Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
Akan Ku Bawa Ke Mana Pun Pergi


__ADS_3

Sudut Pandang Earnest


Aku berangkat ke New York untuk jadwal kerja minggu ini. Secara berkala harus mengunjungi setiap cabang kantor setiap tahun, mungkin 2 atau 3 kali setahun. Dan karena aku juga dibutuhkan sebagai Duta Global Earnest Fashion, aku juga harus melakukan syuting atau pemotretan untuk iklan setiap produk baru.


Sepertinya pekerjaanku pada minggu ini akan terasa menyenangkan, bukan main bahagia melihat kemajuan Jade. Aku bisa melakukan apa saja untuk melihat dia dalam keadaan membaik begitu, bahkan jika harus membatalkan perjalanan pun aku mau. Tapi baguslah, dia akhirnya tertidur. Aku mengambil tiket penerbangan jam 2 pagi. Terlambat sedikit tidak apa-apa. Namun aku penasaran, apa gerangan yang mungkin terjadi pada pagi hari ketika dia bangun? Aku akan sangat bahagia bahkan jika dia menangis ketika dia tidak menemukanku di sampingnya. Aku maunya begitu. Penantian yang sudah sangat lama itu harus dibayar dengan, setidaknya,  memperlihatkan betapa besar cintanya padaku. Dan itu akan jauh lebih baik daripada melihatnya dengan tatapan kosong dan tanpa emosi.


Begitu tiba di kantor, aku mencoba mengatur jadwal, untuk mengantisipasi hal-hal yang bisa menunda kepulanganku. Kali ini, tidak peduli apa pun yang terjadi, aku harus pulang lebih cepat.


Aku mendapat telepon dari Denise. Di sana Selasa pagi, dan sudah malam di NY, aku baru saja menyelesaikan pekerjaan untuk hari itu.


"Earnest..."


"Hallo tante?"


"Apakah tante mengganggu pekerjaanmu?"

__ADS_1


"Oh, tidak tante. Ini sudah jam pulang kantor. Ada apa tante?"


"Maafkan tante karena langsung pergi dan tidak sempat bertemu denganmu. Kita seharusnya bicara tentang kemajuan Jade sebelum kau pergi. Coba ceritakan, apa yang terjadi pada hari Minggu? Kami buru-buru pergi setelah melihat suasana yang baik di sana..."


"Keadaan Jade baik, kemajuannya bagus. Dia akhirnya menunjukkan beberapa ekspresi melalui mata dan wajahnya, terkadang bahasa tubuhnya. Tapi tetap saja, tidak ada kata-kata. Dia bahkan berani untuk memelukku. Kemajuan yang besar. Sebelumnya, dia bahkan tidak mau melihat ke arahku. Bagaimana sekarang tante? Ku harap semua baik-baik saja di sana..."


"Nah, itu masalahnya Earnest. Tidak baik sama sekali. Suasana hatinya sangat buruk. Sejak Senin pagi. Pagi ini, dia bahkan belum bangkit dari tempat tidurnya. Dia tidak tidur tapi dia tidak melakukan apa-apa. Tante tetap lanjut membacakan buku untuknya meski tidak ada reaksi apa-apa. Tapi dia makan sangat sedikit. Tante sangat khawatir. Apa mungkin ada sesuatu yang salah hari Minggu lalu?"


"Ah... Ayo kita lakukan ini tante. Biarkan aku bicara di telepon dan pastikan dia mendengar, apakah dia sudah sarapan pagi ini?"


"Belum Earnest. Aduh... Makanya. Ayo kita coba. Tunggu, tante akan memberikan ponsel ini padanya. Tunggu… tante berjalan ke kamarnya sekarang." Aku mendengar langkahnya mencapai kamar, pintu terbuka dan tertutup.


"Earnest, tante aktifkan speakernya. Ngobrol lah. Tante akan ke bawah untuk menyiapkan sarapan."


"Baik tante, terima kasih..." Aku menunggu sampai terdengar suara langkahnya keluar dan pintu ditutup.

__ADS_1


"Jade? Sayang... Aku lagi di NY sekarang. Sangat jauh darimu. Aku tidak bisa ke sana sekarang untuk melihat keadaannmu. Jadi tolong bantu aku. Baik-baiklah sayang, oke? Jaga kesehatan. Lakukan rutinitas seperti biasa. Harus makan dan tidur nyenyak. Kalau ada apa-apa padamu, aku tidak bisa melompat cepat untuk menemuimu, terlalu jauh sayang. Oke?" Aku terdiam sebentar. Mencoba mereka-reka apa yang sedang terjadi di seberang sana. Ku dengar suara, dia bergerak lebih dekat ke telepon, aku bisa mendengar napasnya. Hatiku meloncat bukan main senang. Itu berarti dia merespon.


