Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
Tetap Hati-hati


__ADS_3

"Wow, ide bagus sayang. Tentu saja boleh. Dengan senang hati. Aku akan membawa ke mana pun kau mau pergi. Coba bilang, apa yang ingin kau lakukan?" Dia berpikir.


"Mmm... Aku ingin makan 3 kali di restoran mana saja. Dan… Melihat-lihat toko mana saja? Dan… Entahlah, ada ide?"


"Mmm… Nonton film? Dan… Haruskah kita nginap di hotel?" Dia menatapku dengan mata melotot, tapi segera sadar dan tersipu malu.


"Daddy... Apa yang kau hanya itu yang kau pikirkan?"


"Kau tau yang ku maksudkan. Coba bayangkan, aku kehilangan 470 hari tanpa sedikitpun memiliki waktu bersenang-senang bersamamu. Kau berhutang banyak padaku, kali ini tidak bisa mengelak lagi..." Wajanya semakin memerah. Aku suka melihat ekspresinya, dia sangat menarik. Kemudian menatapku dengan rasa bersalah.


"Haruskah aku meminta maaf daddy?" Ekspresi naifnya itu, membuatku terbang melayang.


"Ku pikir harus."


"Bagaimana caranya?"


"Aku akan memberitahumu nanti. Oke?"


"Oke deh. Tapi tunggu, apakah ini cukup?" Dia menunjukkan isi dompetnya. Aku tersenyum tertahan. Dia terlalu manis. Masak dia lupa siapa Earnest Lee? Dia orang kaya! Punya banyak duit! Aku tidak bisa menahan diri lagi, ku cium di bibirnya.


"Haruskah saya menambahkan lebih banyak? Sepertinya pikir aku punya beberapa di dompet."


"Mmm… Tunggu, aku perlu memberi tahu mama, siapatau mama akan menambahkan uangnya. Tapi aku tidak tahu bagaimana mengatakannya. Bantu aku bicara dengannya oke?" Dia memohon. Tentu saja, aku lebih dari senang.


"Oke, tunggu. Dan, ayo kita belikan satu handphone yang baru untukmu nanti. Biar bisa menghubungi siapa pun dengan mudah."


"Oke. Tapi kita lihat dulu, apakah uangku cukup." Dia masih tetap lucu. Ya ampun, Jade. Dia meruntuhkan rasa kaya-raya dalam diriku. Bayangkan, dia tidak menginginkan uangku! Tapi aku mematuhi instruksinya, aku ingin melihat interaksinya dengan Denise lebih sering. Ku hubungi nomor mama Kim.


"Halo Earnest..."

__ADS_1


"Halo tante, selamat pagi..."


"Selamat pagi. Apa kabar Jade?" Tuh, Jade adalah hal pertama yang terlintas di benaknya. Aku tersenyum.


"Jade baik-baik saja tante, semua baik-baik saja di sini. Aku menelpon karena dia meminta..." Aku memberi isyarat pada Jade untuk mulai bicara, namun dia menatap mataku ragu.


"Tante, bicara dengan Jade ya, aku aktifkan speaker..." Denise langsung memulai pembicaraan.


"Hai Jade… Iya sayang? Ada apa? Apakah semua baik-baik saja?"


"Ma..." Dia terbata, menatapku masih ragu, aku memberi isyarat padanya untuk terus biacar.


"Yeah, semuanya baik-baik saja di sini..." Dia bicara dengan pelan lalu langsung memelukku, menyembunyikan wajahnya di dadaku. Aku terkekeh menanggapi sikapnya. Dia masih canggung dan malu-malu.


"Ah, baguslah. Mama pikir ada apa. Haruskah mama ke sana sekarang? Jade?" Jade masih membenamkan wajahnya di dadaku. Sepertinya aku yang harus melanjutkan pembicaraan itu.


"Tante, kami akan pergi keluar dan menghabiskan uang yang ada di dompetnya. Tapi dia tidak mau pakai uangku. Nah, kalau-kalau kami akan membutuhkan lebih banyak. Dia minta aku telepon tante... Sayang, aku sudah bilang, ada lagi yang mau disampaikan? " Dia hanya geleng-geleng dalam pelukanku. Mama Kim tidak bisa menahan tawanya.


