Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
Lunas


__ADS_3

"Lihat mataku. Jujur saja, ada apa dibalik sikap ini? Apakah ini benar karena aku akan menikah? Kau cemburu? Marah karena aku mengkhianatimu? Atau ada alasan yang lain…?"


"Saya menemukan seseorang yang saya suka..." Ku jawab dengan jujur. Aku merasa tidak perlu menutup-nutupi. Dia tertegun mendangar kalimat itu. Mungkin selama ini dia berpikir bahwa dia adalah pusat hidupku. Kenyataan bahwa aku menyukai orang lain mungkin tidak pernah terlintas di benaknya dan bisa jadi merupakan sebuah pukulan yang telak. Entah kenapa, orang-orang seperti mereka seringkali memiliki rasa kepercayaan diri yang sangat tinggi. Mengarah ke narsisme. Namun Gaia ada di puncak syndrom itu. Dia merasa sangat berkuasa, di atas segalanya dan amarahnya akan meledak jika kenyataan tidak sesuai harapannya.


“Kau menyukai seseorang? Siapa? Apakah aku mengenalnya? Sejak kapan? Kenapa aku baru tau? Tau kah kau? Ini adalah pengkhianatan Jade...” Aku pun jadi bertanya, benarkah aku sedang menghianatinya? Tapi aku tidak merasa begitu. Kami tidak punya ikatan janji apa pun. Jika dia bisa, kenapa aku tidak?


“Jadi, ketika kamu yang melakukannya, itu bukan pengkhianatan?” Aku mendesis marah dan menatap matanya tajam. Aku mendapat tamparan keras di pipiku, rasanya perih dan panas. Untuk tamparan sekeras itu, aku yakin akan meninggalkan bekas merah di sana. Tidak lama aku merasakan tetesan hangat. Dan rasanya panas terbakar, jemari Gaia yang penuh aksesoris dalam berbagai bentuk itu, melukai pipiku. Tenang Jade, ini belum seberapa. Aku berusaha menguatkan diri.


“Hei, kau berani menantang bicaraku sekarang? Jade, kau harus ingat bagaimana caranya kau bisa sampai di sini. Kau adalah gembel dan aku menyelamatkanmu dari tempat sampah. Kau tidak punya hak untuk membela diri di depanku. Itu bukan sikap yang pantas untuk manusia seperti kamu. Yang benar adalah, jika aku tidak  membutuhkanmu dan tidak memakaimu lagi, aku yang akan melemparkan mu kembali ke tempat pembuangan sampah. Kau tidak perlu bersikap seolah-olah kau hebat dan punya hak..." Dia berkata dengan nada lembut tapi sinis. Dan itu pun, apakah benar begitu? Iya, yang ini benar. Aku memang gembel. Jika bukan karena dia, aku mungkin masih tinggal di ruang bawah tanah yang lembab dan bau itu. Kecoa dan tikus adalah temanku sehari-hari.


Ku pejamkan mataku. Berusaha mencari-cari alasan dalam benakku bahwa aku sedang bertindak benar. Gaia sedang berusaha untuk menghempaskan mentalku ke tempat kumuh itu lagi. Tidak bisa! Aku bisa mendengar suara gemerutuk rahangku sendiri. Ku dengan dia mendengus tawa. Sepertinya dia puas dengan apa yang sedang disaksikannya.

__ADS_1


"Siapa wanita itu!?” Wanita? Oh, makudnya orang yang ku suka.


“Dia laki-laki...” Jawabku cepat.


"Seorang pria? Apa-apaan?! Seorang pria? Hahaha...” Dia tertawa dengan keras, dengan sarkasme.


"Kau selingkuh dan menghianati aku dengan seorang pria?" Dia kembali tertawa. Aku berada di puncak ketakutan. Air mataku mulai jatuh satu-satu.