"Sekarang jam 10 malam di sini. Baru saja menyelesaikan pekerjaan hari ini. Boleh kan aku tidur dengan Jade? Tapi kalau kau begini, bagaimana bisa aku tenang sayang? Tolong, lakukan seperti biasa. Makan 3 kali sehari. Aku harus melihat Jade yang lebih baik dan sehat dari weekend kemarin. Aku akan sedih jika volume pipimu berkurang. Sayang? Apakah kau di sana? Bolehkah aku mendapatkan sesuatu seperti kata iya atau jawaban apa pun, hmmm...?" Yang bisa ku dengar hanyalah napasnya. Tidak masalah Earnest, intinya dia merespons.


"Baiklah. Ayo bangkit. Mari kita mulai rutinitas hari ini. Apakah kau sudah mandi? Sarapan? Dan biarkan aku istirahat ya Jade. Oke? Sekarang kau yang tutup panggilan ini, jadi aku tahu bahwa kau mendengarkan. Aku mencintaimu Jade..." Ku dengar suara dia bergerak dan panggilan itu diakhiri. Berarti dia mendengarkan dan menanggapi. Itu sudah cukup untuk saat ini. Aku tidak bisa lebih bahagia. Ku pikir aku perlu membuat 5 hari kerjaku menjadi 3 atau 2 hari saja, jika memungkinkan. Aku ingin memeluknya sekarang juga, dan melihat perkembangannya yang lebih baik.


...


Aku menjadikannya 3 hari. Aku sangat lelah karena pekerjaan yang menguras tenaga secara fisik dan mental, tapi hatiku sangat bahagia. Aku tidak peduli tubuhku lelah.


Aku mengambil penerbangan tercepat yang bisa ku dapat hari itu. Aku tidak keberatan dengan jet-leg yang akan ku dapatkan. Begitu mendarat di bandara Incheon, aku menuju ke vila. Ku telepon Denise untuk memastikan jika aku bisa yang menemaninya selama sisa minggu itu. Aku harus dan berharap dia mengizinkan aku melakukannya.


"Tante, aku menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat dan sekarang sudah mendarat di Incheon. Bolehkah aku mengunjungi Jade? Maksudku, akan menemaninya sampai akhir pekan. Boleh ya tante?" Dia tertawa senang.


"Earnest! Tentu saja bisa. Tante sangat senang. Kau tahu? Begitu kau meneleponnya hari Selasa lalu, dia langsung bangkit dan melakukan rutinitas hariannya. Tanpa menunggu instruksi dari tante. Tante yakin yang dia butuhkan hanyalah kamu. Tante hanya sedikit sedih, karena berharap dia akan lebih bahagia bersamaku. Tapi kok malah sama kamu. Tante tetap dicuekin seperti dulu..." Ucapnya sambil sesekali tertawa kecil. Dan itu cukup, aku mendapat persetujuan.

__ADS_1


Sudah lewat tengah malam ketika aku tiba. Aku menelepon pengasuh beberapa menit yang lalu untuk membukakan semua pintu untukku. Setelah meletakkan semua barang bawaan di atas meja sofa, aku mendekat ke tempat tidur. Dia sedang tidur nyenyak. Jade adalah gadis yang baik, dia melakukan persis seperti yang aku instruksikan. Ku luangkan waktu beberapa menit untuk membersihkan tubuhku, mandi dengan air hangat, karena dengan begitu aku akan tidur nyenyak, dan mengenakan piyama yang ku bawa di dalam koper. Dan aku berbaring di sampingnya. Dengan lembut, aku membawanya ke pelukanku dan mencium keningnya. Dia bergerak, melingkarkan tangannya ke tubuhku. Aku melihat, tapi dia masih menutup matanya. Tidak masalah, dia tahu bahwa aku di sini.


"Jade, untukmu, aku berjuang membuat jadwal 5 hari menjadi 3 hari sayang. Lihat? Aku merindukanmu. Aku sangat senang akhirnya kau menanggapi, bahkan seperti ini, sudah cukup untuk saat ini. Aku ingin tetap bersamamu setiap detik. Cepatlah kembali, Jade. Ayo kita menikah. Jadi aku bisa membawamu denganku ke manapun aku pergi..." Aku mengusap punggungnya dengan lembut. Dia memelukku lebih erat.


__ADS_2