
Sudut Pandang Jade
Ku tutup aplikasi penyadap handphone di iMac begitu ku dengar dia keluar dari mobil. Aku mengira-ngira, dia sedang berjalan di sekitar lobi menuju lift. Kurang lebih 5 menit dia akan tiba di depan pintu. Aku harus siap-siap untuk menyambutnya. Ku matikan iMac. Membereskan letak semua peralatan dan buru-buru masuk kamar. Ku patut diriku di depan cermin. Sempurna. Aku memakai dress dengan potongan sederhana warna putih terbuat dari katun. Aku berusaha selalu tampil sangat cantik dan menarik di depannya. Aku harus pastikan bahwa cintanya padaku tidak pernah luntur. Meski aku tau di mana ujung hubungan kami, aku tidak bisa terima bahwa dia tidak akan mencintai aku lagi.
Ku dengar pintu terbuka. Kemudian suaranya berbicara, pasti sedang mengatakan sesuatu pada Andrew dan Fred untuk keluar rumah.
"Andrew, Fred, temui Drey sekarang, untuk tugas selanjutnya."
"Siap boss!" Mereka melangkah keluar dan pintu tertutup. Aku keluar dari kamar dengan senyum paling manis di wajahku. Begitu wajah kami bersitatap, dia sontak membingkai wajahnya dengan ekspresi bahagia dan memberikan senyum yang sama manis padaku. Dia berusaha sangat keras, berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Dan aku sudah merencanakan untuk mengalihkan pikirannya yang sedang kalut pada sesuatu yang lucu.
"Daddy..." Aku memeluknya, bernapas di dadanya. Aku mendapat sebuah ciuman di ubun-ubunku. Melingkarkan tangannya di tubuhku dan mengelus punggungku lembut. Yang itu pun aku tau apa maksudnya, dia bermaksud menenangkan aku. Padahal dia pun sedang berkecamuk di dalam. Denyut jantungnya tidak teratur. Ku tunggu sampai dia tenang dan ku longgarkan pelukanku. Menatap matanya.
"Apakah kerjaan di kantor baik-baik saja?"
"Mmm... Baik-baik saja. Aku hanya sedikit lelah.” Oh begitu. Dia masih mencoba untuk tenang.
"Daddy tau nggak?" Dia menyipitkan matanya menatapku, menungguku melanjutkan ucapanku.
__ADS_1
“Aku sudah mendapat ide untuk menyelesaikan ceritaku. Dan itu membuat aku sangat senang.” Ucapku dengan ekspresi senang. Dia pasti bisa menangkap binar-binar di mataku. Tapi ekspresinya berubah mendung, mungkin dia tidak sadar. Namun sepersekian detik dia berubah. Menjadi terkejut dan ikut senang. Aku tau, itu palsu.
"Wow! Luar Biasa! Aku penasaran bagaimana ending ceritanya...?”
“Kejutan dong. Tidak sekarang. Tunggu sampai aku menyelesaikan semuanya. Jangan pernah coba-coba untuk mengintip foder-folder itu sebelum aku menyelesaikannya, oke?” Dia terkekeh pelan.
"Seperti yang ku lakukan kemarin malam?"
"Tuh tau!" Aku pura-pura cemberut. Dia tertawa senang.
"Iya. Harus ada pengumuman dari aku dulu baru boleh dibaca." Aku menatap matanya dengan seksama. Mempelajari ekspresinya. Apakah cinta yang dia punya masih sama seperti sebelumnya?
"Aku merindukanmu..." Aku harus mulai jujur kan? Wajahnya berubah sumringah. Aku mendapatkan sebuah ciuman di bibirku. Kupu-kupu di perutku mulai beterbangan. Dia berhenti dan kami saling menatap mata, iya, cintanya masih sama. Padahal dia sudah tau semua, namun sorot mata itu tidak berubah. Bagaimana mungkin aku tidak cinta?
"Aku belum pernah mengatakan ini kan? Aku mencintaimu..." Ku katakan dengan tegas. Aku suka wajahnya yang tertegun. Kemudian berubah sumringah, senyumnya terlalu lebar. Kemudian salah tingkah, memainkan bibirnya, menjilat dan menggigit masih tersenyum lebar. Aku sangat suka, ketika dia menampilkan emosinya yang paling murni, ketika dia tidak mencoba untuk kelihatan bahwa dia harus menampilkan suatu ekspresi yang seharusnya.
"Coba katakan lagi?"
__ADS_1
"Aku mencintaimu..." Aku mengulang dengan tegas. Aku mendapatkan sebuah ciuman lagi.
