
Percakapan itu berlanjut tanpa bisa dihentikan. Earnest pun tidak bisa menghentikan mereka. Mungkin mengingat budaya mereka yang harus hormat pada orang-tua. Dia pun membiarkan percakapan itu berlanjut. Hanya antara mereka bertiga. Seolah-olah kami tidak ada di sana. Mereka sangat konsisten ketika di awal tidak mau menyambut kami, sampai akhir, kehadiran kami seperti tidak ada.
Kami berangkat ke bandara saat itu juga. Hotel yang sudah dipesan untuk tempat tinggal papa dan mama Kim ditinggalkan begitu saja. Tadinya kamu berencana akan tinggal agak lama di sana. Menikmati kota Singapura dan bercengkerama dengan keluarga baru. Bayangkan, seindah itu lah bayangan kami tentang keluarga Lee. Yang terjadi adalah sebaliknya. Bahkan lebih parah.
Kami tau, rencana itu sudah gagal total. Aku senang karena dalam hal ini, kami –papa dan mama Kim serta aku– sepikiran. Kami hanya diam di sana mendengar celotehan mereka sampai tiba akhirnya kami akan meninggalkan rumah itu. Tidak ada niat sama sekali untuk berusaha membuat keputusan mereka berubah. Itu hanya akan menambah sakit hati. Kami tidak ingin memohon-mohon seolah-olah hidup dan harga diri kami tidak begitu penting. Ditambah lagi, tidak peduli seberapa banyak kami memohon, keputusan mereka tidak akan berubah. Memohon hanya akan membuat posisi kami semakin rendah dan tidak berharga.
Suasana membisu. Earnest merangkul pundakku dan menggenggam erat tanganku. Namun gerak-geriknya yang seolah peduli padaku, sama sekali tidak menolong. Aku justru berharap dia tidak di sana bersama kami lagi. Cukup hanya papa, mama dan aku. Tindakannya yang seolah-olah menghiburku terasa seperti ejekan bagiku. Papa dan mama Kim duduk dalam diam. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Mataku lurus menatap ke arah luar jendela. Singapura adalah kota yang modern dan bersih. Harusnya pemandangan baru itu terlihat indah bagiku. Namun mataku sudah buta. Semua tampak jelek dan mengesalkan bagiku.
__ADS_1
Entah apa lagi yang harus dibicarakan. Mata itu menatapku memohon. Dia diam seribu bahasa dan bicara melalui sorot yang memelas itu. Aku berusaha mengikuti alur yang dia mau agar pertemuan itu segera berlalu. Jika bisa memilih, aku lebih baik masuk ke ruang tunggu dan duduk di sana sampai dipanggil untuk boarding. Menurutku, tidak ada lagi yang perlu kami bicarakan. Semua sudah jelas. Namun tidak begitu yang dia pikirkan.
“Daddy, kau tau kan? Kalau ini yang terbaik buatmu, tidak apa-apa. Aku akan melepasmu…” Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku, memecah kesunyian kami. Sorot mata itu berubah dari memelas ke putus asa. Matanya mulai berkaca-kaca. Aku berusaha memahami. Dia pun tidak ingin berada di posisi itu, aku tau. Dan dia juga tidak sengaja sehingga semua itu terjadi, aku pun tau. Tapi kejadian itu sudah ada. Dan itu sangat menyakitkan. Itu adalah fakta. Tidak ada dari kami yang bisa lepas dari konsekusensinya. Hatiku hancur, dan pastinya papa dan mama Kim. Earnest pun pasti merasakan hal yang sama. Hanya, tidak bisa dipaksakan untuk saling memahami. Aku tidak ingin memahami posisinya dan memilih menikmati sakit hatiku. Dan aku pun ingin membiarkan dia memproses keadaan itu dengan leluasa tanpa intervensi siapa pun. Menurut hematku, tidak masalah jika akhirnya kami mengambil jalan masing-masing.
“Jade… Semua akan baik-baik saja sayang. Sabar ya. Aku akan coba bicara pada papa mama soal ini. Tunggu, kami akan segera ke sana untuk melamarmu. Jangan pernah ucapkan kata-kata itu. Untuk alasan apa pun, kau tidak boleh melepaskan aku. Sama seperti aku tidak pernah melepasmu. Janji?” Dia memohon. Masih dengan memelas. Ku tatap dia dengan penuh ragu. Aku sama sekali tidak percaya bahwa keadaan akan berubah menjadi baik-baik saja. Di antara kami, pernikahan adalah sebuah hal yang mustahil.
“Tapi semua yang papa mama kamu bilang benar daddy. Sosokmu terlalu besar untuk seseorang seperti aku. Mereka bahkan belum tau siapa aku dan latar belakang hidupku. Bisa kau bayangkan bagaimana reaksi mereka jika mereka akhirnya tau? Sampai kapan kita bisa menutupi semua yang pernah terjadi padaku?”
__ADS_1
“Jade, jawab aku sayang… Oke?”
“Oke daddy. Aku percaya padamu…” Aku sudah tidak sabar ingin masuk ke dalam ruang tunggu. Dia mencium keningku dan memelukku untuk terakhir kali dan ku tinggalkan dia di sana menatapku melangkah masuk.
Ku susul papa dan mama Kim yang sedang duduk menungguku. Mama Kim berdiri dan merentangkan kedua tangannya begitu melihatku muncul di sana. Ku peluk tubuhnya erat. Nafasku menderu. Ada amarah. Namun aku bingung bagaimana melampiaskannya. Mama mengelus-elus punggungku lembut.
“Jade, sekarang lah saatnya menangis sayang. Menangis sepuasmu. Kita sedang marah. Dan pantas saja untuk melampiaskannya dengan menangis. Tidak apa-apa menangis…” Mama terus membujukku untuk menangis. Perlahan, air mataku mengalir dan tidak bisa ku bendung, aku sesenggukan di pelukan mama.
__ADS_1
“Mama minta maaf karena sudah mendorong hal ini cepat-cepat terlaksana sayang. Jika tidak, ini semua tidak akan terjadi. Mama minta maaf oke?” Aku semakin sesenggukan, aku tau, kesalahan bukan di pihak kami. Kami hanya sedang melakukan seuatu hal yang menurut kami pantas untuk dilakukan, dan itu bukan sebuah tindakan kriminal. Satu-satunya kesalahan kami adalah, tidak berada di dunia yang sama dengan mereka. Jalan pikiran dan cara hidup kami benar-benar berbeda. Aku mengulang-ulang itu di pikiranku untuk mengurangi amarah dan rasa benciku. Kepada mereka, juga pada diriku sendiri –sesal mulai merayap pelan-pelan membungkus kalbuku, kenapa jalan hidupku bisa seaneh itu–.
“Dan kau harus tau sayang, kamu sangat istimewa. Semua orang di dunia ini istimewa dengan cara mereka masing-masing. Nama besar dan prestasi bukan suatu yang mutlak untuk mengkotak-kotakkan orang pada level tertentu. Justru karena mereka berpikir seperti itu, mama harus bilang, mereka berada di level paling bawah. Tidak sekelas denga kita. Jadi, lupakan apa uang mereka katakan. Jangan dimasukkan ke hati. Anggap saja kita baru saja bertemu dengan manusia dari planet lain. Mereka aneh. Begitu. Oke Jade?” Aku terisak, menghabiskan tangisku. Iya. Aku tidak akan mengemis untuk berada di posisi yang sama dengan mereka. Sepertinya, aku sudah mulai menggambarkan jenis kehidupan yang akan ku jalani. Dengan atau tanpa Earnest.