Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
Gadis Miskin


__ADS_3

Sudut Pandang Denise


"Itulah sebabnya tante memanggilmu kemari. Karena tante pikir sudah saatnya kau tau semua. Karena sepertinya tante bisa percaya padamu..." Ku tatap matanya meyakinkan. Namun tidak sedikit pun aku ragu bahwa sorot di matanya adalah cinta sejati.


Aku mengenal Earnest sejak lama. Ketika dia mas~~~~ih sangat muda, sering berkunjung ke rumah bersama teman-teman Gaia lainnya. Di saat pertama, semua lingkaran pertemanan Gaia memiliki citra yang sangat buruk di mataku. Aku percaya bahwa burung sejenis akan punya gaya terbang yang sama. Namun Earnest beda. Dia dalah seorang pria yang dididik dengan keras dan dengan nilai-nilai yang baik oleh orang tuanya. Setelah mengetahui sifatnya, aku malah berpikir bahwa pertemanannya dengan Gaia tidak akan lama. Namun seiring dengan waktu, persahabatan mereka semakin erat. Mau tidak mau, aku jadi berharap, bahwa mereka pacaran dan berjodoh. Setidaknya, Gaia ditemani oleh pria yang berkarakter baik sepanjang hidupnya, untuk meluruskan jalannya yang banyak sekali menyimpang.


Tapi harapan itu tidak kunjung terjadi. Dan aku tidak melihat bahwa akan ada perasaan cinta di antara mereka berdua. Aku kecewa. Selalu penasaran, perempuan mana yang akan sangat beruntung mendapatkan hati Earnest? Bisa bayangkan ketika ku temukan bahwa itu adalah Jade? Aku tidak henti menangis karena rasa syukur. Anak perempuanku yang hanya bisa ku jaga namanya dalam hatiku, namun raganya mengembara ke mana-mana itu, akhirnya menemukan pria sempurna untuk menjaganya. Aku hanya tidak menyangka, cintanya begitu besar sampai-sampai dia bisa melakukan apa pun untuk Jade. Termasuk menguak peristiwa yang ingin ku kubur sampai mati.


Earnest tidak hanya tampan. Dia baik. Dan memiliki prinsip dan nilai-nilai hidup yang tidak sembarangan. Satu hal yang membuatku semakin tergugah adalah, dia memiliki hati dan perasaan seluas samudera. Dia memahami Jade dan bertahan di sana, tidak meninggalkannya. Karena aku menduga, begitu dia mendengar kisah yang sebenarnya, dia mungkin akan melarikan diri jauh-jauh. Dia bahkan mungkin tidak akan sudi untuk melihat Jade lagi seumur hidupnya.

__ADS_1


Namun tampaknya dia sudah menduga apa yang terjadi. Jade bukan sedang mengarang cerita. Dia sedang menumpahkan semua kisah yang terpendam di memorinya yang hilang. Ku tatap mata itu dengan seksama. Dia masih marah, waspada, namun berusaha menahan emosinya. Aku tidak menyalahkannya. Orang di jalanan, di luar sana pun pasti akan marah padaku jika tau bahwa aku menelantarkan anakku sebatang kara. Thank you Earnest. Terima kasih sudah mencintai Jade sedemikian rupa. Aku tidak henti-hentinya berterima kasih dalam hati.


"Tante percaya bahwa Jade akan baik-baik saja berada bersamamu. Setelah tante bercerita, kau yang memutuskan apakah akan melanjutkan pencarian ini atau tidak. Tapi tante harus sarankan, biarkan Jade tetap dalam ketidak-tahuan, selamanya... Tidak ada hal yang baik di sana. Jangankan Jade, tante sendiri terguncang secara mental. Tau kah kamu apa yang tante lakukan di tahun pertama tiba di kota ini? Mengunjungi klinik mental secara rutin. Melakukan konsultasi dengan dokter ahli jiwa secara berkala disertai dengan pengobatan. Jika tidak, kau tidak akan melihat seorang wanita waras ini sekarang Earnest... Bahkan sampai sekarang, tante masih rutin melakukannya, walaupun frekuensinya sudah tidak intens. Tante menjauhkan diri dari dia sepenuhnya adalah untuk kebaikan Jade. Karena itu adalah hal terbaik yang bisa tante lakukan. Demi keselamatannya..." Aku menyesap teh yang sudah mulai suam kuku. Mengambil ancang-ancang untuk menceritakan sebuah kisah yang panjang. Dimulai dari gadis miskin dan polos yang berpikir bahwa dia bisa menyelamatkan keluarganya dari kemiskinan. Yang pada akhirnya, bukan kekayaan yang datang, melainkan malapetaka yang beruntun. Yang bahkan akal sehat siapa pun pasti sulit untuk menerima.


