Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
Kembali Pulang


__ADS_3

Ku putuskan untuk tidak lagi menyambung harapan pada Earnest. Handphone yang kami beli bersama, ku non-aktifkan dan ku simpan dalam laci. Tidak ada gunanya. Toh yang bisa ku hubungi dengan nomor itu hanyalah dia, selain papa dan mama Kim. Dan untuk mereka, aku bisa dihubungi melalui telpon rumah. Jadi sama sekali tidak ada lagi cara untuk berkomunikasi dengannya. Janji yang diucapkannya di airport, aku sempat berharap itu akan terjadi, tetapi setelah seminggu, dua minggu dia tidak kunjung datang, harapanku musnah. Itu artinya, keluarganya memenangkan peperangan itu di dalam hatinya.


Aku tidak tau apakah aku harus lega atau sedih. Tapi ku rasa dua-duanya. Aku lega karena tidak harus berargumen untuk mengakhiri hubungan itu. Karena argumen yang panjang akan membuat rasa sakit itu semakin dalam. Dan mengakhiri hubungan itu akan semakin terasa sulit. Tapi aku juga sedih. Patah hati. Siapa yang tidak? Aku kehilangan cinta pertama sekaligus cinta sejati dan yang pernah ku pikir akan menjadi cinta selamanya. Rasanya sangat sakit. Hatiku rasanya perih seperti dicabik-cabik. Jiwaku lumpuh dan itu membuatku mendekam di dalam kamarku selama berhari-hari. Tidak bisa makan dan gelisah tidak bisa tidur. Aku benar-benar patah hati dan kehilangan. Dan jujur, di sudut hatiku yang paling dalam, aku masih meringkuk menantikan kedatangannya. Harapan yang berusaha ku pendam dan ku tekan agar tidak muncul ke permukaan.


3 Minggu berlalu. Keadaanku sudah kembali ke normal –sedikit–. Aku sudah diperhadapakan pada pilihan bahwa yang pilihan yang ku punya adalah bangkit dan kembali menata hidupku. Aku harus mulai memikirkan akan jadi apa aku kelak. Tidak mungkin aku akan mendekam di kamarku selama sisa hidupku. Aku harus melakukan sesuatu. Namun mama memintaku untuk tetap berdiam di sana, entah sampai kapan. Dan aku kembali sibuk dengan buku-buku baru yang selalu dibawakan oleh papa dan mama Kim. Dan dengan begitu, aku akhirnya menumpahkan semua kata-kata yang ku serap dari buku dalam bentuk tulisan. Menulis adalah pekerjaan yang sempurna untuk orang harus bersembunyi dari peredaran dunia.


Dan kisah di sore itu terjadi.


Aku sedang menatap langit dari jendela kamarku dengan nanar. Memikirkan kenapa langit itu berwarna biru dan apa hubungannya dengan karakter Biru, main character di tulisanku. Ku reka-reka. Apakah langit biru itu mewakili perasaan Biru yang senantiasa sendu. Tapi tidak ku temukan alasannya. Langit biru itu identik dengan indah, cerah, dan memberi kelegaan bagi mata yang memandang. Tapi kenapa warna biru selalu dibuat untuk mewakili perasaan manusia yang sendu? Bukankah harusnya cerah? Atau damai? Ah… Iya, biru juga mewakili damai. Ku geleng-gelengkan kepalaku. Berarti bukan langit biru. Mungkin laut luas yang biru pekat, di tengan samudera, ketika mengapung sendirian di tengan samudera tanpa ada harapan, dan terhampar luas, sejauh mata memandang, hanya ada biru pekat. Mungkin begitu.

__ADS_1


Kamudian mataku menangkap sesuatu yang familiar. Seperti sebuah kejadian yang dulu rutin terjadi. Yang selalu ku tunggu-tunggu dalam diam. Sekarang, aku tidak menunggu, tapi dia muncul. Hidung mobil berwarna hitam muncul di pintu gerbang. Yang pasti bukan mobil papa atau mama. Ku pandangi mobil itu dengan seksama dan ku temukan siluet pria yang ku rindukan itu, yang ku nanti-nanti dalam diam itu, duduk dengan gagah di dalam mobil. Jantungku serasa berhenti berdetak. Namun rasaku terbang melayang. Namun selama beberapa saat, aku menyadarkan diri bahwa itu tidak mungkin Earnest. Setelah 3 minggu? Tidak mungkin. Jika dia mau datang, dia harusnya sudah datang sejak minggu pertama kami berpisah. Kenapa setelah 3 minggu?


