
"Drey…" Jade memanggil namanya dengan riang dan melambaikan tangannya begitu melihat sosok Drey, sambil tertawa senang. Apaan sih? Aku tidak senang dengan pemandangan itu. Aku memutar mataku ke arah Drey untuk memberi isyarat padanya, supaya memberikan respon yang secukupnya saja. Jangan coba-coba bersikap sangat dekat, takutnya Jade akan memeluknya saking senangnya. Sama sekali tidak boleh. Dia tampak mengerti. Drey keluar dari mobil kemudian membungkuk kepada kami dan menyapa dengan sopan.
"Hai lady boss. Senang bertemu denganmu lagi..."
"Iya! Aku senang melihatmu lagi!" Drey membungkuk lagi, lalu bergerak dengan sigap untuk membuka pintu. Jade menatapku curiga, menyipitkan matanya, tapi ku abaikan tatapan mata itu. Kami masuk ke dalam mobil. Dan dia memulai obrolan dengan semangat.
"Drey, apa kabar? Maukah kamu bergabung dengan kami nanti jalan-jalan?" Dia menawarkan.
"Iya lady boss, tentu saja. Tapi aku akan mengikuti kalian dari jauh..." Jawab Drey dengan tegas tanpa terkesan intim. Jade memutar matanya ke arahku lagi. Ku lebarkan mataku, pura-pura tidak mengerti apa maksudnya.
"Daddy… ?" Dia menuntut.
"Iya, sayang?"
"Kau tahu apa yang ku maksud kan?" Dia menuntutku melakukan apa yang dia mau, argh!
"Oke oke… Aku tau. Tapi tetap, tidak ada yang akan berubah. Kita tetap laksanakan sesuai rencana."
"Rencana apa?" Dia bertanya.
__ADS_1
"Sayang… Pertama, kita harus bertindak dengan hati-hati untuk keselamatanmu. Bukan hanya Drey, ada banya pengawal yang sedang mengikuti dan memantau dari jauh untuk menjaga kita."
"Oh iya? Untuk apa daddy? Kita kan baik-baik saja..."
"Iya, kita baik-baik saja. Tapi selama kamu tetap dekat dengan mama Kim, tindakan seperti ini diperlukan. Untuk berjaga-jaga. Dan mama Kim maunya begini. Oke?" Dia terdiam dan berpikir.
"Haruskah kita pulang saja daddy?" Dia berkata dengan yakin, seolah-olah itu bukan pertanyaan. Aku menatap matanya dan menyesal telah mengatakan alasannya. Kami seharusnya bisa bersenang-senang tanpa kuatir oleh apa pun.
"Tidak sayang. Ayo bersenang-senang. Jangan khawatir. Kita hanya butuh ini untuk keamanan. Mereka juga akan bersenang-senang kok. Tapi kita harus menetapkan batas-batas tertentu, orang-orang seharusnya tidak menyadari bahwa kita sedang dijaga. Oke?"
"Oh begitu…"
"Iya sayang. Tapi jangan khawatir. Kita hanya perlu have fun. Oke?"
"Ah, iya, yang kedua. Mereka akan mengawasi kalau-kalau ada yang mengenal Earnest Lee dan mungkin mengambil foto atau sebagainya terus menyebarkan di internet. Ini hal normal terjadi. Tapi untuk hari ini, tidak boleh ada foto yang diambil. Selama aku bersamamu, mereka harus mencegah hal seperti itu terjadi. Dan yang ini, tentang Drey, kau ingin kita bertiga jalan-jalan bersama gitu? Kita bertiga? Apakah kau mau aku mematuhi ide bodoh itu sayang? Tentu saja tidak. Perhatianmu seharusnya hanya fokus padaku, tidak boleh terbagi pada yang lain, terutama laki-laki. Mengerti?" Ekspresi khawatir yang ada di wajahnya berubah dengan cepat, dia tersenyum menggodaku dan Drey batuk kecil. Jade tertawa lepas. Ah, baguslah, setidaknya dia bisa tertawa dengan lepas. Kemudian keadaan menjadi sedikit lebih santai.
"Daddy, kamu cemburu? Pada Drey?" Dia tidak percaya. Aku memutar mataku tak percaya juga, menanggapi godaannya. Aku bertekad menempatkannya di posisiku agar tau bagaimana rasanya.
