Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
Istana Neraka


__ADS_3

Istana itu adalah neraka. Anak-anak itu dibuat seolah-olah hidup dalam sebuah kewajaran. Di sebuah dunia yang berbeda dari yang seharusnya.


Titik terendah dalam hidupku adalah ketika akhirnya mama meninggal dunia. Aku marah. Tidak terima kenapa hidup bisa begitu kejam padaku. Dan aku tidak punya apa-apa lagi untuk ku pertahankan. Hidup rasanya sangat hampa. Aku mencari-cari sebuah layanan rumah sakit yang bersedia mengkremasi jenazah mama. Seluruh proses berkabung itu ku jalani sendirian. Entah di mana papa. Setelah menciptakan sebuah neraka dalam hidup kami, dia pergi entah ke mana. Bahkan untuk mengantar kepergian mama terakhir kali pun dia tidak muncul. Saking marahnya dengan keadaan itu, aku bahkan siap untuk berperang meski mati sia-sia.


Aku memutuskan untuk mengambil kembali anakku, dengan cara apa pun. Aku tidak akan bisa melanjutkan hidup jika aku tetap membiarkan dia di sana setelah tau apa yang akan dia alami.

__ADS_1


Istana seperti itu terkenal dengan sistem keamanannya. Ada kamera pengintai di mana-mana yang disertai dengan alarm yang bisa berbunyi sewaktu-waktu jika ada hal-hal yang tidak lazim terjadi. Dan ada bodyguard yang terkenal tangguh untuk melumpuhkan musuh yang mencoba-coba mengacaukan tempat itu. Dengan bantuan nanny itu, yang saat itu sudah menjadi bagian dari istana sebagai malaikat hitam, membantuku untuk mengambil Valene dari sana. Aku menyamar sebagai salah satu dari mereka. Masuk ke dalam istana melalui sebuah jalan  tikus, saluran pembuangan air, yang ditemukan oleh mereka dan merahasiakannya siapa tau akan berguna suatu saat. Bisa saja mereka lari dari sana lewat jalur itu namun tidak satu pun dari mereka berani. Resikonya sangat besar. Selain mereka akan dilacak sampai ketemu di seluruh sudut negeri itu, nyawa seluruh anggota keluarga mereka adalah taruhannya.


Aku tau itu. Namun aku tidak peduli. Aku terlalu terpuruk untuk peduli akan papa, satu-satunya anggota keluarga yang ku punya selain Valene. Aku sudah menyusun rencana akan segera berangkat ke Korea Selatan lewat laut segera setelah mengambil Valene dari sana. Aku akan pulang membawa mama. Meski dalam wujud yang sudah berbeda, tapi setidaknya dia tetap pulang. Aku menjual rumah kumuh kami, meski tidak seberapa, cukup untuk biaya pulang, aku mendapatkan dua slot tempat di kapal. Ditambah dengan uang tebusan asuransi mama.


Entah bagaimana caranya, kekacauan tercipta di dalam istana malam hari itu, lewat tengan malam. Ada penyusup yang masuk ke istana saat itu dan para pengawal dikerahkan untuk menangani masalah itu. Penjagaan yang biasanya ketat di area Valene tinggal terlihat agak longgar. Tak dapat ku sembunyikan pilu hati saat melihat keadaannya. Putriku yang tumbuh dengan sempurna, namun menyiratkan hawa gelap dan kelam yang bahkan dia sendiri tidak sadari. Sepanjang waktu aku berjuang untuk menahan air mata, ku genggam tangannya dengan iming-iming bahwa dia terpilih. Terpilih entah untuk apa! Namun tampaknya dengan begitu dia menuruti perintahku. Perjalanan itu tidak mudah, namun dapat kami lalui sampai tiba di Busan.