Aku terdiam. Ku pejamkan mataku. Menata degup jantungku yang tidak karuan. Meski ku katakan aku tidak percaya, namun aku berharap bahwa itu adalah dia. Aku terlalu lemah. Aku memutuskan hanya akan duduk di sana menunggu sampai dia datang. Jika dia tidak datang dalam hitungan menit, maka aku yakin itu bukan dia. Atau jika iya, kedatangannya mungkin untuk sesuatu yang lain. Mengantarkan kabar bahwa dia sudah bertunganan mungkin?


Ku geleng-gelengkan kepalaku menepis semua prasangka jelek itu. Sudahlah Jade, lagipula kau sudah putuskan untuk tidak berhubungan lagi dengannya. Ingat! Kau sudah patah hati selama 3 minggu. Betul. Apa lagi yang ku harapkan?


Pikiranku terlalu sibuk ketika pintu terbuka dan dia di sana berdiri memandangku dengan sorot mata khas Earnest. Cinta di sana masih menggebu-gebu. Masih dirinya yang dulu. Aku terpaku. Menggigit bibirku. Ragu menahanku untuk bergerak ke arahnya. Dia mendekat dan dalam hitungan detik, aku sudah berada di pelukannya. Dia merangkul aku dengan sangat erat. Pilihanku saat itu hanyalah pasrah. Ku rasakan deru nafasnya di antara rambutku, degup jantungnya yang berdetak dengan cepat, dan rengkuhan tangannya merengkuh aku erat dalam pelukannya. Dia benar-benar Earnest. Tidak ada yang berubah. Aku mendapatkan kembali pelukan yang ku rindukan itu.


“Maafkan aku karena datang agak lama. Tapi kenapa tidak satu pun dari kalian bisa ku hubungi?” Dilepasnya pelukannya. Dan menatap mataku dengan seksama. Aku diam, tidak tau harus menjawab apa. Bagiku dia harusnya sudah pergi dari hidupku.

__ADS_1


“Kenapa sayang? Ada apa?” Dia menuntut jawaban. Haruskah ku katakan saja bahwa dia sudah ku anggap pergi selamanya dari hidupku?


“Aku harus cerita panjang lebar Jade. Tapi intinya, ada satu hal penting yang harus ku lakukan dan ku selesaikan terlebih dahulu sebelum datang ke sini. Kau ingat janjiku kan? Kau harusnya tau bahwa aku tidak pernah mengingkari janjiku padamu…” Benar Jade. Dia tidak pernah mengingkari janjinya, sekalipun tidak. Bisa-bisanya kau berpikir bahwa dia akan meinggalkanmu? Aku tergelitik malu di dalam hati. Ku jatuhkan kembali tubuhku dalam pelukannya. Ku rangku tubuhnya erat. Mengeluarkan semua rasa bersalah karena tidak percaya padanya. Ingin ku ucapkan maaf, tapi aku terlalu malu. Diciumnya ubun-ubunku dengan mesra. Ku rasakan udara hangat dari bibirnya di kulit kepalaku.


“Semua baik-baik saja kan? Apakah ada sesuatu hal buruk terjadi selama aku tidak ke sini?” Aku bernafas tenang di dadanya. Semua itu sudah tidak penting daddy. Kau ada di sini sekarang. Batinku.


“Sayang? Mmm…?” Ku geleng-gelengkan kepalaku di dadanya. Aku benar-benar tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.


“Aku merindukanmu daddy…” Ku bisikkan kata-kata itu di dadanya.

__ADS_1


“Aku sangat merindukanmu sayang. Sangat rindu…” Dan kami terbenam dalam diam, dalam deru nafas kami yang tenang, merasakan detak jantungku kami yang perlahan kembali tenang, merasakan hadir satu sama lain dalam rangkulan yang erat. Aku lupa semua derita yang ku alami karena prasangka ku sendiri.


__ADS_2