...


Gadis cantik itu, aku harus bilang, nasibnya sial. Mungkin karena sangat cantik dan terlalu baik, banyak pria yang mengejar. Dia kepincut oleh seorang pria lokal yang sangat tampan. Setelah menikah, dia baru tau, bahwa tampan saja tidak cukup untuk bisa hidup dengan layak. Namun dia bertahan demi anak perempuannya. Ingin memberi status yang terhormat bahwa keluarganya, yang memiliki struktur keluarga yang lengkap lengkap. Pokoknya anaknya punya papa. Aku tidak bisa salahkan keputusannya. Sebagai pendatang di negeri orang, dia berpikir sederhana. Dia perlu tempat tinggal dan seorang pelindung, cukuplah. Sambil tidak berhenti berharap bahwa suatu saat mungkin keadaan akan semakin membaik.


Tidak ada yang membaik. Aku tumbuh di dalam rumah yang memiliki dua hawa yang berbeda. Mama yang berhati lembut dan papa yang sangat kasar. Hari demi hari kami lewati dengan tidak mudah. Mama menopang kehidupan keluarga kami dengan menjadi guru bahasa di sebuah sekolah khusus imigran yang di dirikan atas kerjasama kedutaan Perancis dan Korea. Sementara papa hidup hanya dengan bernafas. Kerjanya mabuk dan judi. Belum lagi, jika moodnya sedang tidak baik, mama akan menjadi sasaran kemarahannya dan bermain tangan.

__ADS_1


Uang yang dihasilkan mama harusnya pas-pasan untuk kami bisa hidup tidak menderita, namun papa membuatnya semakin buruk dengan judi. Maka jalan keluarnya adalah berhutang. Sehingga budaya keuangan di keluarga kami adalah gali lobang tutup lobang. Dan yang paling lelah dalam siklus itu adalah mama. Sehingga, satu-satunya impian di benakku sejak kecil adalah, mencari cara untuk mendapatkan banyak uang. Aku akan melunaskan semua hutang keluarga kami dan kami pun bisa hidup dengan normal.


Begitu lulus kuliah. Aku dipertemukan dengan sebuah cara yang sangat mudah untuk mendapatkan uang. Tentu saja, kecantikan wajahku menjadi faktor utama, aku bisa dengan mudah mendapatkan tawaran itu. Dan dengan bodohnya berpikir bahwa aku beruntung. Pintu keluar dari kemiskinan dan penderitaan akhirnya terbuka.


Atas persetujuan papa, tentunya melalui perang sengit antara papa dan mama --karena mama sama sekali tidak setuju--. Wajar. Mama mana di dunia ini yang tega melakukan hal sekeji itu pada anak perempuannya? Namun mama kalah suara. Papa setuju, dan aku ikut kubu papa.


Dia menjualku kepada seorang pemimpin geng mafia dengan harga yang sangat tinggi. Karena spesifikasiku termasuk unggulan. Tidak hanya cantik dan sempurna secara fisik. Aku belum pernah pacaran dan kegadisanku masih terjaga dengan baik. Aku akhirnya paham kenapa papa selalu wanti-wanti jika aku didekati oleh pria. Dalam hal ini mama setuju. Aku tidak boleh dekat dengan pria, apalagi pacaran. Aku dijaga dan dipingit dengan baik seolah-olah papa sangat peduli dengan masa depanku. Benar, dia memang peduli. Tapi karena uang yang bisa didapatkannya dengan menjualku, bukan karena cinta seorang papa pada anak perempuannya.


Suatu hari, dengan tenangnya, dia sudah menunggu aku di ruang tamu rumah kami yang kumuh, bersama dengan beberapa orang pria berbadan tegap dan berpakaian berbeda --pakaian yang pantas dan mahal yang tidak menggambarkan lingkungan itu sama sekali-- dengan setumpuk kertas di meja. Tidak ada mama di sana. Setelah menanda-tangani beberapa lembar kertas berisi perjanjian, aku mencari mama dan menemukannya berbaring di atas dipan sambil membekap wajahnya ke bantal meredam suara tangisnya yang masih kedengaran saking kencangnya. Tapi tidak satu pun dari makhluk hidup yang ada di rumah itu peduli. Termasuk aku. Kenapa aku harus sedih? Aku sedang meraih impianku. Dan aku diberi kesempatan. Kenapa tidak?

__ADS_1


__ADS_2