Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
Titik Terang


__ADS_3

Dan aku memulai dengan kecupan hangat di keningnya. Aku memang sangat merindukannya. Bukan sekedar ingin mengalihkan fokusnya dari cerita-cerita itu, meskipun iya, tapi hanya 1%. 99% adalah murni karena aku merindukan Jade yang dengan leluasa mengekspresikan rasa bahagia di pelukanku. Rasanya sudah sangat lama tidak melihatnya menunjukkan emosi yang sedemikian beragam. Dia selalu dalam keadaan dingin, tenang... maksudku, terlalu tenang. Hampir menakutkan. Dia terlalu sibuk dengan cerita-cerita yang ditulisnya. Atau mungkin bukan hanya sekedar cerita. Bisa jadi, dia sedang menuangkan semua ingatan yang tenggelam di alam bawah sadarnya, yang datang mengintip ke permukaan karena sering dipanggil datang.


Dan aku pun sibuk. Sama sibuknya dengan Jade. Memikirkan dan mencari potongan-potongan kisah itu. Kemudian mencoba menyusun dalam sebuah bingkai puzzle utuh. Tapi masih butuh banyak waktu untuk melengkapinya. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Dan di tengah kesibukan itu, aku juga berjuang menemukan cara untuk memastikan bahwa dia tetap waras.


Kemajuan dalam ceritanya cukup membuatnya bahagia. Ada perubahan dari sebelum-sebelumnya. Putri itu sudah bergerak keluar dari istana. Aku penasaran, mungkinkah itu adalah proses masuknya dia ke negara ini? Dan apa selanjutnya? Akankah berakhir pada hari di mana dia ditinggalkan di taman gereja itu?


Kita lihat saja nanti. Aku pun penasaran.


Tapi bagaimana kisah itu berjalan bukan masalah lagi. Aku sedang berpikir keras bagaimana caranya mendampingi seseorang yang memiliki masa lalu kelam. Bayangkan, aku sudah berpikir sejauh itu, seolah-olah aku sudah tau bahwa cerita itu benar terjadi. Tapi tidak ada salahnya mempersiapkan segala sesuatu kan? Aku akan lakukan apa pun agar kedamaian tercipta dalam kehidupan Jade.


Aku terbangun, dari bunyi dering ponselku. Ku raih telepon dari atas nakas di samping tempat tidur. Drey? Aku bangun dan berjalan ke ruang kerja.


"Bicaralah Drey."


"Boss. Tentang DNA Jade yang kita serahkan ke kepolisian. Ternyata sudah tidak di sana. Ditarik. Kejadiannya kemarin sore. Ketika saya coba cek perkembangan laporan itu..."


"Ada informasi tentang siapa yang menarik laporan itu? Dan kenapa bisa?"


"Seseorang dari Kim Corps boss." Nama itu mengingatkan aku pada Denise Kim. Jangan jangan?


"Kita berangkat ke kantor sekarang. Siapkan mobil. Beritahu Andrew untuk bermarkas di sini. Tambahkan satu orang lagi untuk menemani Andrew. Tempat ini tidak pernah bisa ditinggalkan. Sekarang!"


"Siap boss!"

__ADS_1


Aku kembali ke kamar tidur. Memastikan bahwa dia masih tidur lelap dan tidak terganggu dengan pergerakanku. Masih subuh, belum waktunya untuk bangun. Aku mandi, berpakaian dengan cepat, mencium keningnya dan berjalan keluar kamar. Drey sudah menunggu di depan pintu bersama Andrew dan Fred.


"Andrew. Pastikan segala sesuatu aman di rumah ini. Tidak ada orang luar yang diizinkan mendekat atau masuk ke dalam rumah. Lapor pada saya. Segala sesuatu harus seijin saya. Saya akan memberi tahu Jade tentang keberadaan kalian berdua. Tanggapi dengan sigap setiap panggilan dari saya atau Drey."


"Siap boss!"


Sama seperti hari Sabtu lainnya, tidak ada orang di kantor kecuali divisi yang menangani store. Mereka bergiliran masuk untuk memastikan semua Earnest fashion store beroperasi dengan lancar. Justru proses jual beli lebih banyak terjadi pada saat weekend. Mereka akan segera pergi dan bekerja dari kantor-kantor yang terdapat di setiap Earnest fashion store. Dan kantor pun kembali sunyi.


"Singkat saja Drey, ada kemajuan apa sejauh ini?" Drey menyerahkan sebuah dokumen. Sebuah kertas yang ditandatangani oleh legal representative yang berhak mencabut laporan DNA itu. Siapa? Tapi nama dan tanda tangan yang tertera di atas kertas itu adalah orang baru.


