Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
My Princess


__ADS_3

"Mama dan papa, terima kasih untuk kartunya ya. Aku sudah memakainya dengan baik. Aku membeli handphone baru, barang kedua yang ku beli setelah sarapan di cafe. Aku akan terus menggunakan kartu ini dengan baik, untuk bersenang-senang, seperti yang mama papa bilang. Terima kasih ❤. Jade" Kemudian pesannya terkirim. Ditatapnya aku dengan ekspresi haru.


"Bahagia sekarang?"


"Mmm… Aku sangat senang. Terima kasih daddy..." Aku mendapat pelukan dan ciuman. Dan tidak lama kemudian sebuah panggilan datang dari mama Kim. Dia menatap layar beberapa saat tanpa menjawabnya, kemudian menatapku. Aku memberi isyarat padanya untuk menjawabnya. Dia melakukannya.


"Halo ma..." Dia menjawab dengan ragu.


"Halo sayang. Mama dan papa sudah membaca pesanmu, papa senang bukan main. Terus, di mana kalian sekarang? Mau lanjut lagi jalan-jalannya?" Mama Kim menyambut dengan sangat gembira namun dia tidak mampu menjawab. Bibirnya kelu. Di sodorkannya handphone itu padaku agar aku yang bicara.


"Halo tante, ini Earnest. Kami sedang dalam perjalanan pulang sekarang. Maaf tante, Jade masih malu-malu untuk bicara..." Mama Kim terkekeh.


"Oke deh. Tidak apa-apa. Jade sayang, nggak apa-apa. Lain kali pasti bisa. Mama bisa menunggu. Bagaimana pun juga, mama senang kau akhirnya membuka diri dan mau pergi keluar. Tapi Earnest... Kalian sebaiknya pulang sekarang. Pulang ke rumah. Jangan ke mana-mana. Jalan-jalannya dilanjut lain kali saja kalau keadaan sudah aman. Oke? Pulanglah sekarang. Tante takut jika terjadi apa-apa..."


"Baik tante, kami pulang sekarang." Panggilan diakhiri. Aku melihat ke arah Jade, dia menggigit bibirnya dengan ragu, mungkin tidak terima dengan apa yang sudah dilakukannya barusan. Ku sentuh pipinya dan ku elus dengan lembut.


"Kenapa sayang?"


"Entahlah daddy, aku hanya merasa sangat bodoh sekarang. Aku seharusnya mengatakan sesuatu kan tadi?" Ku peluk dia dengan erat.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Tadi dengar kan? Mama bilang nggak apa-apa. Kita punya banyak waktu. Take your time. Hal-hal yang seperti itu memang butuh waktu. Tidak buru-buru. Oke? Jadi jangan merasa bersalah."


"Mmm…"


Kami pun pulang. Menemukan Mama dan papa Kim sudah ada di sana menyambut kami. Begitu melihat mereka berdiri di pintu menyambut kami, Jade berubah menjadi sangat canggung. Tetapi Denise segera mendekat dan memeluknya kemudian membawanya kepaada papa Kim. Dia langsung dipeluk.


"Papa ingin mendengar panggilan papa dari Jade..." Katanya sambil menatap Jade, yang malu-malu kucing tidak tau harus bersikap apa. Namun pelan-pelan dia bersikap sesuai dengan permintaan.


"Papa… "


"Iya sayang. Begitu dong. Kamu adalah putri papa, jadi jangan malu-malu. Panggil papa kapan saja kau mau atau butuh sesuatu. Oke? Ini papa loh. Yang sering datang mengunjungimu, bicara dan membacakan buku. Jadi tidak perlu canggung-canggung..."


Kami bergerak menuju ruang makan, dan menemukan ternyata makan malam sudah disiapkan. Hidangan khas Korea yang aneka rupa, mulai dari sup ayam ginseng, bulgogi daging sapi, ikan makerel panggang dan berbagai hidangan pelengkap lainnya. Sepertinya untuk merayakan reuni keluarga ini, sang putri yang sudah lama dinanti akhirnya hadir, seluruh jiwa dan raganya. Kami menikmati hidangan sambil bicara tentang berbagai hal. Jade banyak mendengar dan ikut tertawa sesekali, tidak banyak bicara. Setelah acara makan malam, kami lanjutkan dengan minum teh di ruang keluarga.