Itu kali kedua dia melakukan hal serupa itu padaku. Yang pertama dulu, amarahnya membara saat mengetahui seorang teman prianya berusaha mendekati aku dengan berkirim pesan, nelpon bahkan pernah menjemput aku dari kantor. Dia marah karena aku merespon dengan baik. Maksudku dengan baik, pria itu kan temannya, aku berpikir bahwa sudah seharusnyalah aku bersikap baik dan sopan. Apalagi kami bertemu untuk sebuah urusan pekerjaan, tidak mungkin aku bersikap cuek dan tidak peduli. Tapi itu menyebabkan amarahnya meledak. Mulai dari menampar pipiku sampai berdarah, memukuli tubuhku sampai lenganku patah, dan aku harus menjalani perawatan di rumah sakit selama berminggu-minggu. Aku belajar satu hal sejak saat itu, bersikap baik pada seorang pria adalah sebuah kejahatan selama aku berada di bawah naungan Gaia. Dan masih saja, aku mendewakan dia.


Terjadi lagi. Namun aku bersumpah, itu adalah yang terakhir. Bekas luka di wajahku masih berdarah, karena aku memakai blazer, aku tidak bisa mendeteksi luka di area tubuh dan lenganku. Tapi rasanya sangat sakit, darah mengalir dari kulit kepalaku ke leherku. Serpihan kaca dari bingkai yang rusak berserakan di sekitarku. Mungkin beberapa serpihan menancap di kulitku. Tapi aku tidak boleh bergerak. Seperti biasa, aku harus menerima hukuman dengan patuh. Aku memang pengecut jika sudah berada di depan Gaia.

__ADS_1


“Diam kau perempuan ******! Aku sudah bilang! Jangan berani-beraninya menjawab-jawab ucapanku. Katakan padaku, siapa dia? Aku akan membunuhnya. Aku akan menghancurkan hidupnya!” Dia berteriak. Dan itu adalah tanda bahwa dia sedang menuju puncak amarahnya. Tapi aku bertekad untuk tidak memberitahunya. Yang bisa ku pikirkan saat itu adalah, untuk tidak membawa-bawa nama Earnest. Aku bisa bayangkan hal jahat macam apa yang bisa dilakukan Gaia untuk menghancurkan hidup seseorang. Dan diamku membuat amarah Gaia memuncak. Diambilnya tongkat golf dari tas golf yang bersandar di sudut ruangan dan dengan kalap mulai memukul tubuhku, di bagian mana saja yang bisa dia jangkau dengan tongkat itu. Sambil berteriak-teriak histeris.


"Siapa dia! Dasar kau perempuan ******!" Aku terus mendengar teriakan itu sampai kehilangan keseimbangan  tubuh dan jatuh ke lantai. Darah masih terasa menetes dan mengalir di beberapa area di tubuhku. Aku kehabisan tenaga untuk menanggung rasa sakit yang ku rasakan. Aku tidak bisa bergerak. Namun aku masih menyadari suasana panik yang ada. Gaia menggerak-gerakkan tubuhku, merasakan dia memeriksa hidungku dan mencoba membangunkanku.


“Jade… Bangun. Jade… Ayo, bangun...” Dan dia berteriak sekencang-kencangnya meminta pertolongan.


Cintanya padaku mungkin tulus. Jenis cinta yang dominan dan posesif namun tidak mungkin untuk dimiliki dengan leluasa. Dia adalah seorang putri di istana papanya, dia bisa mendapatkan semua yang dia mau sejak kecil, bahkan hingga saat ini. Dan dia berpikir bahwa dia juga akan bisa memiliki aku dengan caranya. Mengira bahwa aku adalah salah satu benda berharga miliknya, yang tidak boleh diambil oleh siapa pun dari tangannya.


Dan dari kejadian itu, aku berharap telah melunasi hutang padanya. Mungkin aku akan berakhir. Namun aku lega karena tidak akan pernah merasa berhutang budi lagi pada Gaia.


Dia berlari-lari kecil di samping sopirnya yang membawaku ke mobilnya. Sudah pasti, kami sedang menuju rumah sakit terdekat.

__ADS_1


__ADS_2