
Dengan segera, aku turun dari tempat tidur. Aku tidak peduli lagi dengan lantai yang yang dialiri air sedingin es. Biar saja, toh aku tidak akan merasakannya lagi. Itu terakhir kali. Aku melangkah dan menghadap ke cermin. Aku ingin melihat diriku untuk terakhir kalinya. Mereka bilang, setelah sampai di meja persembahan, aku tidak akan kembali ke tempat ini lagi. Sebaliknya, aku akan terbang ke langit biru yang indah, yang penuh dengan kastil megah. Di sana, aku boleh memilih kastil untukku sendiri. Aku tidak akan menatap dinding dan langit-langit batu ini lagi.
Aku baru akan meraih botol minyak untuk merapikan rambut dan wajahku, namun dia bergerak mendekati aku dengan tergesa-gesa. Dengan sikap terburu-buru, dia memberiku sebuah jubah hitam, persis seperti yang dipakai oleh para malaikat hitam. Kenapa? Aku adalah malaikat putih. Sudah seharusnya mengenakan jubah putih. Masih ingin kelihatan sopan dan baik, aku menerima saja, namun rasa heranku harus disalurkan dengan baik.
"Apakah kami akan mengubah jubah yang kami pakai menjadi hitam setelah terpilih?" Dia menatapku lagi. Sebuah diam yang tidak dapat ku mengerti selama beberap detik.
“Benar. Kamu tidak akan menggunakan warna putih lagi. Karena sekarang, kamu adalah putri pilihan.” Dia menjawab dengan tegas. Oh begitu. Tentu saja aku senang menerimanya dan memakainya. Belum pernah ada cerita-cerita mengenai apa yang terjadi setelah keputusan putri terpilih diumumkan. Bagaimana mungkin? Semua putri pilihan itu sudah terbang ke langitu biru dan hidup di kastilnya masing-masing. Tempat itu dan wilayah kerajaan ini tidak tersambung sama sekali. Jadi tidak pernah ada cerita bagaimana proses itu terjadi.
Dia membantu aku merapikan jubah itu di tubuhku. Menyelipkan rambutku yang panjang ke dalam jubah agar hoodie bisa dipasang dengan baik di kepalaku. Persis seperti malaikat hitam, hampir seluruh wajahku tertutup. Aku hanya bisa melihat kakiku dan panjang wilayah sepanjang dua langkah ke depan. Tidak masalah, dia pasti akan menuntunku.
__ADS_1
"Ikut aku." Dia memberi perintah.
Kami keluar dari ruangan. Aku mengikuti ritme langkah kakinya, yang sedikit terburu-buru. Bukan cara berjalan yang normal di lingkungan kerajaa. Aku ingin bertanya kenapa harus terburu-buru. Tapi tidak. Aku tidak boleh membuat kesalahan sampai mencapai meja persembahan. Bagaimana kalau tiba-tiba saja mereka merasa bahwa aku merusak suasana yang harusnya berjalan khusuk dan damai, dan membatalkan pemiihanku? Tidak boleh terjadi. Dengan berusaha tetap anggun, aku melangkah menyusul dia.
Itu adalah jarak yang terjauh yang pernah ku tempuh selama di sana. Saat itu suasana sangat gelap. Anehnya, kami tidak berpapasan dengan siapapun, dan tidak menabrak siapa pun, padahal kami berjalan cukup cepat. Apakah mereka menyingkir begitu melihatku? Terbersit rasa bangga. Apakah jalan dibersihkan untuk ritual persembahanku? Namun berkelebat sangat banya tanya selama proses menuju ke tempat itu. Ada yang aneh, rambutku kan belum mencapai pergelangan kaki? Masih mencapai lutut, lebih sedikit. Apa mungkin karena aku bersikap baik selama ini?
Euforia itu membuatku bertahan. Salah satu suara kecil dari dalam hatiku sudah memberi peringatan, bahwa kejadian itu cukup aneh. Tapi aku berusaha meredam suara, tidak ku pedulikan.
