Ranjang Bergoyang Adikku

Ranjang Bergoyang Adikku
bab 14


__ADS_3

"Kenapa kamu berubah begitu dik, kakak sudah gagal menjadi seorang kakak yang baik, bagaimana kalau ibu dan ayah tau aku tak bisa jaga kamu dengan baik" ucap Dini dalam hatinya dengan menangis.


"Kring..... Kring"


Suara telefon berbunyi. dini melihat ponselnya dan ternyata itu dari ibunya Dini. Dia sangat bingung sekali saat ibunya menelfon.


Memang naluri seorang ibu tidak bisa dibohongi, ibunya di desa merasa perasaannya tidak enak, dia merasa ada yang terjadi dengan anaknya dikota.


Dini mengangkat telefonnya dengan rasa takut.


"Ia bu ada apa ibu telefon"


"Tidak apa-apa nak, ibu cuma kangen dengan kalian berdua, nak dari suaramu kamu terdengar habis menangis, emang ada apa nak"


"Tidak ada apa-apa loh bu, ini bawaan bayi aja bu, aku dan Nita baik-baik saja bu"


"Sudahlah jangan bohong aku ini adalah ibumu, aku tidak bisa kamu bohongi nak, aku yang mengandung kamu 9 bulan jadi aku bisa merasakan jika kamu dalam keadaan sedih, kamu mau jujur sekarang atau ibu akan datang ke kota besok"


"Jangan ibu semuanya baik-baik saja, ibu kan lagi sakit jadi ibu tidak usah ke kota, biar aku saja yang ke rumah ibu bersama Nita pas liburan kerja Dion ya bu"


"Tapi katakan dulu apa yang terjadi karena sebelum kamu jujur ibu tak akan tenang"


"Ia bu, biasa bu aku ribut-ribut dikit sama Nita bu, biasa dia tak bisa aku nasihati jadi aku agak sedih"


"Kenapa adikmu nakal ya"


"Tidak apa-apa bu, cuma salah paham saja"


"Ya sudah biar ibu saja yang nasihati Nita"

__ADS_1


"Sudahlah bu biarkan saja, semua akan baik-baik saja"


Tiba-tiba ibunya menutup telefon.


Tak lama kemudian telefon Nita berbunyi.


"Kring...... kring"


"Ia bu ada apa"


"Tidak apa-apa, ibu dengar kamu tidak nurut dengan kakakmu ya?"


"Siapa yang cerita sama ibu, pasti kakak ya, dasar kakak itu bisanya ngadu saja"


"Tidak begitu nak, kakakmu tidak ngadu ke ibu tapi naluri ibu tidak enak jadi ibu menelfon kakakmu"


"Ibu tidak usah bohong gitu pasti kakak yang telefon ibu"


"Ia bu, aku sudah besar jadi aku tak suka di atur-atur begini"


"Tak boleh begitu sayang kakakmu menasihati karena dia sayang, kamu cepat minta maaf sama kakakmu, jangan buat dia bersedih, dia sudah banyak berkorban untukmu, kamu tau sendirikan dia rela tidak melanjutkan sekolah agar kamu bisa kuliah, dia rela menikah muda agar meringankan ibu banyak yang sudah ia korbankan agar kita bahagia jadi jangan buat dia menangis kasian dia nak"


"Kenapa sih ibu lebih sayang dan bela kakak, kalau kakak tidak sekolah dan nikah muda itu bukan salahku tapi salah kakak sendiri jadi itu sudah resiko dia, lagian dia sudah bahagia dengan suaminya dia hidup kecukupan disini jadi apa yang ia korbankan, aku cuma tak suka kakak atur-atur aku"


"Ibu tidak mau berdebat. lagi, kamu ke kamar kakakmu sekarang dan minta maaf"


Tiba-tiba ibu mematikan telepon itu karna marah, Nita dengan suasana hati yang kurang enak langsung menemui kakaknya.


Nita tanpa permisi langsung masuk kamar kakaknya.

__ADS_1


"Kakak!!!!! " teriak Nita dengan keras.


Nita menoleh kearah adiknya dan melihat tatapan adiknya penuh amarah.


"Ada apa dik, kenapa kamu marah-marah"


"Apa yang kakak katakan pada ibu. Sehingga ibu marah dengan aku"


"Kakak tak bilang apa-apa"


"Sudahlah kakak tak usah bohong, kakak tak usah pura-pura begitu, kalau kakak tak suka aku disini. Aku akan pergi dari rumah ini saja"


Dini menarik adiknya di atas kasur dan memegang keningnya dengan lembut.


"Sabar sayang, kakak ini sayang sama kamu dan tidak mau kita berantem begini, kamu jangan pergi ya dari sini, kalau kamu pergi dari rumah ini, aku tidak mau orang tua kita khawatir dan akan sakit, kasian mereka sudah tua"


"Aku tak akan pergi dari sini asal kakak jangan larang aku berteman atau mengatur cara berpakaianku, aku tak suka dilarang-larang"


Nita terdiam karena ia tak mau berantem dengan adiknya makanya ia mau memenuhi semua yang dikatakan adiknya.


"Baik kalau gitu, tapi kamu harus jaga diri baik-baik kakak tidak mau terjadi apa-apa denganmu, apalagi bergaul dengan laki-laki harus jaga diri baik-baik jangan per menyerahkan mahkota kita sebelum kita menikah itu pesan kakak aku harap kamu mengerti perkataanku, mulai sekarang aku tak akan melarang kamu lagi tapi apa yang kau lakukan kemarin dengan laki-laki tidak benar sampai bekas merah-merah ditubuhmu itu dosa kalian belum menikah"


"Dosa kak!!!!! biar dosa itu. aku yang tanggung, kakak tak usah ikut campur lagi"


"Baiklah jika maumu begitu kakak setuju saja, tapi jangan marah-marah lagi"


"Ia" jawab Nita dengan sinis.


Nita lalu meninggalkan kakaknya sendiri...

__ADS_1


bersambung


__ADS_2