
Sejak menerima ultimatum itu dari papa, aku tinggal di rumah. Tidak diijinkan ke mana-mana, bahkan ke kantor pun tidak. Aku bekerja dari kamarku, secara online. Para pegawai serta kolega datang ke rumah jika ada sesuatu hal yang urgent dan penting yang membutuhkan kehadiranku secara fisik. Sisanya, aku bekerja lewat telpon ataupun conference. Aku menuruti kemauan papa untuk tinggal di sana, namun usahaku untuk menemukan jawaban dari pertanyaan dan rasa penasaranku tidak akan berhenti. Aku harus menemukan sampai titik terang. Karena aku tidak ingin memutuskan melepaskan Jade begitu saja tanpa tau alasan yang jelas. Tentu saja, sambil berharap, hubungan kami tidak menemukan masalah apa pun dan kami bisa bersama selamanya.
Jade? Aku tidak bisa menghubunginya sama sekali. Nomor handphonenya tidak aktif sejak ku antar dia ke bandara. Aku bahkan tidak mendapat kabar jika dia tiba di Seoul dengan selamat atau tidak. Apakah dia baik-baik saja setelah peristiwa yang bikin patah hati itu. Bagaimana tidak? Kami datang ke sini untuk mencapai penghujung yang indah dari hubungan kami. Ternyata tidak sesuai dengan yang kami harapkan. Aku sangat ingin pergi ke Seoul untuk memastikan, tapi di sinilah aku terkurung. Perasaanku galau, ada di puncak galau yang sebenarnya. Belum lagi rindu. Argh!
Demikian juga papa dan mama Kim. Mereka tidak bisa dihubungi. Telponku tidak pernah digubris. Aku mengingat kembali percakapan kami di saat pertemua kedua belah pihak. Papa mama bicara sangat pedas. Seolah-olah Jade datang hanya dengan tampilan fisiknya yang sempurna. Dan bagi keluarga kami, tampilan fisik bukan sesuatu yang patut dibanggakan. Manusia sejati itu adalah perpaduan antara intelektual dan prestasi. Hinaan itu dikemas dalam bahasa yang intelektual yang memungkinkan orang awam sulit untuk mencerna. Mama papa tidak tau, meski tidak berpendidikan tinggi dan berprestasi, Jade adalah manusia genius. Hanya nasib yang membuat dia berakhir seperti sekarang ini.
Begiutlah. Papa dan mama Kim tidak menggubris aku sama sekali, seolah-olah mereka juga setuju dengan pendapat papa dan mamaku bahwa kami memang tidak harus bertemu dan berhubungan lagi. Keadaan itu sangat menghancurkan hati. Rindu kepada Jade sudah tidak terbilang besarnya. Sewaktu-waktu bisa meledak.
“Bagaimana progress kerjasama dengan para calon brand ambassador dari Indonesia Drey?”
__ADS_1
“Untuk dua kandidat lain berjalan lancar boss. Divisi PR sudah bertemu langsung dengan mereka berdua, namun keseluruhan proses terhalang karena Chanel Travis tidak bisa bertemu secara langsung, sampai sekarang.” Argh! Semahal apa orang itu sehingga tidak bisa bertemu sama sekali? Ku hempas nafasku kesal.
“Bahkan divisi PR tidak bisa membuat pertemuan mereka menjadi mungkin? Kenapa kinerja mereka sangat jelek? Jadi apa keputusan divisi PR?” Aku bersungut-sungut. PR yang hebat itu harusnya bisa menjadikan yang tidak mungkin menjadi mungkin. Bukan membiarkan hal yang sudah terjadi begitu saja apa adanya.