"Apakah kau yakin dia seseorang dari Kim Corps?"


"Dia adalah staf dari kantor hukum mereka boss."


"Saya masih belum menemukan apa-apa Boss. Dan satu informasi lagi. Jade masuk ke Gaia Wear murni dari proses yang seharusnya. Ada kontrak kerja yang sah di atas kertas. Saya tidak yakin seberapa resmi prosesnya, tapi satu hal, Gaia tidak ada hubungannya dengan diangkatnya Jade menjadi staff tetap di Gaia Wear segera setelah kelulusannya. Gaia menemukannya setelah dia menjadi staff tetap, kemudian merekrutnya untuk menjadi PA-nya."


Kemungkinan kecil yang ku duga itu ternyata benar. Mengingat Gaia Wear adalah sebuah perusahaan besar dan bonafid, tidak mungkin Jade masuk ke sana sesuai proses yang seharusnya. Pasti ada campur tangan seseorang. Karena itu bukan Gaia Kim, siapa lagi kalau bukan Denise Kim? Aku manggut-manggut. Mulai ada titik terang. Ditambah lagi, mereka berani-beraninya menarik laporan DNA itu. Berarti dia tidak ingin rahasia itu terkuak.


"Info lain?"


"Saya mendapatkan ini satu jam yang lalu..." Drey menyerahkan handphone-nya. Sebuah pesan masuk melalui pesan teks berbayar. Bukan aplikasi chat yang lumrah dipakai di jaman sekarang.


'Ayo bicara. Hubungi nomor ini.'

__ADS_1


"Nomor siapa itu? Sudah diperiksa?"


"Nomor ini terdaftar dengan nama yang sama yang ada di atas kertas itu boss. Legal representative yang mencabut laporan DNA itu." Oh. Oke Denise Kim. Apa maumu?


"Telpon sekarang."


Drey mengubungi nomor itu. Respon yang didapat sangat cepat. Dalam hitungan detik, panggilan itu ditutup. Drey menuliskan sebuah alamat di atas kertas dan menyerahkannya padaku.


"Siapa yang bicara di telepon? Pria? Wanita?"


"Pria boss."


"Beri tahu dia, dalam satu jam kita tiba di sana." Aku tidak akan menunggu lebih lama lagi. Harus ku tuntaskan secepat mungkin. Jika dugaanku benar mengenai hubungan Denise Kim dan Jade, aku harus meluruskan beberapa hal dan menutup kasus itu. Soal dia mau apa... Entahlah. Aku harus bertemu secepatnya agar bisa tau kami harus bagaimana.


"Boss…" Drey tampak ragu. Sikapnya yang selalu sigap berubah. Ku tatap matanya. Ada hal yang hendak disampaikannya.


"Katakan, ada apa?"


"Apakah menurut boss ini tidak apa-apa? Yakin kita masuk ke markas mereka? Bagaimana jika mereka merencanakan sesuatu yang buruk? Apa tidak lebih baik kalau saya ke sana dulu dan memeriksa. Baru kita putuskan apakah akan ke sana atau tidak..." Ah, iya. Alasan Drey masuk akal. Tapi aku sudah tidak sabar.


"Saya tidak menemukan kesalahan apa pun di pihak kita Drey. Jadi jangan khawatir. Fakta bahwa mereka menarik laporan DNA, pasti karena... entahlah. Tapi aku menduga, itu murni untuk keselamatan Jade. Dan jika itu benar, berarti niat mereka baik. Tapi memang, ada baiknya untuk berhati-hati. Persiapkan orang-orang kita, 10 orang cukup. Minta mereka mengikuti kita dari jauh. Lakukan pergerakan yang mulus. Hanya untuk jaga-jaga. Ayo jalan!" Aku memberi perintah.


Dengan gerak cepat kami menuju ke sebuah vila di pusat kota, di salah satu kompleks termahal di kota itu. Orang itu, meminta kami untuk datang ke sana.

__ADS_1


Pikiranku berkecamuk. Apakah benar kata Drey bahwa kami sedang memasuki markas musuh? Tapi tidak mungkin. Jika mereka berniat jahat, mereka tidak mungkin memberikan sebuah alamat rumah tinggal. Bukan begitu cara kerja orang jahat. Lain cerita jika kami diarahkan ke sebuah tempat terpencil, sunyi atau tidak teridentifikasi. Lagipula, aku memang sudah tidak sabaran.


__ADS_2