"Sejak kapan? Apakah ini artinya lamaranku diterima?" Ingin menangis rasanya. Ada sebuah rasa yang bergejolak dalam dadaku. Bukan sedih. Tapi ingin menangis. Ini kah yang namanya haru? *Lihat Jade, dia sudah tau, tapi tidak ada yang berubah dari dirinya. Lanjutkan saja hidup berdua dengannya. *Namun ku sanggah suara-suara itu dengan tegas.
"Sudah lama. Entah sejak kapan, aku tidak bisa menentukan kapannya dengan tepat. Aku hanya selalu kehilangan kesempatan untuk mengatakannya..." Ku jawab rasa penasarannya. Dia masih menatap mataku. Oh, dia bertanya dua pertanyaan.
"Lamaran? Kita bicarakan kapan-kapan. Boleh kan? Satu-satu dulu..." Aku memohon. Untuk pertama kali, aku harus berbohong di depannya. Menikah? Jadi istri? Sepertinya sangat jauh. Aku perlu menyelesaikan banyak hal dengan diriku sendiri untuk bisa membaurkan diri dengan seseorang yang lain. Dan entah kapan itu bisa terwujud.
"Oke. Pelan-pelan. Satu-satu. Aku bisa menunggu. Aku mencintaimu. Dan aku terlalu bahagia sekarang...” Dia menjawab dengan penuh pengertian. Ku peluk tubuhnya erat. Dan untuk pertama kalinya, aku menyalahkan nasib --dia membuatku mengalami banyak hal yang pertama--. Andai aku hanya seorang anak perempuan dari papa dan mama yang biasa saja, aku bahkan tidak akan peduli tentang status kami, akan ku ikatkan diriku padanya selamanya. Namun aku bukan putri orang biasa. Dan aku mulai menyadari, bahwa tempatku bukan di sana.
Ku sesali keputusanku ketika dia melamarku. Andai waktu dapat ku putar kembali, aku akan langsung jawab iya. Kami harusnya sudah berada di suatu tempat yang jauh dari bayang-bayang masa laluku, dan hidup dengan damai. Sekarang, setelah ku temukan siapa diriku yang sebenarnya, apa untungnya?
Akhirnya ku temukan jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaanku. Semua ingatan yang berputar-putar bagai angin tornado di kepalaku, baru saja dikonfirmasi oleh Earnest ketika dia menemui wanita itu. Aku mendengar seluruh percakapan mereka melalui aplikasi penyadap di handphonenya. Gadis kecil yang ada dalam ingatanku adalah aku sendiri. Sejak seminggu terakhir, aku semakin yakin, deskripsi gadis itu sepenuhnya adalah aku. Tidak peduli ku ulang berapa kali, mereka semua sama. Tetap saja, gadis kecil itu adalah aku. Yang membayang-bayangiku di dalam mimpi dan setiap kali aku memejamkan mata. Itu sebabnya aku tidak bisa tidur sama sekali. Kami bahkan konsultasi ke dokter untuk mendapatkan obat tidur. Namun adegan ketika aku memakan daging, meminum darah dan vitamin itu membuatku memuntahkan semua makanan dan pil yang ku konsumsi. Setelah mengetahui semua itu, aku tau apa yang harus ku lakukan. Aku hanya masih berpura-pura waras seperti yang dia inginkan. Bahwa aku masih di sana. Bahwa aku masih tidak tahu apa-apa untuk menolong mengurai kalut yang kelihatan tebal membungkus hatinya.
Sekarang, setelah aku berada di dunia yang berbeda, aku tau bahwa aku harus marah. Ada badai yang tidak bisa ku bendung, memporak porandakan seluruh hati nuraniku sebagai seorang manusia. Aku hancur lebur. Aku belum bisa menata amarah yang berkobar-kobar itu sehingga bingung, harus ku mulai dari mana amarah ini?
Haruskah aku mulai dari wanita itu? Aku mengingat begitu sering bertemu muka dengannya ketika duduk di taman gereja. Aku pasti ingat, karena dia adalah mama tiri Gaia. Perlahan ingatan lain bermunculan, dia sering mengunjungi nenek Clara di rumah kecil kami di belakang gereja saat-saat pertama aku tinggal di sana. Sehingga aku pun bertanya-tanya, bukankah harusnya dia mengenalku dan menyapaku? Tapi kenapa dia berlalu seolah-olah tidak mengenalku? Aku sudah mencoba bersikap sopan dengan menundukkan kepala dan tersenyum, tetapi setiap kali aku melakukannya, dia dengan cepat menoleh ke arah lain dan pergi dengan tergesa-gesa. Aku sangat bodoh kan? Bisa-bisanya dipermainkan mentah-mentah. Dengan leluasa dia menonton hidupku yang prihatin dari jauh.
__ADS_1