"Bukan hanya Drey, laki-laki mana pun, ini berlaku. Ya… Kecuali papa. Coba bayangkan, bagaimana kalau aku mengalihkan fokus pada wanita lain juga, apa tidak apa-apa untukmu?" Dia pura-pura berpikir, mengelus-elus dagunya sambil ngangguk-ngangguk.
__ADS_1
"Ya… Oke. Tidak masalah. Aku sama sekali tidak keberatan daddy…" Dia menjawab dengan pasti. Ku tatap wajahnya yang innocent dan aku tidak bisa terima. Tidak apa-apa!?
"Jade, beneran? Wah... Apakah kau benar-benar mencintaiku sayang? Kenapa aku tidak merasakan sebuah rasa kepemilikan darimu? Aku ini kekasihmu loh…?"
"Mmm… Aku mencintaimu daddy. Tapi apa hubungannya? Masak daddy jadi tidak bisa bicara dengan orang lain? Ya kadang-kadang kita memang harus fokus pada orang lain sesuai kepentingannya kan?" Dia menjelaskan, dan itu sangat masuk akal. Tapi aku menjadi semakin kesal karena dia tidak paham apa maksudku. Tapi bagaimana pun juga, ada kaitannya. Banyak malah. Tapi aku senang dengan kata-katanya yang mengatakan dia mencintaiku.
"Oke, tapi tetap saja, itu masalah bagiku. Jangan pernah mencoba untuk bersikap ramah kepada pria mana pun. Mau siapa pun dia. Drey, fokus pada kemudimu."
Aku melihat betapa kerasnya Drey berjuang untuk menahan ketawanya. Mungkin kelihatan lucu bagi mereka, tapi tidak bagiku. Aku sedang sangat serius dengan hal ini. Satu-satunya fokus Jade seharusnya hanya aku. Ini adalah variabel tetap. Tidak bisa ditawar-tawar karena sudut pandang apa pun. Ah, akhirnya Jade mengerti apa maksudku. Dia menggeser duduknya lebih dekat padaku, memeluk lenganku dan menyandarkan kepalanya di sana.
"Oke daddy. Aku paham maksudnya. Aku hanya akan fokus padamu, Tuan Lee. Haruskah ku cium pipi daddy?" Dia berbisik. Apaan? Kenapa harus bertanya? Ku tutupi wajah kami dengan telapak tanganku dan mencium bibirnya. Dia tersipu. Hanya dengan wajahnya yang bahagia dan merona mampu membuatku terbang melayang berkali-kali.
"Haruskah kita membatalkan perjalanan ini daddy? Dan langsung ke tempat yang daddy maksud, hanya ada aku dan daddy…" Dia berbisik lagi, aku tercengang, menatap matanya, mencoba meyakinkan bahwa dia tau apa yang sedang dimintanya. Namun kemudian aku ingat, dia adalah Jade. Gadis yang selalu apa adanya, dengan bebas mengutarakan isi hatinya. Dirinya yang dulu, yang sangat terbuka sudah kembali. kenapa aku lupa?
"Apa maksudnya ini?" Aku pura-pura tidak mengerti bermaksud menggodanya. Dia cemberut, memonyongkan bibirnya, mengambil jarak kembali ke posisinya semula. Tapi ku bawa dia kembali ke pelukanku, dia tidak boleh jauh-jauh dariku.
"Oke. Aku mengerti. Ayo makan dulu, terus kita beli handphone untukmu dan selesai. Kita pulang. Bagaimana menurutmu sayang? Setuju?" Dia memelukku erat dan menyandarkan kepalanya di dadaku.
"Setuju daddy…" Dia berbisik. Aku tersadar bahwa kami tidak hanya berdua di dalam mobil itu. Ku periksa ekspresi Drey, dia sedang berusaha keras untuk fokus pada setir dan jalanan.
__ADS_1
Kami mampir ke Starbucks sesuai permintaannya. Ingin memakan kesukaannya, panini tuna sandwhich. Dan kami memesan teh sebagai pendampingnya. Dia kelihatan sangat senang dan menikmati sandwhich dengan khidmat. Aku menikmati pemandangan itu, Jade yang dulu sangat menghargai makanan kembali. Dan itu pun mampu membuat hatiku berbunga-bunga.
Kemudian kami handphone store untuk membeli handphone barunya. Dia memilih accessories cute untuk menghias handphone. Setelah mengaktifkan nomornya, kami menjalankan rencana untuk mengirim pesan kepada mama dan papa Kim. Dia memutuskan untuk mengirim pesan teks untuk mereka berdua. Menelpon mereka dan bicara masih asing baginya.