
Ku dengar dia menghela nafas dan mencoba tenang.
"Aku pernah kecanduan obat. Tidak apa-apa?" Dia berbisik, aku bisa merasakan napasnya di dadaku. Satu hal, dia akhirnya bicara! Aku takjub dengan kemajuan itu. Oh Tuhan, dia akhirnya bicara! Aku mencoba bergerak, ingin melihat wajahnya dan melanjutkan pembicaraan itu, tapi dia memelukku lebih erat. Artinya dia ingin tetap seperti itu. Tidak ingin melihat wajahku. Ku lanjutkan mengusap-usap punggungnya lembut dan mencium ubun-ubunnya.
"Mmm... Itu sudah lama sekali berlalu sayang. Dan sama sekali bukan salahmu. Kau kan tidak tau itu apa... Jadi tidak masalah sama sekali." Aku menjawab dengan pasti. Dia hanya seorang anak kecil yang sudah dicuci otaknya. Yang buta tentang moral dan nilai yang berlaku di balik tembok istana itu. Hanya orang yang tidak waras yang akan mampu menghakimi dan menyudutkannya. Aku ingin memastikan bahwa cinta yang ku miliki bukanlah cinta buta. Aku sedang mencintai seorang gadis yang murni hatinya, yang baik hatinya dan yang sedang berjuang melepas masa lalu yang pernah menjeratnya. Benar Earnest, itu bukan cinta buta. Kau mencintai dengan benar. Lanjutkan man!
"Aku bahkan makan daging manusia? Apa tidak apa-apa?" Aku menduga, dia akan mengkonfirmasi kekuatirannya, satu per satu.
"Tidak apa-apa sayang... Kau tidak tahu apa-apa saat itu. Andai kau tau, aku percaya kau pun tidak akan mau melakukannya. Hatimu terlalu lembut untuk bertindak sejahat itu Jade..." Yang pantas dihukum adalah pria itu. Dia pantas mendapatkan hukuman terberat yang ada di muka bumi karena telah tega menjerat pikiran anak-anak yang polos untuk melakukan dosa seolah-olah tidak apa-apa. Siapa yang akan tega menyalahkan anak-anak kecil tidak berdosa itu?
"Aku meminum darah manusia, kau tahu itu kan?" Dia melanjutkan lagi.
"Aku tahu. Dan itu bukan salahmu. Lupakan saja sayang... Oke?"
"Papaku adalah iblis. Kau tidak takut?" Pria itu memang iblis. Tapi dia tidak pantas disebut papa. Gelar seorang papa terlalu mulia.
"Aku lebih takut jika aku kehilangan dirimu. Mari kita lupakan dia. Dia bahkan tidak merawatmu dengan baik. Dia tidak layak disebut papa. Seorang papa tidak akan melakukan hal yang begitu keji kepada anaknya. Dia memanfaatkanmu untuk tujuan gilanya. Kau punya seorang mama yang menyelamatkanmu dan melindungimu, mari kita hormati dia. Dan di sampingnya ada papa Kim. Papa yang jauh lebih baik dari manusia itu. Kau sudah lihat apa yang dia lakukan selama kamu di sini? Begitu seharusnya seorang papa bertindak. Jadi jangan pedulikan dia. Kalau bisa, anggak saja orang itu tidak pernah ada dalam hidupmu. Oke sayang?"
"Kau masih menginginkanku meski tau aku hancur begini?"
"Tentu saja. Kau sudah lihat, aku menunggumu. Aku menginginkan seorang Jade untukku, menjadi kekasihku, menjadi istriku, menjadi mama dari anak-anakku, tidak peduli apapun yang terjadi di masa lalunya. Ayo berjuang lebih baik sayang. Tidak ada yang disebut sempurna di dunia ini. Setiap orang punya masa lalu masing-masing. Selama kita berjuang lebih baik setiap hari, semua akan baik-baik saja. Lihat dirimu sekarang, kau baik-baik saja. Sempurna. Hanya memori tentang hidupmu selama 10 tahun itu yang berusaha merusak dirimu yang sekarang. Jangan biarkan. Kau harus kuat sampai bisa mengalahkan pengaruh-pengaruh ingatan itu..."
__ADS_1
"Aku tidak sempurna. Kau yang sempurna. Bukankah seharusnya kau menikahi seseorang yang sama sempurna seperti kamu?"
