
“Pasti. Aku akan melakukan apapun untuk mencari tahu. Ayo kita mulai cari dengan serius. Dengan melakukan banyak cara agar cepat ketemu. Dan tentang mengirimkan sampel DNA itu. Ayo lakukan itu juga. Aku akan terus berada di sisimu, menjagamu dan tidak akan pernah meninggalkanmu. Seandainya ketakutan-ketakuan itu adalah fakta, tidak masalah. Ada aku. Kita berdua bisa saling menjaga. Oke?"
"Bolehkah aku menggantungkan harapanku padamu? Kau tidak jadi marah karena aku ada maunya kan?"
“Nggak marah. Aku justru senang kau terbuka tentang dirimu. Aku senang kau jadikan tempat bersandar. Tenang saja, kekasihmu ini sangat bisa diandalkan. Mari kita mulai dengan menelusuri kembali apa yang terjadi pada hari itu di taman gereja.” Wajahnya berubah sumringah, aku mendapat ciuman lagi.
"Terima kasih..." Matanya berbinar-binar.
“Boleh kok sering-sering lakukan ini...”
"Yang mana?"
"Sorot mata yang indah ini. Berbahagialah Jade. Aku ingin kau selalu bahagia..."
"Emang boleh selalu bahagia?"
"Boleh lah, kenapa tidak?"
“Kalau begitu, aku tidak akan bekerja untuk Gaia lagi. Boleh?”
“Aku justru senang kalau kau berhenti dari sana.”
“Tapi aku butuh uang untuk hidup. Setidaknya sebelum aku mendapatkan jenis pekerjaan lain yang stabil.”
“Aku punya banyak, ambil sebanyak yang kau mau...” Matanya membelalak tidak percaya.
"Beneran? Boleh?" Dia kelihatan bersemangat. Ekspresinya menggemaskan. Aku penasaran bagaimana dia akan menghabiskan uang. Yang pasti dia bukan tipe perempuan yang hedon. Jika pun iya, aku akan berikan semua yang dia mau.
__ADS_1
"Iya, sebanyak yang kau mau." Dia cekikikan kesenangan.
“Terima kasih. Tapi nggak ah. Aku juga punya tabungan. Cukup untuk biaya hidup sebelum mendapatkan pekerjaan baru.”
“Kalau aku boleh saran, nggak usah kerja lagi. Coba kerjakan sesuatu yang bisa dilakukan di rumah...”
"Ide yang bagus. Aku berpikir untuk menjadi seorang penulis. Ingin menulis cerita anak-anak...”
“Wow, bagus. Tapi kontradiktif, tadi katanya tidak suka anak-anak tetapi kok ingin menulis cerita anak-anak?"
“Mmm… Bagaimana menjelaskanna ya? Bukan cerita untuk anak-anak, tapi cerita anak-anak. Dan cerita yang muncul di benakku adalah cerita yang menakutkan. Seperti… Sekelompok besar anak-anak berkumpul di ruang bawah tanah yang lembab dan bau, dengan jubah putih, mereka menunggu giliran untuk disembelih, bagian tubuh mereka diiris... Atau…” Aku kaget dan melepaskan tubuhnya dari pelukanku, menatap wajahnya. Matanya polos. Dia tidak bercanda.
"Jade... Kok bisa mendapatkan ide seperti itu?"
“Entahlah. Aku selalu membayangkan cerita itu berlanjut. Beberapa adegan menyeramkan terus muncul di pikiranku. Seperti, seorang putri cantik tidur di dipan di kamar gelap, air mengalir di lantai kamarnya, bunyinya menenangkan. Itu bukan kamar yang megah, tapi dia sangat senang tinggal di sana. Aku merasa bahwa putri itu adalah aku. Seolah-olah sedang memerankan cerita itu secara langsung. Sesuatu yang seperti itu. Dan banyak lagi. Dan ku pikir akan bagus jika dituangkan dalam bentuk cerita. Bagaimana menurutmu?”
"Apakah kamu pernah membaca buku semacam itu?"
"Bagaimana dengan film?"
“Aku menonton genre yang sama. Aku tidak akan membuang waktu menonton film yang tidak ku suka... Bagaimana menurutmu? Bukankah alur cerita yang tadi bagus? Aku ingin menulis novel yang mendebarkan, tentang anak-anak...” Dia tampak bangga karena bisa menemukan plot cerita yang menyeramkan itu. Tetapi kobaran api di matanya menakutkan. Aku merasakan dingin di ulu hatiku tiba-tiba. Jade…? Ku tatap matanya, sesuatu yang mengerikan tersirat di sana. Ku peluk dia, ku usap-usap punggungnya dengan lembut.
