Ranjang Bergoyang Adikku

Ranjang Bergoyang Adikku
bab 34


__ADS_3

Aku berdiri di sebuah perusahaan yang besar sekali, ku lihat banyak sekali karyawan yang sedang menjahit pakaian, betapa takjubnya aku melihat banyak mesin jahit dan baju-baju yang ada disana, kekagumanku semakin menjadi melihat kesuksesan dari bu Sri seorang single parent yang bisa sesukses ini dan berjuang sendiri.


"Dor...... dor, jangan melamun" tegor bu Sri.


Aku menoleh ke arahnya seorang wanita paruh baya dan begitu mempesona.


"Aku tidak melamun bu, cuma aku kaget saja bagaimana cara ibu bisa sukses begini. padahal ibu sendirian"


"Ayo duduk sini, akan ku ceritakan prosesnya, semua ini tidak langsung sukses begini banyak cerita di dalamnya"


mereka berdua berbincang-bincang sebelum Dini mengambil contoh bajunya.


"Nak kamu itu seumuran dengan anakku yang sekarang tinggal di luar negeri untuk melanjutkan bisnis baju ini, dan juga ibu sangat tau bagaimana kamu selama 5 tahun ini, karna kita bersebelahan rumah, kamu hanya menghabiskan waktumu untuk mengurus rumah tangga saja tanpa mempedulikan dirimu saja, bagimu suami adalah seorang raja yang harus dilayani, ibu sudah memperhatikanmu selama ini"


"Apa bu!!! ibu perhatikan aku, padahal selama ini kita tidak pernah tegur sapa bu"


"Ia karna apabila ibu melihat dirimu, ibu jadi melihat diri ibu 20 tahun yang lalu mengabdi setia pada suami tapi akhirnya ibu disakiti dan dibuang makanya ibu mulai dari situ tak mau menggantungkan diri pada sosok laki-laki, sakit bukan Din kita sudah setia namun masih saja tak dihargai"


"Ia bu, sakitnya tak bisa lagi diungkapkan bagaimana perihnya bu"


Betul sekali nak, makanya itu aku ingin membantumu karena aku tak ingin wanita dianggap lemah oleh laki-laki, kita bisa buktikan kalau kita kuat"


"Ibu ini baik sekali dan tak pelit dengan ilmu ya bu"


"Apa Din, ibu ini wanita biasa, dulu ibu tidak langsung sukses Din, ada jatuh bangunnya juga, tapi semua itu adalah suatu proses yang harus dijalani sebagai manusia, jangan lihat susahnya tapi lihat sekarang ibu bisa membantu orang lain juga"


"Ia bu terimakasih supportnya"


"Kamu juga jangan kecapaian Din kamu lagi hamil tua begini harus hati-hati"


"Ia bu"


Bu sri mengambilkan contoh pakaian untuk Dini dan ia lanjutkan pulang karena waktu sudah. begitu sore.


Diperjalanan ia merasakan perutnya yang begitu amat sakit sekali.


"Aduh..... aduh"


"Ya Tuhan kenapa perutku sakit begini jangan kau uji lagi aku Tuhan, semoga anakku baik-baik saja"


Namun lama-kelamaan ia tak sanggup lagi menahan sakit yang ada di perutnya. Dia menelfon bu sri agar bisa membantunya.


"Ada apa Din? "


,"Aku dijalan bu dan aku merasakan perut yang sangat sakit bu, rasanya aku tak kuat lagi untuk berjalan bu"


"Kamu Dimana Din. aku akan segera kesana"


"Aku berada di jalan kenanga bu"

__ADS_1


"Kamu Duduk disana ya Din, sebentar lagi ibu sampai, atur nafas baik-baik dan yakin semua akan baik saja dan tak akan terjadi apa-apa dengan anakmu"


"Ia bu"


Bu sri bergegas menemui Dini dan sesampainya di jalan kenanga ibu Sri sangat kaget melihat darah sudah tercecer di jalan dan Dini terlihat sangat pucat tanpa ada yang membantunya.


