Jika aku tetap di sini, aku jelas-jelas tidak normal dari sudut pandang mereka. Aku pantas dihukum atau bahkan disingkirkan jauh-jauh.


Perlahan ku atur tubuhku dengan posisi berbaring, aku sudah tidak sanggup merangkul lututku. Punggungku terasa nyeri. Ku pejamkan mata meski pikiranku tetap sibuk berpikir. Cuaca dingin yang membekukan itu bukan apa-apa bagiku. Aku sudah mati rasa.

__ADS_1


__ADS_2