Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
Apa Namanya Jika Bukan Cinta?


__ADS_3

Dia menghela nafas berat, dengan emosi tertahan. Aku menduga, mungkin hari ini sangat berat. Mungkin terjadi sesuatu di tempat kerja. Atau mungkin selama perjalanan. Atau-atau lainnya. Rasa bersalah menyerangku. Kenapa aku harus mengamuk ketika dia tidak datang? Aku seharusnya tenang saja agar dia bisa pulang ke rumah dan istirahat. Tidak perlu melakukan kunjungan. Ingin ku raih dia dan membantu meringankan bebannya, namun aku tidak tau bagaimana memulai. Aku terlalu nyaman dalam diam. Lagipula, aku tidak yakin, apakah itu yang dia perlukan dari aku? Aku butuh secuil kepercayaan diri untuk memulainya.


“Jade… Ini adalah hari yang melelahkan sayang. Tapi aku memang harus minta maaf karena datang terlambat. Aku mendengar dari nanny bahwa kau menangis tidak henti sejak sore tadi. Apa karena aku terlambat? Aku sangat menyesal, maafkan aku. Aku baru saja kembali dari Tokyo, dari bandara langsung ke sini. Aku sudah berusaha untuk menyelesaikan semua urusan agar jadwal penerbangan terkejar dan aku tiba di sini tepat waktu, tetapi tidak bisa. Urusan di sana harus secepatnya selelsai. Setelah benar-benar selesai aku baru boleh meninggalkan tempat itu. Dan aku mengubah penerbangan menjadi sore hari, setidaknya aku masih bisa melihat kau tidur. Aku lelah secara emosional. Ini adalah pertama kalinya bagi pegawai Earnest fashion menyaksikan betapa kejamnya seorang Earnest dan aku bicara dengan nada tinggi, bahkan membentak. Ah... aku sangat lelah sayang. Bahkan di pesawat, aku menangis karena tidak bisa menahan perasaan ini. Bisakah kau bantu aku? Hanya dengan tersenyum padaku. Atau mungkin mengatakan beberapa kata. Atau apapun itu, untuk menenangkan jiwaku yang gersang? Aku merindukanmu. Aku berusaha keras untuk mengingat semua momen yang pernah kita alami bersama karena jika tidak, aku hampir melupakan semuanya. Caramu tersenyum, tertawa, sorot di matamu saat mengatakan cinta, saat kau marah atau menggodaku. Tolong aku... Aku sedang merasa sangat lelah sayang... " Dia bicara seperti biasa. Tapi kali ini berisikan keluh kesah. Tidak seperti biasanya. Seperti dugaanku, sesuatu terjadi di tempat kerja, tapi dia masih berjuang untuk datang. Rasa bersalahku menyerang semakin telak. Apa yang bisa ku bantu untuk meringankan lelah itu?


Dia menangis dan mencoba membuatnya tidak bersuara. Namun masih ku dengar suara isakannya. Menghancurkan hatiku. Dipandang dari sudut mana pun, aku tau, dia telah berjuang sebisanya, untuk melakukan yang terbaik meski keadaan bukan seperti yang diharapkannya. Dan apa namanya jika bukan cinta? Dia tidak menyerah meski sulit. Aku mencoba berdiri di posisinya, jika aku menjadi dia, apakah aku bisa sekuat itu untuk bisa bertahan? Tidakkah lebih mudah berhenti dan mencari kesenangan di luar sana? Dia lebih dari bisa untuk memutuskan melakukan hal-hal mudah itu. Tapi dia memilih setia. Lagi-lagi aku menyimpulkan, apa namanya jika bukan cinta?


Rasa bersalah memanah tepat di jantungku, aku tidak bisa lagi hanya membiarkannya terpuruk begitu. Apalagi pulang dengan suasana hati yang sangay galau. Aku tau, aku harus melakukan sesuatu. Dia harus tau bahwa perjuangan yang dilakukannya tidak sia-sia. Cinta kami masih ada. Aku selalu menunggu. Hanya, aku tidak punya cukup kekuatan untuk menunjukkannya. Sekarang Jade, waktunya menunjukkan bahwa kau tau dan peduli. Lakukan sesuatu. Ku himpun segenap kekuatan yang ada dalam diriku. Kali ini, meski mungkin itu bukan cinta, aku tidak peduli. Aku harus menolong.

