
"Boss..." Drey mendekat padaku dan menunjukkan sesuatu dari iPad yang dia pegang. Seorang wanita. Ku tatap Drey, mencoba memahami apa maksudnya.
"Coba perhatikan boss. Apakah kita memikirkan hal yang sama?" Aku sedikit kesal. Rasanya seperti sedang diberi quiz. Padahal aku sedang tidak mood untuk main-main.
"To the point saja Drey. Apa maksudmu?" Aku bahkan tidak tertarik melihat foto itu. Dia mendekat. Mengarahkan layar iPad padaku dan mulai menggeser foto-foto itu ke samping. Setelah beberapa foto, sesuatu berdenting di ingatanku. Dia mengingatkan ku pada seseorang. Jade. Ku tatap Drey dengan tajam.
"Tunggu. Jade yang lain?" Aku meyakinkan diriku. Mataku kembali ke layar dan mengikuti jari-jari Drey menggeser foto-foto yang lain.
"Oke. Cukup. Sekarang jelaskan lebih detail. Apa maksud dari foto-foto ini?"
"Seperti yang anda pikirkan boss. Dia adalah Jade yang lain. Dia adalah salah satu kandidat model yang akan kita pilih menjadi brand ambassador untuk launching produk Earnest fashion di Indonesia tahun depan. Saya tidak sengaja memeriksa semua file-file yang harus boss periksa. Mungkin karena tidak banyak yang mengenal nona Jade, sehingga foto ini masuk ke dalam berkas-berkas kita dengan begitu saja..."
"Indonesia...?"
"Iya boss."
"Sudah kau lakukan research untuk mendapatkan informasinya lebih detail?"
__ADS_1
"Sudah boss."
"Oke. Lanjutkan."
"Namanya Chanel Travis. Seorang keturunan Perancis yang tinggal di Indonesia, tepatnya Jakarta. Belum ditemukan sejak kapan dia ada di Jakarta --setelah ini akan coba saya telusuri lebih jauh-- dan sejak dua tahun belakangan dia menjadi seorang selebgram terkenal di sana. Melalui sosial media, salah satunya instagram. Dari akunnya saya dapatkan informasi bahwa dia membuat akun itu sekitar kurang lebih 3 tahun lalu. Namun dengan sangat aktif mem-posting foto-foto memakai barang-barang branded sejak dua tahun belakangan dan jumlah followersnya meningkat tajam sampai 10 juta lebih. Graphic engagement dengan followernya juga signifikan. Dia mulai dipakai untuk menjadi model untuk beberapa brand lokal. Dan beberapa bulan belakangan, dia masuk dalam lingkaran sosialita dan sering diundang setiap kali adal launching produk baru dari brand global atau lokal di Jakarta. Dari tumpukan para kandidat ini, posisinya ranking satu. Dari divisi PR saya dapatkan catatan, bahwa dia adalah kandidat yang paling direkomendasikan untuk menjadi brand ambassador Earnest fashion di Indonesia..."
"Ada berapa kandidat?"
"4 orang boss."
"Yang 3 lagi apakah juga selebgram?"
"Minta data perencanaan perekrutan ambassador ini dari divisi PR. Informasikan pada mereka bahwa saya akan terjun langsung dalam pemilihan ambassador kali ini. Jika mereka bertanya kenapa, katakan saja bahwa Indonesia adalah negara potensial untuk berkembangnya Earnest fashion. Jadi kita harus merencanakan dengan matang dan mengambil langkah super hati-hati..."
"Siap boss."
"Lanjutkan penyelidikan tentang dia. Temukan siapa keluarganya. Kalau bisa, temukan rumahnya. Selidiki diam-diam. Siapa tau memang ada hubungannya dengan orang yang sedang kita cari. Kirim salah satu orang kita untuk terbang ke sana mengikuti Chanel Travis. Segera informasikan, kapan divisi PR akan bertemu langsung dengan para kandidat. Kita berangkat bersama mereka."
__ADS_1
"Siap boss."
"Oke. Secepatnya Drey. Tidak lama-lama. Sudah pesan tiket ke Seoul besok?"
"Sudah boss."
...