__ADS_1


Perlahan-lahan, dia mulai menunjukkan gejala yang sehat. Pipinya mulai berisi, tubuhnya semakin kuat dan dia bisa menguasai dirinya sendiri ketika merasa tidak nyaman. Mulai merasa lapar dan haus, dia mengabiskan makanan apa pun yang ku berikan. Dia akhirnya berdiri dan turun dari dipan, berjalan di sekeliling kamar. Saat itu, aku membuat keputusan yang besar untuk kelangsungan hidup kami berdua.


Aku sudah tidak punya uang. Sewa kamar itu akan segera berakhir dan aku tidak bisa membayar untuk bulan berikutnya. Aku harus bekerja dengan serius, namun jika begitu, aku akan mengekspos diriku di luaran sana. Dan jika itu terjadi, kami harus berpisah. Kami berdua tidak boleh terlihat bersama. Aku masih dibayang-bayangi rasa takut bahwa pria itu bahkan bisa melacak kami sampai ke sana. Ditambah lagi, aku mendapat kabar bahwa papaku sudah meninggal, menurut dugaanku, itu adalah ulah pria itu. Sesuai dengan yang tertulis dalam surat perjanjian, melenyapkan kami sekeluarga karena melanggar kontrak adalah hal yang wajar. Apalagi, aku sudah mencuri salah satu miliknya yang terbaik. Dan nanny itu? Aku tidak pernah mendengar kabar tentang dia lagi. Apa pun yang terjadi padanya, aku hanya bisa berterima kasih.


Dengan sisa-sisa uang yang kami miliki, ketika malam sudah larut, kami meninggalkan tempat itu, ku bawa Valene hijrah ke kota Seoul. Tujuanku ke mana lagi kalau bukan ke tempat-tempat di mana orang seperti kami bisa diterima meski tidak punya uang? Kami berhenti di sebuah gereja yang sangat besar, yang paling dekat dari stasiun, kami pun berhenti. Selain karena kelelahan telah berjalan kaki dalam jarak yang cukup jauh, aku menyerah. Entah pikiran apa yang merasuki saat itu, namun tindakan terbaik yang bisa ku lakukan detik itu juga adalah meninggalkan dia di sana. Dan berencana akan memantaunya dari jauh. Ku tinggalkan dia di taman gereja. Hari masih remang, sebentar lagi matahari akan naik. Aku berharap tidak ada yang melihatku melakukan tindakan itu.

__ADS_1


Aku masuk ke dalam gereja dan berdoa. Agar Tuhan mengirimkan orang baik untuk mengambilnya dan merawatnya. Kesedihan dan ketakutan yang mencekam menyerang seluruh keberadaanku seharian itu, berlutut dan melanturkan doa yang sama berulang-ulang. Di sore hari, aku melihat seorang ibu yang sudah cukup tua menggandeng seorang gadis kecil dan mereka duduk di antara barisan-barisan bangku. Doaku terjawab. Aku masih di sana melihat mereka sampai ibu itu membawa Valene pergi. Ku temukan, bahwa dia adalah salah satu pekerja yang mengurus area gereja itu. Salahkan saja aku. Sama seperti aku, aku menyalahkan diriku berkali-kali. Aku bersumpah tidak akan memaafkan diriku. Namun setidaknya dia berada di tempat yang aman. Kemudian aku melamar menjadi pekerja di lingkungan gereja. Aku bahkan berniat akan menjadi seorang biarawati. Namun untuk menjalani profesi itu, dibutuhkan proses yang sangat panjang. Ku putuskan menjalani proses itu dengan tujuan, aku bisa melihat keadaan Valene dari dekat setiap hari.


Namanya Clara. Seorang pensiunan biarawati yang berhenti karena sakit-sakitan. Aktivitasnya sehari-hari adalah membantu membersihkan pekarangan. Valene akhirnya tinggal bersama di rumahnya yang kecil di belakang gedung gereja. Kami kadang berpapasan ketika berkativitas di area gereja itu, tetapi Valene tidak mengenaliku. Dia melupakan segala sesuatu yang terjadi.


__ADS_2