"Earnets, setelah mempertimbangkan dengan matang. Kami berpendapat bahwa pernikahanmu dipercepat saja. Tidak ada lagi yang perlu kita tunggu kan?" Papa Kim membuka pembicaraan. Aku terkejut senang. Aku lah yang paling menginginkan itu terjadi, dengan mereka meminta, mereka sudah melewatkan sesuatu yang harus ku lakukan, yaitu melamar. Tetapi itu terlalu mendadak.


"Tante… ?" Aku melihat ke arah mama Kim, dia ngangguk-ngangguk senang dan keliahatn setuju. Seperti yang sudah mereka katakan, bahwa hal itu sudah mereka bicarakan.


"Betul Earnest. Menikahlah secepatnya. Demi Jade. Setelah menikah, segera tinggalkan Korea. Bawa Jade ke singapura. Kalian tinggal lah di sana. Beri tahu kami apa yang harus kami bantu agar proses ini berjalan dengan baik. Yang pertama dan paling penting mungkin, kami akan menemui orang tuamu di Singapura. Bagaimana pun juga, pertemuan orang-tua kedua belah pihak itu harus diadakan. Untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan tradisi keluarga. Sekalian, kami harus mengantar Jade dengan baik ke keluarga barunya. Dan setelah itu, mari kita tidak sering bertemu sampai kita tahu bahwa semuanya aman. Silakan datang ke rumah ini ketika kalian mengunjungi Korea, rumah ini adalah milik Jade, bukan begitu pa?" Dia melirik untuk meminta persetujuan papa Kim.

__ADS_1


"Betul Jade. Mama sudah lama meminta rumah ini diambil atas namamu. Dengan harapan, kamu akan datang kepada kami suatu saat. Harapan itu selalu ada. Dan kami tidak lelah berharap. Sekarang akhirnya kesampaian. Jadi rumah ini milikmu. Jadikan rumah kedua jika kalian datang dari Singapura. Oke?" Jade tidak kuasa menahan harunya. Menatap mereka satu per satu dan mengangguk-anggukkan kepala.


"Tentang pernikahan. Kita adakan se-private mungkin. Tidak perlu melibatkan banyak orang apalagi yang namanya media. Kita lakukan semua secara rahasia. Dan mungkin kita akan terus bertindak begini sampai kita memastikan bahwa tidak ada masalah mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kisah masa lalu. Bagaimana Earnest? Apakah bisa begitu? Mengingat profesimu sebagai public figure, yang menurut orang lain sudah sepantasnya kau mengumumkan pada khalayak ramai segala sesuatu tentang dirimu..."


"Saya setuju om. Kami sudah seharusnya mengikuti anjuran tante dan om. Kami akan coba rancang bagaimana caranya. Atau paling tidak, kita bisa hanya diberkati di gereja saja. Tidak masalah. Soal perayaan-perayaan, bisa dilaksanakan kapan saja."


"Bagus. Kalau begitu segera rencanakan. Jangan terlalu lama. Dalam bulan ini jika bisa..."


"Baik om..."


Selain reuni keluara itu, ternyata mereka datang secara khusus untuk membicarakan pernikahan. Mungkin aku yang terlalu lambat berpikir, asik memikirkannya saja dalam hati tapi tidak eksekusi. Sehabis minum teh bersama, mereka pulang.


"Daddy, apakah ini yang kau inginkan?" Jade bertanya dengan tatapan menyelidik. Tentu saja, ini yang ku inginkan sejak lama. Apa lagi yang ku inginkan?


"Apa maksudnya sayang?"


"Untuk menikahiku?"


"Iya dong. Aku sudah lama menunggu ini. Hanya aku sedikit terlambat dari om dan tante. Tapi nggak masalah. Mau aku yang cetuskan atau om dan tante, yang penting kita punya satu tujuan. Sekarang aku yang bertanya sayang, maukah kau menikah denganku?"

__ADS_1


"Tentu mau daddy. Aku akan ikut apa maumu. Aku akan mengikutimu kemanapun kamu pergi. Kau tidak boleh meninggalkanku lagi..." Dia bisa begitu terang-terangan tanpa tersipu sama sekali. Aku merasa gemas dan ku cium bibirnya. Dia tertawa.


__ADS_2