Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
Pantas


__ADS_3

"Lalu, apa yang terjadi setelah kita menikah?"


"Kau menjadi milikku selamanya. Tidak bisa diubah lagi. Kita akan bersama selamanya, di manapun dan kapan pun. Dan… Aku ingin punya bayi kita sayang. Bagaimana menurutmu?" Ku tatap sepasang mata indah itu. Yang ada hanya binar-binar bahagia. Keraguan yang dulu pernah ada sudah tidak di sana.


"Tentu saja daddy. Ayo punya bayi yang lucu, cantik dan tampan. Selama daddy ada bersamaku, dan membantuku. Aku siap. Tapi apa daddy tidak akan kesulitan nanti? Aku ini mirip bayi loh daddy, berarti nanti jagainnya bayinya banyak…" Senyumku melebar. Tapi dia mengatakan itu tanpa ragu sedikit pun, berarti dia sedang serius. Pikir-pikir, dia memang masih bayi. Dia baru selesai dengan masa lalunya dan siap untuk hidup dalam kehidupan yang sebenarnya. Ku elus pipinya lembut. Ku pandang-pandang lagi wajahnya, di mataku, dia sama sekali bukan bayi. Dia adalah perempuan paling cantik di dunia yang sudah mampu mengobrak abrik seluruh hati dan jiwaku.


"Jangan khawatir sayang, kita punya banyak cara untuk merawat mereka. Yang pasti, aku akan selalu mendampingimu. Kau tidak akan pernah ku biarkan sendiri. Dan, itu salah sayang. Wanita cantik sama sekali bukan bayi. Kau tidak pernah merepotkanku, jika pun iya, aku akan sangat senang menyambutnya. Kau selalu pengertian. Meskipun manja, masih dalam batas sewajarnya, dan aku suka jika kau bermanja-manja padaku. Justru aku kuatir, ketika kita punya bayi nanti, kau akan asik bermain dengan mereka dan melupakan aku…"


"Tidak mungkin daddy... Kamu akan selalu menjadi nomor satu… Maksudku, daddy nomor satu, bayi kita juga nomor satu…" Dia meralat sambil tertawa. Aku menyambut tawa itu senang.


"Sebaiknya kau ingat kata-kata ini sayang, kau janji tidak akan menomorduakan aku…"


"Iya daddy, aku janji…"


"Dan lihat? Kamu orang kaya sekarang. Kamu bahkan punya rumah sebesar ini. Aku harus bekerja lebih keras untuk menandingimu…" Aku bermaksud menggoda. Dia kelihatan senang dan menertawakanku seolah hal-hal itu tidak penting. Jade memang tidak memiliki rasa keterikatan pada hal-hal seperti itu.


"Memilikimu sudah cukup daddy. Aku hanya menginginkanmu…"

__ADS_1


"Beneran?"


"Iya. Selamat bersamamu, bagi ku sudah cukup. Lagipula kan daddy punya banyak duit…" Dia tidak mau kalah, menggodaku. Aku tertawa ngakak melihat perubahan wajahnya yang serius menjadi konyol. Aku ikut tertawa.


"Bawa aku kemanapun daddy pergi. Kau tidak boleh meninggalkanku terlalu lama sendirian. Berjanjilah padaku…"


"Pasti sayang. Aku tidak Akan pernah meninggalkanmu. Akan ku Bawa Kau kemanapun Aku pergi. Haruskah aku berhenti berhenti dari aktivitasku sebagai selebriti?" Dia berpikir.


"Apakah daddy ingin berhenti?"


"Sepertinya itu akan berlangsung seumur hidup sayang. Kami sudah menyusun konsep Earnest fashion beberapa tahun ke depan akan menyediakan fashion item untuk Segala usia. Tapi mungkin aktivitasku yang akan dikurangi. Bagaimana sayang?"


"Bagaimana mungkin aku tidak makin jatuh cinta lebih dalam sayang. Kau sangat cantik, luar dan dalam…"


"Aku tahu daddy… Kau ingin merayu aku kan?" Dia tersenyum genit, menggigit bibirnya.


"Kok tahu?" Dia menyentuh dadaku dan mengelus lembut. Dia mampu membuatku terbang melayang. Kami hanyut dalam ciuman selama beberapa saat kemudian berhenti.