Kami berjalan sudah cukup lama, jalanan menuju meja persembahan itu cukup panjang. Tapi bukankah selama ini kami bisa tiba disana dengan cepat? Kenapa jadi panjang? Ku tepis lagi pertanyaan-pertanyaan itu. Satu hal yang pasti, bahwa istana kerajaan itu memang sangat luas. Dan selama ini kami baru hanya melihat satu bagian kecil saja. Dengan mudahnya, aku pun kembali merasa senang, karena bangga.
__ADS_1
Kami menuruni tangga yang cukup panjang dan sempit, lembab, dan licin. Sehingga kami harus berjalan dengan pelan-pelan dan sangat hati-hati. Ada bau yang tidak sedap. Sangat menyengat. Sesuatu yang baru, tidak pernah ada selama aku berada di dalam istana. Ruang aula pertama, di mana ratusan anak raja berkumpul, ketika aku masih kecil, memiliki bau yang tidak enak. Tetapi bau ini adalah sesuatu yang baru. Sangat tidak nyaman mencium udara yang sedemikian tidak bagus selama beberapa saat, namun aku masih berjuang untuk tidak menutup hidung, agar tampak elegan.
Aku terlalu sibuk menata perasaanku dan tidak sadar, akhirnya aku melihat cahaya. Cahaya redup, dalam bentuk titik-titik, di antarai warna hitam, jauh di depan kami. Aku belum pernah melihat cahaya sejenis itu. Satu-satunya cahaya yang ada di dalam istana adalah matahari dan langit-langit yang terang benderang di aula meja perjamuan dan ruang meja persembahan. Euforia yang ku tadi agak padam, menyala lagi, kali ini dengan versi yang berbeda. Sensasi yang ku dapat ketika melihat cahaya kecil-kecil itu membuatku melayang, membayangkan keindahan baru apa lagi yang akan ku lihat.
Setelah anak tangga selesai, kami menapakkan kaki, melangkah di atas jalan setapak yang tidak bersih, berwarna tidak indah, sama sekali tidak rapi dan masih dengan bau yang tidak sedap, bahkan lebih menyengat. Semakin jauh, jalanan itu semakin sempit dan lembab, bahkan ada air mengalir mencapai pergelangan kakiku. Bukan air jernih dan terasa sejuk yang mengalir di lantai kamarku. Airnya berwarna hitam pekat. Aku menduga, bau yang tercium dari tadi berasal dari sana. Dan rasanya geli menyentuh kulit kakiku. Air itu berbunyi bising ketika kami melangkah, bukan bunyi nyaring cipratan air di lantai kamarku. Aku sibuk membanding-bandingkan sambil bertanya-tanya, berapa lama lagi kami harus berjalan?
Kemudian kami berada di sebuat tempat yang baru. Cahaya kecil-kecil yang tadi ku lihat semakin jelas. Jumlahnya sangat banyak dan meliputi tempat yang sangat luas. Aku merasa seperti sebuah benda kecil yang sedang berhadapan dengan benda raksasa. Semakin ku edarkan pandangan, semakin nanar mataku melahap keindahan itu. Aku penasaran, apa itu? Tapi aku tidak berani bertanya, tidak ingin memecah konsentrasiku. Aku harus fokus pada tujuan. Yang lain-lain tidak penting. Ku coba menikmati pemandangan baru itu sebisaku. Aku terpana. Cahaya-cahaya itu berkelap-kelip, beberapa dari mereka seperti berasal dari raksasa benda besar dan tinggi berbentuk kotak.
Tapi tempat apa ini? Apakah mungkin istana kerajaan yang sangat luas yang selama ini kami perbincangkan ketika membersihkan di kolam renang, seluas ini? Ah, bisa jadi. Aku sedang dibawa menikmati pemandangan istana secara keseluruhan sebelum waktu persembahanku tiba. Aku menambah satu alasan lagi untuk berbangga dan merasa senang.
__ADS_1