__ADS_1


Aku perlahan bangkit dan memeluk erat dari sisinya. Wanginya masih sama, versi Earnest yang sedanga sangat lelah. Keringat yang dihasilkannya adalah buah kerja keras yang penuh tekanan. Semua itu dia lakukan untukku. Dan itu membuatku semakin tenggelam dalam iba. Ku hirup hawanya. Ku sandarkan kepalaku di punggungnya dan mengusap punggungnya dengan lembut. Aku berharap, gerakan kecil itu cukup untuk meluruhkan sedikit rasa lelahnya.


"Jade...?" Ia memutar tubuhnya ke arahku. Dalam cahaya redup, mata kami bertemu. Aku bisa melihat semua emosi baik berkumpul di sana. Dan aku pun mencoba untuk mengungkapkan melalui mataku bahwa aku sangat merindukannya. Ku harap dia bisa membaca bahwa cinta di hatiku masih sama seperti dulu. Dia membingkai wajahku dengan tangannya.


“Jade…” Dia memanggil. Ku raih wajahnya dan menyeka air mata dari pipinya. Lidahku masih kelu, tapi aku tau bahwa dia paham apa maksudku.


“Katakan sesuatu sayang...?” Dia memohon, tapi aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku menangis, untuk menumpahkan betapa takut aku kehilangan dia dan betapa rindu aku ingin bertemu dengannya. Dia memelukku dengan erat, mengusap punggungku dengan lembut. Mencium keningku dengan hangat.

__ADS_1


“Tidak apa-apa Jade, tidak masalah. Kau tidak perlu mengatakan apa-apa. Tidak apa-apa sayang..."


Aku tidak bisa melepaskan dia pergi malam itu. Ku peluk dia erat, tanganku mencengkeram lengan bajunya, agar aku terbangun jika dia sengaja melepaskan tanganku dan pergi. Aku tertidur masih dalam pelukannya.


Aku senang bukan main ketika melihat bahwa dia masih di sana ketika aku bangun di Sabtu pagi.  Kami menghabiskan sepanjang weekend bersama. Aku melakukan semua hal yang belum pernah ku lakukan sebelumnya. Kami makan bersama di meja makan, aku mendengar dia bicara dan membacakan buku dengan mata terbuka, dia bahkan membantuku untuk mengeringkan rambutku, merias wajahku dan menilai baju yang ku pakai. Tidak henti-henti ku nikmati sinar bahagia dari wajahnya yang sumringah. Aku melihat seorang pria tampan berhati murni, dia kelihatan sangat bahagia. Dia masih Earnest yang dulu, semudah itu untuk membuatnya bahagia. Sorot matanya penuh cinta. Benar kan Jade? Apa lagi namanya jika bukan cinta? Iya. Aku memutuskan percaya dan mennikmati keberadaannya di sana.


Tapi waktu terlalu singkat. Sabut berlalu dan Minggu datang. Minggu malam pun tiba seolah-olah matahari lelah dan ingin cepat-cepat pulang dan tidur. Setelah makan malam, dia bersiap-siap akan berangkat lagi. Aku kehilangan kontrol atas emosiku. Tidak bisakah dia di sana saja selamanya menemaniku? Aku benar-benar tidak bisa membiarkan dia pergi. Ketakutan kembali menyerang batinku secara bertubi-tubi. Seluruh pikiran-pikiran jelek berseliweran di kepalaku. Bagaimana jika dia tidak kembali lagi? Jangan-jangan dia hanya berpura-pura selama bersama denganku agar aku senang? Jumat lalu dia masih meski terlambat. Apa mungkin dia akan memutuskan tidak datang lagi dan dia sama sekali tidak muncul Jumat depan? Ku peluk dia dengan erat dan memohon dia untuk tidak pergi dengan menangis, meraung-raung. Berharap dengan begitu dia akan membatalkan kepergiannya.

__ADS_1


__ADS_2