"Din!!!! kamu tak apa-apakan"


"Ia bu, tapi bayiku bu"


"Semua akan baik-baik saja kita kerumah sakit dulu"


"baju-bajunya bu"


"Ini ibu bawa dan taruh di mobil. kamu tenang tak usah fikirkan baju itu, kalau rusak masih banyak gantinya yang penting kamu sehat"


"Ia bu terimakasih"


Bu Sri dan supirnya mengangkat Dini ke dalam mobil, lalu membawanya keruma sakit terdekat.


"Ibu anakku tak apa-apakan" tanya Dini di dalam mobil.


"Tenang saja sayang jangan khawatir anakmu pasti akan sekuat mamanya dan tak akan terjadi apa-apa pada anakmu"


"Sekarang tenangkan dirimu sebentar lagi kita akan tiba di rumah sakit"


Mereka tiba di rumah sakit dengan perasaan takut juga dari Dini.


Setelah itu para dokterpun memeriksa kandungannya dan dibawanya keruangan kandungan dan tak lama dari itu seorang suster keluar dari ruangan itu.


"Maaf bu, ayah dari bayi ini mana, karna akan di lakukan tindakan operasi sekarang juga"


Bu Sri yang panik lantas menelfon dion.


"malam Dion"


"Ia maaf ini siapa"


"Ini aku bu Sri"


"Oh bu Sri, ia bu ada apa"


"Ini Dion Dini pendarahan dan harus dioprasi malam ini juga dan kami butuh tanda tanganmu selaku suaminya"


Telefon itu di keraskan oleh Dion sehingga Nita bisa mendengarnya.


"Bagaimana ini Nita Dini pendarahan? "


"Maaf bu Sri mas Dion tak akan kesana, biar saja anaknya mati dia sudah tak peduli sama anaknya, karna sebentar lagi aku akan menikah dengannya dan akan memberikan anak padanya"

__ADS_1


"Nita dia itu kakakmu bagaimana kau tega padanya, aku mau bicara pada Dion bukan padamu"


"Bagiku kakakku sudah mati dia juga menganggap aku sudah mati, lagian siapa kamu yang ikut-ikut ceramah denganku"


"Dion jawab aku, meski kamu benci Dini tapi anak itu adalah anak kandungmu, kenapa kau tega begitu"


"Aku malas berdebat dengan kamu bu, bilang sama Dini aku gak mau ke rumah sakit bagiku dia tak penting begitupum dengan anaknya tak penting bagiku"


"Ini doa seorang wanita ya Dion, semoga keangkuhan dirimu akan meruntuhkan dirimu sendiri Dion"


"Sudahlah bu aku banyak urusan"


Dengan kasarnya Dion mematikan Hpnya.


Bu Sri langsung bergegas ke perawat.


"Suster, suaminya tak mau datang kemari biarkan saja saya yang menandatanganinya"


"Ibu siapa?"


"Saya temannya"


"Apakah ada saudaranya"


Bu Sri teringat dengan ayah Dini dan langsung menyuruh supir untuk menjemputnya ayahnya.


"Pak sobri jemput ayahnya bu Dini sekarang di kontrakan yang tidak jauh dari sini ya"


""Ia bu"


Karna tempat kontrakan tidak jauh degan rumah sakit maka tak lama ayah Dini tiba.


"Ibu, apa yang terjadi dengan anak saya?"


"Sudah jangan bersedih Dini pendarahan dan harus operasi sekarang juga bapak tanda tangan disini ya"


Ayah yang melihat biaya operasi secar 35 juta tiba-tiba terdiam dan tak melanjutkan tanda tangannya.


"Ayo pak tanda tangan jangan diam"


"Bu uang darimana saya segitu"


"Tenang saya akan membayarnya, yang penting bapak tanda tangan sekarang dan selamatkan cucu bapak, soal uang itu semua urusan saya"


"Ya Tuhan ibu bagaikan malaikat bagi kami bu, terimakasih bu atas semua bantuan ibu"


"Sudahlah pak jangan terimakasih terus kita berdoa semoga Dini dan cucu bapak bisa selamat dan tidak terjadi apa-apa pada mereka"


"Ia bu pastinya saya akan berdoa yang terbaik buat mereka"

__ADS_1


bersambung


__ADS_2