Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
Bukan Hal Sepele


__ADS_3

“Tapi semua yang papa mama kamu bilang benar daddy. Sosokmu terlalu besar untuk seseorang seperti aku. Mereka bahkan belum tau siapa aku dan latar belakang hidupku. Bisa kau bayangkan bagaimana reaksi mereka jika mereka akhirnya tau? Sampai kapan kita bisa menutupi semua yang pernah terjadi padaku?”


“Sayang… Itu semua tidak ada gunanya. Namaku mungkin besar. Tapi aku tetaplah aku. Earnest Lee. Seorang pria biasa yang ingin memiliki wanita yang dicintainya. Itu semua tidak ada hubungannya dengan nama besarku atau tidak. Dengarkan aku, semua akan baik- baik saja. Aku akan bicara baik-baik dengan mereka. Percaya padaku, mereka akan paham dan setuju, kami akan datang segera untuk melamarmu. Oke?” Matanya nanar menatap mataku, di keseluruhan wajahnya hanya tertulis ragu.


“Jade, jawab aku sayang… Oke?”


“Oke daddy. Aku percaya padamu…” Akhirnya dia menjawab sesuai dengan yang ku mau meskipun wajah itu menyiratkan bahwa itu bukan jawaban yang dia mau. Ku peluk dia untuk terkahir kali. Kemudian dia melangkah menuju ruang tunggu untuk boarding bersama dengan mama dan papa Kim.


Aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri dan tentang Jade. Aku sampai lupa dari mana aku berasal. Itu adalah efek dari terlalu lama berpisah dari kedua orang tuaku. Sejak usia remaja, aku sudah terbiasa disibukkan dengan berbagai aktivitas dan lomba mengejar prestasi sampai akhirnya aku berangkat ke Korea untuk mengejar impianku sebagai penyanyi. Usiaku bahkan belum genap 15 tahun waktu itu. Papa dan mama pun percaya sepenuhnya padaku. Mereka mendukung secara moril dan materi, tidak pernah ada satu hari pun mereka tidak bertanya jika aku baik-baik saja dan mendapatkan semua yang ku butuhkan. Karena kesibukan yang sangat padat, karena seiring waktu karirku semakin menanjak, kami semakin sulit bertemu. Aku jarang berkumpul dengan keluarga besar. Mereka selalu berkirim photo atau video setiap kali mereka berkumpul dalam acara natal, tahun baru, ulang tahu, dan lainnya. Tapi hanya itu. Mungkin begitu caranya, aku pun lupa, bahwa keluargaku punya tradisi dan adat istiadat ketimuran yang sangat kental. Ku akui, aku memang bersalah.


Aku pulang ke rumah papa dan mama. Rumah yang sudah lama ku tinggalkan dan jarang ku kunjungi. Dan sekalinya berkunjung, aku membawa calon istriku. Aku baru menyadari, betapa tidak sopannya aku.

__ADS_1


Aku masuk ke dalam rumah dan menemukan papa dan mama masih duduk di ruang tamu. Peralatan pinggan tempat kudapan dan cangkir untuk teh masih ada di atas meja. Mereka pasti sedang menungguku pulang.


“Pa, ma…” Ku sapa mereka, yang serentak menoleh ke arahku.


“Duduklah…” Perintah papa. Aku mengambil posisi duduk di seberang mereka berdua.


“Earnest, dari awal sampai akhir pertemua tadi, semua salah. Apakah kau letak salahmu di mana?” Papa to the point bertanya dan menatapku tajam. Aku terdiam sejenak. Kesalahan yang mana kah yang dimaksud? Karena, memang banyak sekali yang salah.


“Aku sangat jarang berkunjung ke sini melihat mama dan papa, dan tiba-tiba datang untuk sesuatu yang ku mau. Tidak memikirkan apakah mama dan papa senang atau tidak…” Itu lah papa. Dia menungguku. Tidak menjawab sama sekali, hanya memandangiku. Dan mama pasti ikut-ikutan gayanya.


