
tangisan seorang ibu adalah luka yang sangat mendalam.
Bu Ratih jatuh tertunduk di lantai tak ada kata-kata yang bisa terucap selain.
"Aku gagal, aku telah gagal menjadi seorang ibu, lebih baik aku meninggal saja dari pada aku melihat anak-anakku saling menyakiti"
Nita meraih tangan ibunya sambil berkata.
"Ibu tidak gagal ini semua adalah sudah garis dari Tuhan bu, cinta ini suci kenapa ibu tak pernah paham atas kata-kataku ini, sekali lagi bu sayangi aku seperti ibu menyayangi kakak"
"Ya Tuhan nak!!!! kenapa kamu ini tidak sadar, kamu ini seorang pelakor nak!!!! perusak rumah tangga kakakmu sendiri, apa nunggu ibu mati baru kamu sadar atas semua kesalahanmu ini nak"
"Ibu itu bilang apa, ibu tidak gagal atau salah, mungkin cinta ini salah tapi aku hanya menuruti semua isi hatiku saja bu"
"Ibu tak ada kata-kata lagi untuk bicara padamu dan Dion, Ibu sudah mengambil keputusan yaitu ibu tidak akan membahayakan calon cucu ibu namun setelah Dini melahirkan ibu akan jujur semua atas kelakuan kalian padanya, tapi Nita kalau kamu memang sayang sama ibu jangan tinggal satu rumah sama kakakmu, jangan menyakitinya di dalam rumah yang sudah dia anggap surga"
"Maaf ibu, aku akan pergi dari rumah itu jika kakak sendiri yang meminta aku untuk pergi"
"Baik kalau begitu tapi jika terjadi apa-apa sama kakakmu dan anak yang ada di dalam kandungannya kamu orang pertama yang akan ibu cari dan ibu tak akan pernah memaafkanmu, dan detik ini, hari ini kamu bukanlah anakku lagi dan bagiku kamu adalah perempuan hina"
"Ibu kenapa ibu tega menyumpahi anak ibu sendiri" ucap Nita.
Dengan penuh derai air mata ibu Ratih meninggalkan mereka berdua dan pergi dengan penuh kekecewaan di hatinya.
Nita terpuruk di lantai dan merasa sangat sedih sekali, Dion yang tak merasa bersalah merangkul Nita dan berkata. "Jangan bersedih sayang semua akan baik-baik saja"
__ADS_1
Namun sekejap Nita merasa sedih.
Ibu yang sedih menghapus air matanya demi anak yang ia sayangi.
Ibu mendekati Dini dan menatap wajah polosnya.
"Ya Tuhan kenapa kau berikan ujian seberat ini, liatlah wajah polos anakku yang telah menjadi istri yang baik untuk suaminya namun apa yang dia dapatkan hanya kesedihan, maaf ya nak ibu tidak bisa jujur kepadamu atas pengkhianatan suamimu ini, semua ibu lakukan agar anak yang kau kandung bisa selamat nanti setelah anakmu lahir akan ku jaga dirimu dari mereka yang telah jahat padamu"
Malam itu ibu memeluk Dini dengan erat begitupun Dini membalas pelukan itu dan merasakan kehangatan ibunya.
Di tempat lain Dion dan Nita masih saja belum sadar atas kesalahan mereka berdua dan menganggap apa yang mereka lakukan adalah hal yang biasa dan wajar.
"Kukuruyuk....... kukuruyuk" Suara ayam jago yang terdengar pertanda sudah pagi.
"Ibu...... ibu bangun. Ini sudah pagi ibu" Nita membangunkan ibunya, namun ibunya masih saja terdiam tanpa kata.
"Ibu bangun kenapa ibu diam saja, ibu jangan buat aku khawatir, bangunlah ibu"
Dini menggoyang-goyang tangan ibunya namun tetap ibu tak bergerak, badan terasa dingin sekali dan Dini memeriksa nadinya ternyata ibunya sudah meninggal dunia.
"Ibu...... ibu!!! jangan tinggalkan aku ibu, aku sayang ibu" teriak Dini di pagi itu sehingga membuat semua orang terbangun dan masuk ke dalam ruangan itu, Nita berlari menemui ibunya.
"Kakak apa yang terjadi dengan ibu"
"Ibu sudah tidak ada dik"
__ADS_1
"Tidak kak, ibu pasti baik-baik saja, bangun bu maafin semua perbuatan Nita bu!!! "
Ayah mereka berdua hanya bisa terdiam di sudut ruangan sambil melihat orang yang ia sayang, belahan jiwanya meninggalkan ia selama-lamanya.
"Sayang bangun, bagaimana aku tanpamu sayang"
"Dion dengan sigap memanggil dokter dan setelah dokter datang untuk memeriksa diketahui bahwa ibunya meninggal karena serangan jantung.
"Ibu kenapa ibu tinggalkan kami secepat ini, apa ibu tak akan melihat cucu ibu lahir " teriak Dini.
Nita mencoba mendekati Dion sambil berbisik.
"Mas apakah ini karna kita mas. aku merasa sangat bersalah mas, apakah kita harus akhiri semua sekarang mas? "
"Ini semua sudah takdir jadi jangan salahkan dirimu, sekarang tenangkan kakakmu sana, nanti dia bisa curiga kalau kita berdekatan"
"Kak sabar ya mungkin ini cara terbaik Tuhan mengambil ibu kita kak, kita harus sabar dan ikhla melepas ibu kita, lihat ayah kalau kita sedih. begini bagaimana dengan ayah kak"
Dini merangkul adiknya dengan buliran air mata yang jatuh di pipinya.
"Ayah sabar ya, ayah jangan sedih begini. Nita dan kakak akan selalu ada buat ayah"
Tanpa sepatah katapun ayah merangkul ke dua anaknya. terpancar di kedua matanya rasa kehilangan dan kehancuran yang amat dan sangat mendalam.
"Kalian berdua harus saling menyayangi dan jangan pernah saling menyakiti itu pesan ibumu pada ayah"
__ADS_1
Nita terdiam. "Tuhan kenapa ini harus terjadi, kenapa kau ambil ibuku secepat ini, kenapa kau tak adil padaku Tuhan!!!! " jeritan hati Nita.
bersambung