__ADS_1


“Segitu doang?” Aku kesal. Dia malah tertawa cekikikan.


“Nanti kalau sudah menikah, kita bisa lakukan semau kita, selama yang kita mau daddy…” Jawabnya. Aku tidak punya jawaban lagi untuk menangkal itu.


“Oke deh. I love you Jade…”


“I love you daddy…”



Dalam minggu itu juga, kami melaksanakan rencana pertama. Berangkat ke Singapura mempertemukan kedua keluarga dan pembicaraan pernikahan. Mama dan papa Kim secara resmi memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud baik mereka. Dari awal, proses ini jadinya kebalikan. Tapi tidak masalah, aku justru senang karena tujuanku akhirnya terwujud dengan cepat.


Papa dan mamaku adalah orang berada dan cukup terkenal di Singapura. Ini menjadi salah satu alasan kenapa diskusi itu berjalan cukup panjang dan alot. Papa mama ingin mengadakan pernikahan yang super megah untukku. Itu adalah impian mereka yang harus mereka wujudkan karena hanya akan terjadi sekali, karena aku adalah anak satu-satunya. Menikah di venue yang mewah, memakai baju dan gaun pengantin yang mewah, mengundang tamu-tamu penting, mengundang para pemilik kantor berita untuk meliput pernikahan putra satu-satunya mereka. Namun yang mereka terima adalah kebalikannya. Aku menjelaskan jenis pernikahan seperti apa yang ku inginkan. Dan mereka benar-benar tidak terima. Jangan dulu bicara soal pernikahan, menantu yang datang ke sana saat itu pun bukan seperti yang mereka harapkan. Seorang wanita yang memiliki karir dan pengaruh yang luar biasa, setidaknya sejajar dengan anak mereka. Terlebih lagi, mereka tidak senang dengan kedatangan pihak perempuan ke tempat pihak laki-laki.


Papa mama memang masih menganut tradisi kental secara turun temurun di keluarga besar kami. Ada adat istiadat yang harus dijaga dan dijalankan. Cara hidup modern yang menyerang dunia timur sama sekali tidak membuat mereka lupa akan tradisi itu. Seharusnya, aku datang dan menceritakan maksudku, dan calon istriku seharusnya seorang yang memiliki nama besar, kemudian papa dan mama akan memeriksa latar belakang, keadaan keluarga dan reputasi si wanita, dan kami sekeluarga yang akan berkunjung dan melamar calon istriku. Dan yang sedang terjadi adalah kebalikan dari apa yang telah mereka impi-impikan sejak lama.


Alhasil, diskusi itu tidak membuahkan hasil. Terjadi perbedaan pendapat yang sangat jauh. Tidak mungkin disatukan dalam satu kali pertemuan. Papa dan mama Kim pun pulang, membawa Jade beserta dengan mereka. Aku masih harus berjuang merubah cara pandang kedua papa mamaku tentang ini.

__ADS_1


“Daddy, kau tau kan? Kalau ini yang terbaik buatmu, tidak apa-apa. Aku akan melepasmu…” Bagaimana bisa kalimat itu meluncur dari bibirnya seolah-olah itu bukan masalah yang besar? Aku menatap nanar matanya berusaha meyakinkan diriku bahwa aku salah dengar. Bukan kamu Jade, tapi aku. Aku tidak tau lagi harus bagaimana jika tidak bersamamu sayang. Bisikku dalam hati. Air mataku hampir menetes.


“Jade… Semua akan baik-baik saja sayang. Sabar ya. Aku akan coba bicara pada papa mama soal ini. Tunggu, kami akan segera ke sana untuk melamarmu. Jangan pernah ucapkan kata-kata itu. Untuk alasan apa pun, kau tidak boleh melepaskan aku. Sama seperti aku tidak pernah melepasmu. Janji?” Dia menatapku dengan ragu. Aku melihat gelombang ketidakpercayaan-diri di mata itu. Seolah-olah dia sudah memutuskan bahwa dia memang tidak pantas untukku. Seperti yang pernah dia bilang, bahwa demi kebaikanku, dia bisa saja melepasku. Aku tidak menyangka bahwa kami akan tiba di saat-saat seperti itu. Ketika kami harus memutuskan pantas tidaknya kami untuk satu sama lain.


__ADS_2