
"Sana mas jemput ayah dan Nita pasti mereka sudah menunggu mas"
"Tapi kamu masih sedih begini mas jadi tak tega tinggalin kamu sayang, kamu belum ikhlas ya, maafin mas. Tenang sayang mas janji kok, bahwa mas akan berubah menjadi laki-laki yang lebih baik lagi dari sebelumnya, dan berkerja keras demi anak kita"
"Susah memang mas untuk percaya sama mas seperti dulu lagi tapi aku akan mencobanya"
"Ia lagian juga mas sudah banyak berkorban demi kamu dan keluargamu, coba bayangkan mas sudah cari nafkah sampai kita punya rumah ini, mobil dan tabungan. Mas kerja siang malam agar kamu berkecukupan dan kesusahan. Tidak itu juga siapa yang sudah selama ini bantu materi agar keluargamu berkecukupan dan satu lagi adikmu kuliah itu juga dari mas. kamu tau sendiri kamu hanya ibu rumah tangga. Jadi kesalahan mas ini kamu harus maafkan, jangan ada rasa kesal dihatimu ya sayang, hormati pengorbanan mas juga, kamu jangan egois"
Dini hanya bisa tertunduk dan meratapi nasibnya, ternyata orang yang selama ini dia sayang menghitung semua yang telah ia keluarkan dan tidak ikhlas.
"Jadi mas tak ikhlas ya, sudah mengeluarkan uang buat aku dan keluargaku"
"Aku ikhlas sayang, aku cuma kamu maafin mas"
"Ia aku maafkan mas, aku ikhlas. Seperti mas ikhlas telah melakukan pengorbanan demi aku dan juga keluargaku"
"Kalau begitu senyum dulu sebelum mas pergi, mas pergi juga mau jemput keluargamu"
"Mas minep atau tidak"
"Tidak langsung pulang, tapi lihat nanti ya, nanti mas kabari lagi, kamu baik-baik dengan mbok ya. jangan stres lagi, anggap kejadian ini tidak ada. Kalau terjadi apa-apa dengan anak kita, mas gak akan maafin kamu"
"Ia mas!!! Dini mengerti"
Dion melajukan mobilnya dengan sangat kencang, ia sangat benci sekali harus berpura-pura mencintai istrinya.
"Dasar istri tak tau diri. bisanya cuma jaga rumah saja!!! aku melakukan kesalahan sedikit saja marahnya begitu, seolah-olah aku salah yang begitu besar. Wajarkan aku cari kebahagiaan di luar karena Dini kucel, dekil dan tak bisa diajak ke acara kantor, harusnya dia introspeksi diri jadi seorang istri bukannya hanya salahin suami saja" ucapan Dion di dalam mobil dengan hati yang sangat kesal kepada istrinya.
Berjam-jampun berlalu akhirnya Dion tiba di rumah Nita, dia sudah disambut oleh Nita yang telah berdandan cantik sekali, rambut terurai, wajah mulus dan senyum yang sangat manis dan mempesona.
Dion turun dari mobil dan Nita langsung meraih tangan Dion ke dalam rumah.
"Sayang ayo masuk"
__ADS_1
"Kenapa pegang tanganku begini, nanti ayah lihat bagaimana coba"
"Tenang ayah ke sawah pulang masih lama"
"Apa kamu tak beritahu ayah kalau aku akan datang"
"Tidak aku sengaja, biar kita bisa melepas rindu, aku tau kamu kesal sekali"
"Bagaimana kamu bisa tahu"
"Lihatlah wajahmu yang tampan dan ceria seketika terlihat cemberut dan mendung. aku tak mau kekasihku sedih, sejenak lupakanlah kakakku, sekarang yang ada hanya aku dan kamu sayang"
"Kamu ini pintar sekali merayu sayang, kamu pintar buat aku bahagia tidak seperti kakakmu"
"Ada yang tidak aku bisa"
"Apa sayang!!! sepertinya kamu semua bisa"
"Aku tidak bisa masak heeeee"
"Haaaaa ada-ada aja kamu sayang"
Nita dengan lincah kembali memainkan jemarinya agar Dion senang dan merasa puas"
"Sayang jangan disini dong, masak kita melakukan ini di ruang tamu. bagaimana kalau ada tamu sayang, terus kalau ayahmu datang juga bagaimana"
"Bukannya kamu sangat suka dengan sensasi sayang"
"Tapi kalau begini aku takut ketahuan juga sayang"
Saat mereka akan pergi ke kamar tiba-tiba ponsel Dion berbunyi dan ternyata itu panggilan dari Dini.
"Kring....... kring"
__ADS_1
"Angkat saja itu sayangku Dion"
"Aku malas!!! dia ganggu kita saja"
"Angkat saja nanti kakak curiga lagi"
Dion mengangkat telfonnya, namun Nita masih saja memainkan jemarinya dengan sotong Dion.
"Mas sudah sampaikan" ucap Dini.
"Emmm.... emmm desah Dion keenakan sambil angkat telefon istrinya"
"Kok mas seperti berdesah"
"Tidak kamu salah dengar, mas sudah sampai sayang"
"Mas kenapa kok mendesah"
"Lagi makan dan enak sekali sayang"
"Oh begitu"
"mas tutup ya telfonnya, soalnya baru sampai"
"Ia mas, kalau pulang kesini kabari aku ya mas"
"Siap istriku"
Setelah menutup telfon Nita dan Dion melanjutkan kisah kasih mereka di ruang tamu, tanpa ada rasa bersalah sedikitpun telah menyakiti istrinya yang ada hanya kesenangan saja.
"Sayang kamu memang pintar buat aku bahagia"
"Ia pastinya sayang, sudah gunakan semua pakaianmu sayang, aku takut juga kalau ayahku datang, aku tak mau kalau ayah tau dan terjadi apa-apa"
__ADS_1
Dion segera merapikan diri dan seolah-olah tidak melakukan apa-apa.
bersambung