Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
Persepsi


__ADS_3

Sudut Pandang Jade


Melihat keadaan Earnest membuat umurku bertambah panjang beberapa hari, mungkin lebih. Wajahnya kuatir, matanya sembab dan ada sedikit kesan kantong mata, mungkin karena kurang tidur atau mungkin karena menangis. Beberapa sel yang rusak di tubuhku seolah-olah memperbaiki diri. Salah satu yang paling terasa adalah hatiku. Rasanya hangat. Suasana dingin dan beku yang dominan membungkus hatiku seolah mencair dan aku lega. Apakah karena aku hampir mati, sehingga ketika masih hidup, rasanya seperti terlahir kembali? Entahlah.


Mungkin itulah yang dia maksudkan dengan cinta. Bukan hanya perhatian dan kepedulian yang dia perlihatkan melalui kondisinya yang kacau balau, tapi sorot yang dia kirim melalui tatapannya, itu kah cinta? Itu membantuku merasa lebih baik. Dan perasaan itu terkirim melalui seluruh aliran darahku dan sepertinya tidak lama lagi aku akan sembuh. Itu lebih dari cukup. Aku tidak akan mengeluh ataupun merintih sakit. Aku bisa menerima semua yang terjadi padaku demi dia.


“Aku mencintaimu…” Dia membelai kepalaku dengan lembut. Dengan sangat hati-hati saat menyentuhku. Efeknya seperti obat penghilang rasa sakit. Semua perih dan nyeri di tubuhku sirna mendengar kata-kata itu.


“Bisakah ku dapatkan setiap hari?”


"Tentu saja. Dengan senang hati ku lakukan. Kapan pun kau mau. Haruskah ku katakan setiap detik?" Dia bercanda dan aku tersenyum.


“Itu terlalu banyak, sekali sehari sudah cukup.”


"Oke. Sesuai permintaan, akan dilaksanakan...” Dia mencium keningku yang dibalut perban, tapi hangatnya tetap ku rasakan.


Dia cerita tentang perjalanannya ke toko buku yang sering mereka kunjungi ketika mereka masih menjadi trainee dan awal-awal debut sebagai K-Pop boy-band. Waktu mereka masih dalam proses adaptasi dengan keadaan yang sangat menekan itu dan mereka masih punya waktu untuk lari dari agensi atau mess tempat mereka tinggal untuk berhenti sejenak dari penatnya tekanan. Mereka menyukai tempat itu karena tempatnya yang nyaman dan aman untuk bersembunyi karena tidak terlalu ramai dikunjungi orang. Meski ada jam-jam ramai pengunjung, mereka tetap aman karena akhirnya mereka diberi ruang khusus di loteng, sebuah ruang yang sengaja diadakan oleh pemilik toko buku untuk mereka. Jadi mereka bisa bebas ke sana pada jam kapan saja. Aku suka sorot matanya yang berbinar ketika bercerita. Kenangan itu pasti sangat berkesan baginya. Dan, dia membelikan beberapa buku untukku.

__ADS_1


"Ceritakan tentang mereka. Anggota lain dari The Knights --nama dari group bandnya--. Apakah kalian masih saling bertemu sampai sekarang?”


“Tentu saja. Itulah sebabnya aku berkunjung dengan rutin ke kota ini, selain mengurus Earnest Corps tentunya. Kami masih saling bertemu. Kami tidak pernah bubar. Masih terikat kontrak dengan beberapa proyek sebagai grup. Kadang kami masih harus menghadiri festival atau TV show sebagai grup. Tapi bisa dikatakan, 80% dari waktu kami dihabiskan untuk aktivitas individu. Apakah kau kenal Bradd?”


“Iya, aku kenal. Aku sedang mengikuti seri drama terbarunya.”


“Nah, seperti Bradd. Dia sekarang fokus pada karirnya sebagai aktor. Berurusan dengan drama, film dan promosi. Tapi jika kami perlu berkumpul sebagai The Knights, dia akan bergabung, sama seperti aku. Fokusku pada saat ini adalah bisnis dan musik solo. Dan hampir semua dari kami fokus di bidang musik, dengan solo masing-masing. Bradd adalah satu-satunya anggota yang terjun ke dunia akting...”