"Ah... Oke. Mungkin itu sebabnya Tuhan membuat hidupku sempurna, agar aku kuat dan penuh, dan bisa berbagi semua kebaikan dalam hidup denganmu. Atau, apakah kau ingin aku menikah dengan orang lain? Seseorang yang sempuran seperti yang kau maksud?" Aku mencoba menguji rasa memilikinya terhadapku. Dia memelukku lebih erat dan menggeleng-gelengkan kepalanya lembut. Aku sumringah. Iya lah. Masak kau akan lepaskan aku setelah penantian panjang ini Jade? Aku bisa gila.
"Mmm…? Katakan padaku. Haruskah aku begitu?"
"Tidak." Dia menjawab dengan tegas. Rasaku ingin terbang melayang.
"Kalau begitu, ayo kembali ke Jade yang dulu, yang tidak pernah terganggu dengan apa yang pernah terjadi. Jika diminta memilih, aku ingin kau tetap tidak ingat peristiwa itu. Tapi sekarang, perjuangan kita adalah untuk melupakannya dan hidup dengan baik di waktu sekarang. Dan Jade, tolong menikahlah denganku..." Aku berbisik melalui rambutnya. Yang ku dapatkan adalah pelukan yang semakin erat dan anggukan kecil. Cukuplah. Besok-besok akan ku coba lagi untuk bertanya sampai mendapatkan jawaban yang solid.
"Terima kasih sayang, akhirnya bicara denganku. Kau tidak tahu betapa gila aku menunggu saat ini datang. Aku sangat bahagia sekarang. Ku akui aku sangat lelah, tapi sangat bahagia. Bisakah aku mendapatkan ciuman sebelum tidur?" Ku tunggu tanggapannya. Dia mengendurkan pelukannya dan menatapku. Tatapan yang sudah lama ku rindukan. Dengan cara itu, dia menyentuh batinku yang paling dalam. Aku ingin menangis. Dia kembali, Tuhan! Dia kembali. Kami menghabiskan beberapa detik untuk saling memandang. Dan dia mengecup bibirku sekejap.
"Mmm…" Dia tersenyum, dan matanya malu-malu.
"Berbaik hatilah padaku Jade. Aku berasal dari benua yang jauh hanya untuk memelukmu. Tapi begitu doang?" Aku pura-pura memelas. Dan akhirnya tidak bisa menahan bahagia melihat ekspresinya. Dia masih sangat malu tapi seperti berpikir akan apa lagi yang akan dilakukannya.
"Apa yang harus ku lakukan?" Dia bertanya. Ku pegang pipi itu, mengelusnya dengan lembut sebelum sebelum mengecup bibirnya lembut. Aku terasa terbang melayang. Lelahku rasanya terbayar sudah. Ku lepas ciumanku dan melihatnya tersenyum geli.
"Kenapa?"
"Apa bedanya dengan ciuman yang ku beri?" Dia bertanya. Benar juga.
__ADS_1
"Beda. Yang ini, aku yang melakukannya."
"Tapi sama saja..."
"Beda sayang. Yang tadi pertama, dan ini yang kedua. Beda kan?" Dia akhirnya terawa geli. Aku ikut tertawa. Rasa senangku semakin memuncak. Tidak menyangka aku juga akan mendapatkan suara tawanya. Lengkap sudah.
"Bukankah kita harus tidur, kau terlihat sangat lelah..."
"Iya. Ayo tidur. Selamat datang kembali sayang… Kau tidak bisa bayangkan betapa bahagia aku sekarang..."
"Terima kasih daddy..."
"Mmm...?"
"Karena sudah sabar menunggu dan tidak meinggalkan aku meskipun sulit..."
"Sulit, tapi aku akan lakukan apa pun demi kau sayang. Aku berjanji padamu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu dalam keadaan apapun. Kau juga begitu, jangan pernah tinggalkan aku, oke?"
"Mmm... Aku sangat ketakutan Sabtu lalu, waktu kau datang terlambat. Ku pikir kau akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan aku. Sudah lama aku penasaran, sampai kapan kau akan bertahan sesabar ini? Dan ku pikir itu lah waktunya kau putuskan untuk tidak datang lagi..."
"Tapi aku datang kan? Hanya masalah kerjaan, bukan tentang kita. Aku sudah bilang, aku tidak akan pernah meninggalkanmu..."
__ADS_1