"Oke deh, mama ngerti. Nah, tau nggak? Papa menyimpan kartu milik kamu, ada di dalam laci, di samping tempat tidur. Coba bantu mama, temukan kartunya."


"Sayang, mau periksa?" Aku berbisik di telinganya. Dia bergerak, berjalan ke nakas dan memeriksa setiap kolom laci, kemudian menemukan sebuah kotak kulit warna hijau di laci paling bawah. Dia menunjukkan padaku.


"Tante, apakah kotaknya yang berwarna hijau?"


"Iya, itu dia. Coba dibuka. Ada catatan di dalam, dari papa. Selamat bersenang-senang ya Jade. Earnest, tolong jaga dia dengan baik, agar tidak mengekspos diri kalian berdua, oke? Tetap hati-hati..." Ah... Aku sesaat lupa bahwa kami tidak seharusnya keluar. Tapi sudah kadung diiyakan. Lagipula aku sangat senang, Jade akhirnya membuka diri.


"Baik tante, kami akan hati-hati..."


Kami membuka kotak itu dan menemukan sebuah black card dan sehelai kertas catatan.

__ADS_1


"Hai Jade, ketika kotak ini dibuka, berarti kamu siap untuk bersenang-senang, papa harap begitu. Papa pernah janji padamu, akan bertanggung jawab atas semua uang yang akan kamu perlukan. Pakai kartu ini. Lakukan apapun yang kamu mau, ayo habiskan setiap detik waktumu untuk bahagia. Dan ketika kamu sudah siap, tolong hubungi Papa. Setidaknya untuk mengucapkan terima kasih untuk kartu ini. Oke?


--Papa--"


Dia menangis lagi. Air mata mengalir di pipinya sambil tetap menatap catatan itu. Ku seka pipinya dan memeluknya.


"Cukup sayang. Kamu tidak ingin pergi dengan wajah sembab dan mata bengkak kan?" Dia mengangguk-angguk dan mencoba menghentikan tangisnya.


"Haruskah aku meneleponnya sekarang?" Dia bertanya sambil terisak menahan tangisnya.


"Terserah kamu. Kalau udah siap, ayo telpon. Kalau belum siap juga tidak apa-apa. Tidak perlu buru-buru. Atau, haruskah kita membeli ponsel dulu dan nanti bisa mengirim pesan dari handphonemu sendiri? Bagaimana menurutmu?" Dia mengangguk.


Kami siap-siap. Dia memakai skinny jeans hitam dan T-shirt longgar, aku memakai jeans hitam dan kemeja warna putih, kami menutup tubuh dengan mantel. Tidak lupa, topi dan masker wajah.


"Aku mau pakai ini daddy..." Katanya sambil mengambil kacamata ray-ban yang ku bawakan untuknya dari NY. Ku sambut dengan tawa, merasa geli.


"Sayang, kalau begini, kita tidak menyamar namanya. Ini lebih ke pamer dan menarik perhatian orang lain untuk melihat kita. Jadi, jangan."


"Jadi apa fungsi dari semua ini?" Dia menunjuk ke lemari pajangan yang penuh dengan benda-benda fashion yang selama ini kami bawakan untuknya. Masuk akal. Aku menyapu pandangan pada semua benda yang ada di sana dan… Ku ambil satu set perhiasan berlian, kalung, cincin, dan jam tangan. Kesannya elegan tapi tidak mencolok.


"Nah, yang ini pasti akan bagus kau pakai." Dia nurut dan ku bantu untuk memakaikan semua di tubuhnya.


"Tapi aku tidak menyukainya daddy..." Dia mematut wajahnya di cermin, mencoba merasakan dirinya sendiri ketika memakai benda-benda itu.


"Tapi mereka terlihat cantik kau pakai sayang. Seiring waktu, kau akan terbiasa memakainya. Dan lihat? Aku pakai cincin yang sama. Bagus kan?" Dia melihat jariku dan tersenyum lebar.


"Bagus." Dia tersenyum lebar.


Kami melangkah keluar rumah. Drey sedang menunggu di dalam mobil. Dia akan bertanggung jawab sebagai driver yang akan membawa kami ke mana pun sepanjang hari. Begitu melihat Drey, dia langsung tersenyum lebar. Dia pasti senang melihat Drey lagi. Dan Drey, aku benci mengatakannya, kelihatan sangat senang melihat Jade.

__ADS_1


__ADS_2