“Kapan terakhir kali kalian bertemu?”


“Aku ini seorang Earnesters --sebutan fans Earnest Lee--. Aku tidak tau menau tentang The Knights. Jangan salahakn aku."


"Jadi kau adalah milikku?" Maksudnya salah satu pengikut setia yang bergabung di fandomnya. Tapi iya, kenapa tidak?


"Apakah itu berarti semua orang yang bergabung dengan Eearnesters adalah milikmu?" Aku menyipitkan mata menodongnya dengan tatapan curiga dan tidak terima. Menggodanya. Dia kehilangan kata-katanya kemudian tertawa.


"Ah, oke... Kau tau apa maksudku Jade. Jangan menggodaku begitu..." Ekspresinya berubah dengan cepat. Terjebak dan mengaku kalah. Dia ternyata sangat lucu.

__ADS_1


"Jadi kapan kalian terakhir bertemu seagai group?"


“Mmm… Minggu lalu. Kami menyelesaikan proses syuting untuk sebuah program variety show. Belum tau kapan akan tayang, mungkin sekitar enam bulan lagi? Kami menjawab pertanyaan seputar kehidupan pribadi dan semua aktivitas yang sedang kami lakukan menyangkut karier. Acara ini sangat penting karena menjadi salah satu momen untuk tetap menghadirkan The Knights pada fans yang masih menunggu kami. Kurang lebih begitu..."


"Tapi mungkin yang mereka tunggu adalah karya musik sebagai group. Tidakkah itu penting?"


"Mmm... Tentu saja penting. Dan kami berencana akan melakukannya, tapi tidak sesering dulu. Banyak group baru dari generasi berikutnya yang hadir. Banyak hal yang berubah. Dan kami memutuskan untuk memberi diri kami kesempatan secara individu. Dengan group? Tentu saja. Dua tahun lalu kami rilis sebuah album. Mungkin dua atau tiga tahun lagi, kami akan kembali dengan album baru."


...


Kami menghabiskan sebagian besar waktu ngobrol. Salah satu hal positif dari kejadian buruk itu, kami bisa mengenal lebih dalam. Aku semakin memahami cara berpikir Earnest Lee sebagai Earnest Lee, bukan selebriti terkenal yang dulu ku kenal melalui berita dan internet. Aku butuh waktu untuk melepas semua pemahaman yang pernah ada untuk bisa menerima dirinya yang baru ku kenal.


Perlahan-lahan, terbentuk sebuah persepsi baru, Earnest Lee adalah pria yang romantis. Hatinya lembut dan sensitif. Dia membuatku melihat dunia baru, bahwa cinta memang --mungkin-- ada. Jika aku diberi pilihan, siapa dia sebenarnya? Dia adalah pria yang hidup dalam lirik-lirik lagu yang diciptakannya. Mulai dari tema kemanusiaan, kritik terhadap lingkungan dan dunia yang korup sampai rasa cinta dan rindu yang menggebu-gebu, adalah buah pemikiran seorang Earnest Lee.


Dia sama sekali bukan pebisnis termuda di Asia yang ambisius dan tidak punya perasaan itu, pria yang di pikirannya hanya ada target dan tujuan untuk membuat usahanya mendunia. Sisanya, dia tidak peduli. Bahkan di akun-akun gosip, masih saja berseliweran kisah-kisah miring tentang pemecatan pegawai Earnest Corps dengan cara yang tidak manusiawi karena keputusannya yang mirip psikopat. Kemudian dia akan menghabiskan malam harinya dengan hedonisme, berkunjung ke klub malam, pesta alkohol sampai mabuk, bahkan ada satu berita yang mengatakan bahwa dia mengkonsumsi drug, sampai main perempuan. --Mungkin aku butuh waktu lebih lama untuk membuktikan apakah ini salah atau benar--


Kebenaran yang mutlak tentang dia adalah, tidak peduli sebagai musisi maupun pebisnis, dia adalah pria yang berprinsip dan kharismatik. Porsi terbesar dalam dirinya yang membuat para wanita tergila-gila, disamping wajahnya yang tampan dan bentuk tubuh yang sempurna.

__ADS_1


__ADS_2