“Dan mungkin maksud papa dan mama adalah, aku membawa seseorang yang tidak kalian duga-duga, seperti yang kalian harapkan. Tapi yang ini aku tidak setuju pa, ma. Aku mencintai Jade. Aku tidak peduli apakah dia besar atau tidak. Aku melihatnya murni sebagai seorang wanita yang ku cintai. Dan kami saling mencintai. Bukankah itu cukup untuk melangkah ke jenjang pernikahan?” Kali ini, ku tatap mereka, sedikit menantang. Bagaimana pun juga, aku tidak terima jika itu adalah alasan yang mereka ajukan untuk tidak menyetujui pernikahan kami. Papa dan mama saling memandang penuh arti.

__ADS_1


“Baguslah. Kau menyadari kesalahanmu yang tidak pernah berkunjung ke sini. Kantor pusat Earnest Corps ada di Singapura, tapi tidak sekali pun berniat berkunjugn dan berkumpul bersama dengan keluarga besar Lee. Sepertinya kau terlalu disibukkan dengan keperluan pribadimu. Apa kau tidak sadar? Kau ini anak satu-satunya papa dan mama. Cucu laki-laki satu-satunya dari keluarga besar Lee. Sudah seharusnya kau bersikap dewasa dan bisa menjadi pusat dari keluarga ini. Nah, tiba-tiba datang dengan mendadak untuk mebicarakan hal yang sangat penting tetapi bersikap seolah-olah itu tidak penting…” Mama mulai dengan ceramahnya.


“Tapi ini penting ma. Justru karena ini penting bagiku maka kami datang dengan cepat. Jangan di lihat dari caranya…”


“Ini pernikahanmu Earnest! Kau ingat siapa dirimu? Cucu laki-laki satu-satunya yang akan jadi pewaris perusahaan yang sudah dibangun oleh kakek dan papamu. Dan kau ini adalah public figure. Banyak orang yang menjadikanmu panutan. Kau seharusnya melanjutkan legacy itu dengan berhati-hati memilih istri yang akan melahirkan keturunanmu…”


“Aku akan tetap melanjutkan tugasku ma. Tidak ada yang berhenti. Dan aku memilih Jade untuk menjadi istri dan ibu dari anak-anaku. Aku bisa memilih apa yang ku inginkan untuk hidupku dong ma…” Aku memelas.


“Kau sudah selalu berlaku begitu Earnest. Dan kami tidak pernah melarang. Mulai dari kecil, kau selalu melakukan apa pun yang kau mau dengan hidupmu. Sekolah, pertandingan, segala macam kursus dan les, berbagai prestasi yang kau inginkan sampai akhirnya kau berangkat ke Korea. Itu semua adalah pilihanmu. Papa dan mama tidak pernah menyetir kamu untuk melakukan apapun yang kau mau. Namun yang satu ini, tidak bisa. Kau akan memasuki babak kehidupan yang sangat penting. Yang hanya boleh terjadi sekali seumur hidup. Buang jauh-jauh pikiran gonta ganti pacar atau istri seperti yang banyak terjadi di lingkungan kerjamu…” Aku terhenyak. Memang, aku selalu diijinkan untuk melakukan apa pun yang ku mau dengan hidupku. Tapi pernikahan kan juga tentang hidupku. Apa bedanya?


“Pernikahan itu ada untuk menyatukan dua keluarga. Membuat kedua belah pihak semakin besar dan kokoh. Dan semua kondisi ini akan mengikat kalian dalam hubungan abadi yang tidak akan lekang oleh waktu, meski mungkin ada saat-saat di mana kalian sudah tidak lagi merasakan cinta. Cinta yang kau pikir ada untuk gadis itu saat ini, mungkin akan hilang beberapa tahun ke depan. Setelah itu, apa yang akan membuatmu tetap setia? Sudah kau pikirkan?”

__ADS_1


“Ma. Kami saling mencintai. Hubungan kami bukan seumur jagung. Kami sudah melewati beberapa kali saat-saat sulit dan kami bertahan. Tidak peduli berapa tahun lagi, kami masih akan terus saling mencintai dan tidak mungkin berpisah. Aku mencintai dia ma. Jika bukan karena dia, aku mungkin tidak kepikiran untuk menikah…”


__ADS_2