Waktunya bertemu dengan Jade. Kekasih hatiku yang masih saja diam dan tidak bereaksi apa-apa ketika aku datang. Meski begitu, debar-debar halus di jantungku tidak pernah berhenti ketika berada di dekatnya. Kemampuanku untuk berdelusi bahwa dia mendengar dan paham percakapan satu arah yang ku lakukan, maupun buku-buku yang ku bacakan, semakin hari semakiin baik. Aku menjadi mahir. Aku memutuskan untuk memikirkan diriku sendiri saja dulu. Tidak tau sampai kapan keadaanya akan begitu, namun aku sangat peduli dengan perasaanku, rasa cintaku dan rinduku, harus selalu memiliki tuan dan secara terjadwal bisa diobati dengan melihat wajahnya. Begitu caraku berpikir agar bisa bertahan dalam keadaan yang tidak menentu itu.
Begitu hidung mobil memasuki gerbang, mataku langsung tertuju pada kamar di lantai dua. Langit masih sore, agak terang, masih kelihatan bayang-bayang yang ada di balik vitrase tipis jendela kamar itu. Dia di sana berdiri. Memandang keluar jendela. Bentuk delusi yang lain adalah, aku percaya bahwa dia sedang berdiri di sana menungguku datang sesuai jadwal. Ketika dia melihat mobil yang membawaku masuk ke dalam pekarangan, dia merasa tenang dan berbaring di atas tempat tidur. Aku tidak selalu yakin bahwa dia tidur. Meskipun dia terbaring, memejamkan mata dan tidak bergerak ketika aku datang. Tidak apa-apa sayang. Aku akan menunggu. Meski tidak ada tenggat waktu yang pasti, aku menunggu. Sama sekali tidak apa-apa, selama dia masih ada di sana. Menunggu bukanlah hal yang sulit. Ku sadari itu ketika menemukannya hampir tidak bernyawa di kamar lantai bawah tanah kurang lebih setahun yang lalu. Melihat dia yang sekarang jauh lebih baik. Setidaknya, aku masih bisa bersikap egois, mencintai dia dengan caraku.
Ketika masuk ke dalam kamar, aku melihatnya sudah terbaring di atas ranjang dengan mata terpejam. Belum ada yang berubah, wajah cantiknya maupun sikapnya. Kemudian ku cium kepalanya, wangi yang ku rindukan dari rambutnya masih sama. Aku duduk di samping ranjang dan mulai bicara sendiri. Menceritakan rutinitas yang ku kerjakan di kantor meskipun tidak banyak yang berbeda. Kemudian, aku melanjutkan membacakan sebuah cerita dari buku.
Aku melanjutkan membaca kisah Emily dari buku 'The Girl Who Chased the Moon' karya Sarah Addison.
Setelah ditinggal oleh mamanya, Dulcie, Emily akhirnya meninggalkan Boston untuk bertemu dengan kakeknya, Vance, di Mullaby. Semenjak tinggal di sana, dia dipertemukan dengan banyak hal baru dan menurutnya aneh –karena baru pertama terjadi– dan perspektif nya pun berubah seiring dengan usahanya untuk bisa beradaptasi dalam kehidupan yang serba baru. Kakek Vance yang dia pikir menakutkan karena ukurannya yang seperti raksasa, ternyata adalah pemalu. Ada banyak kejadian aneh lainnya yang menyambut Emily. Seperti wallpaper di kamarnya yang berubah sesuka hati, lampu putih aneh yang muncul di malam hari dari arah hutan di luar jendela kamarnya, serta objek yang muncul dan menghilang tanpa alasan.
__ADS_1
Sama seperti Emily yang tiba-tiba harus berada di sebuah tempat yang baru. Banyak hal yang aneh dan baru pertama kali dia temukan di sana. Namun hidup tetap berjalan sebagaimana hidup. Tidak peduli seaneh apa, dan tidak seenak apa, Emily masih bisa menemukan hal-hal indah di sana dan akhirnya bisa beradaptasi. Ternyata, pada akhirnya, manusia itu sama saja. Di mana-mana, akan ada orang yang jahat, namun banyak pula orang yang baik. Dan kapan pun itu, orang jahat bisa berubah menjadi orang baik, demikian pula sebaliknya. Tergantung kita pilih mau menjadi orang yang bagaimana. Dan apa pun pilihan kita, kita punya hak dan tanggung jawab dalam prosesnya. Kita berhak merasakan puas dan bahagia. Tapi juga bertanggung-jawab atas konsekuensi yang ada di akhir setiap pilihan.