“Mereka sudah mengusahakan boss. Tapi tetap saja. Chanel Travis tidak bisa memenuhi panggilan untuk pertemuan itu jika belum terikat kontrak kerjasama. Dan PR mengakui, dengan profil dan rekam jejaknya saja, sudah cukup untuk kita bisa memutuskan apakah bekerja sama dengan dia atau tidak. Sekarang, mereka sedang menyusun laporan boss. Segera akan saya kirimkan lewat email. Karena anda berpesan bahwa semua proses ini harus lewat persetujuan boss. Jadi mereka tidak berani memutuskan apa pun.”
“Siap boss. Akan saya susun rencanan perjalanannya. Kapan boss? Dan siapa saja?”
“Secepatnya. Tentative. Begitu kau dapatkan informasi bahwa Chanel Travis melakukan perjalanan ke suatu tempat, saat itu juga kita berangkat ke tempat yang sama.”
__ADS_1
“Siap boss.”
Ku baca laporan dari divisi PR. Jika bukan karena campur tanganku, mereka memberatkan pilihan pada Chanel Travis. Ku baca profilnya yang dengan lengkap dijabarkan. Semua foto profilnya disajikan sesuai citra diri Chanel Travis, elegan, berkelas dan mahal. Soal cantik atau tidak, tidak usah diragukan, 11 12 dengan Jade. Sangat cantik. Perawakannya sempurna. Yang membedakan dengan Jade hanya bentuk wajah mereka. Bentuk wajah Jade lebih tegas dibantu oleh rahangnya yang sangat on point. Sedikit lagi saja, wajah Chanel bisa dikatergorikan oval.
Prestasinya sudah lumayan banyak dan progressive jika dibandingkan dengan ketibaannya di Indonesia baru sekitar 3 tahun. Bisa dibilang, karirnya sangat melejit. Dia sudah menjadi brand ambassador berbagai produk lokal Indonesia dan sering diundang ke acara-acara berkelas barang branded dunia. Setiap kali dia hadir, acara itu akan menjadi hits, dan benda-benda yang diiklankannya memiliki laporan sales yang sangat signifikan. Kesimpulan divisi PR, jika kami bekerja sama dengan Chanel, produk global yang sudah terkenal sejauh ini akan memiliki kesan mendarat yang sangat bagus dan penjualan bisa dipastikan signifikan.
Aku galau. Tidak sulit untuk mengiyakan saja permintaan divisi PR untuk bekerjasama dengan Chanel. Secara profesional, aku seharusnya bisa mengandalkan proses research dan pertemuan yang mereka sudah lakukan sejauh ini. Aku tidak pernah mau mencampuri urusan pribadi selama sikap dan tingkah laku orang yang bersangkutan tidak menyalahi kaidah-kaidah yang berlaku di dalam masyarakat. Ku tatap profil diri Chanel Travis berulang-ulang. Semakin ku tatap, aku semakin mendapatkan bayangan Jade di dirinya. Aku akhirnya yakin, dia adalah salah satu dari kumpulan anak-anak dari istana neraka itu. Mungkin dia dibawa oleh Lucian Warren? Mungkin kah? Atau dia melarikan diri sendirian ke Indonesia?
Tapi tidak mungkin sendirian. Mereka sama sekali buta tentang dunia luar. Aku yakin mereka tidak akan bisa melakukan apa pun tanpa bantuan orang yang sudah familiar dengan dunia nyata. Siap itu? Pacar? Bagaimana mungkin dia punya pacar selama berada di sana? Apakah karena dunia sudah modern mereka jadi diijinkan memiliki handphone? Tapi itu adalah omong kosong yang lebih besar lagi. Untuk praktik kejam yang membutuhkan aktivitas brain-wash yang secara berkala dan mengakar, keberadaan handphone hanya akan merusak segala sesuatu. Mereka bisa melihat aktivitas dunia luar dan jika sudah begitu, tidak mungkin anak-anak itu mau tinggal lebih lama di sana. Jadi, pacar? Tidak mungkin. Ada seseorang yang membawa dia ke Indonesia. Besar kemungkinan, orang itu adalah Lucian Warren.
__ADS_1