“Iya, itu alur cerita yang bagus. Kalau begitu, berarti jadinya stay di rumah kan? Mulailah menulis. Mari kita lihat hasilnya. Haruskah kita menyewa tutor profesional untuk melatihmu menulis?”
“Itu ide yang bagus. Tapi tidak sekarang. Ayo lakukan itu ketika aku membutuhkan bantuan untuk hal-hal teknis mengenai menulis." Ada sesuatu yang salah di sana. Aku memutuskan menanti tulisannya. Siapatau kami akan menemukan sesuatu dari sana. Ide cerita yang dia cetuskan pasti punya latar belakang sehingga bisa nangkring di kepalanya.
“Di mana kamu paling sering menghabiskan waktu?”
__ADS_1
“Mmm… Bisa diatur. Selama ini, aku paling sering tinggal di sini, hampir separuh dari waktuku. Seperempat berada di Seoul, dan seperempat lainnya berpindah-pindah ke mana pun aku dibutuhkan, ke semua cabang Earnest Corps. Kenapa bertanya?"
“Bagaimana kalau aku tinggal di rumah yang paling sering kau kunjungi? Boleh?” Ya bolehlah! Aku senang bukan main. Dia pasti melihat mataku yang berbinar cemerlang. Dan dia tersenyum begitu manis, mencium bibirku.
“Jade, kau tidak boleh meninggalkanku setelah melakukan ini padaku, oke? Kau memperlakukan aku dengan sangat manis dari tadi, membuat aku jatuh cinta semakin dalam. Kau sudah merebut seluruh hatiku untukmu. Kalau kau sampai main-main denganku, aku bisa gila!” Dia tersenyum manis sekali. Sepertinya suka dengan apa yang ku bilang. Aku baru tau, ternyata jatuh cinta dan pacaran bisa seindah itu.
“Apakah kau sebahagia itu?”
"Bahkan lebih. Aku hanya tidak bisa menunjukkannya. Aku hampir mati karena serangan jantung. Beruntung tubuhku sehat karena rutin olahraga, kalau tidak aku mungkin sudah dalam perjalanan ke rumah sakit.” Dia tertawa tergelak, mungkin bagi dia itu lucu. Padahal aku sangat serius. Aku tidak bisa berhenti mengagumi pemandangan di depanku. Dia benar-benar indah dan aku terpana dengan setiap tingkah lakunya.
“Jadi bagaimana? Di rumah yang mana aku akan tinggal? Atau apakah tidak apa-apa jika kita tidak sering bertemu? Seperti, sebulan sekali? Kalau boleh, aku tinggal di rumahku saja, kau bisa kunjungi aku di sana.” Tapi aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Dia menawarkan untuk tinggal di rumahku, ya mau lah. Aku berencana akan menawan dia seumur hidup. Tidak akan ku lepas lagi.
“Jangan. Tinggal lah di rumahku, di Seoul. Rumah itu selalu dirawat dengan baik meskipun aku tidak selalu di sana. Alangkah baiknya jika ada yang menempati setiap hari. Kita berangkat besok bersama-sama. Mulai sekarang, aku akan menghabiskan sebagian besar waktuku di sana sampai kita mendapatkan sesuatu tentang masa lalumu. Bagaimana menurutmu?"
"Setuju. Ide yang bagus. Kalau begitu, biar aku tinggal di rumahku saja, tidak perlu tinggal di rumahmu. Toh kita akan sering bertemu kalau kau memutuskan untuk lebih lama menempati rumah yang di sana.”
"Apakah kau suka seperti itu?"
“Iya, tapi yang mana pun oke. Aku ikut saja."
“Tidak boleh. Tinggal lah di rumahku, rumah kita...” Dia tersenyum simpul.
"Jadi, apa yang harus ku lakukan dengan apartemen kecilku?"
“Kita pikirkan nanti. Aku senang, akhirnya seseorang menjadi tuan dari rumah yang selama ini kosong, padahal belinya mahal. Mengapa harus di sia-siakan? Kau bisa dengan leluasa hidup di sana, bersenang-senang dan lakukan apa pun yang kau mau. Dan aku akan selalu berusaha pulang ke sana karena ada kau..."
“Oke deh. Yang mana pun boleh.”
__ADS_1
“I love you Jade” Dia menjawab dengan cuek bebek, aku kesal.
"Aku tahu, terima kasih..." Katanya. Aku membelalak, tapi dia malah tertawa. Aku mengharapkan hal yang sama sebagai balasannya, tapi mungkin belum waktunya. Untuk sementara, begitu saja sudah cukup. Yang pasti dia adalah milikku, hal-hal sepele yang lain tidak penting.