
Aku akan terus melangkah
Berjuang menggapai harapan
Tak peduli anggapan maupun cercaan
Terus bergerak tidak ada keraguan
Terpeleset jatuh
Tergores luka
Bangkit tuk melangkah
Tak pernah sudi untuk menyerah
Hidup itu sulit
Bagi mereka yang tak mau mencoba
Hidup itu menyebalkan
Bagi mereka yang lemah dan berputus asa
Tetapkan tujuan untuk sebuah pergerakan
Perbanyak pikiran untuk perluas wawasan
Jangan lemah ketika terjatuh
Bangkit lagi teruskan langkah kehidupan
Agar kelak kita sampai juga di tempat tujuan
Sebuah puisi yang mengisaratkan hatiku sekarang.
3 haripun berlalu dan aku kembali pulang bersama anakku yang ku sayang dan lebih bersyukur orderan baju yang semakin banyak.
__ADS_1
Dulu aku sudah membuang banyak waktu ku untuk membahagiakan orang lain dan yang aku dapat adalah cuma rasa sakit. Mulai sekarang aku tak akan menjadi lilin yang terbakar demi orang lain karena rasanya amat sakit.
Hari ini adalah hari sidang perceraianku dengan Dion, meski luka secarku belum kering namun aku harus berangkat ke persidangan itu karna aku tak mau dibilang wanita lemah, akan ku buktikan aku kuat dan tak lari dari kenyataan.
"Din, apa kamu kuat datang ke persidangan itu nak, kamu kan lagi sakit" ucap ayah yang khawatir dengan anak perempuannya.
"Tenang ayah anakmu tak selemah itu, ayah jangan khawatir ya, aku titip fakhri ya"
"Kalau keputusanmu begitu ayah hanya bisa doakan yang terbaik buat kamu nak, apa ayah ikut dampingi kamu nak, biar kamu tidak sendiri pasti kamu disana akan ketemu dengan adikmu juga"
"Ayah aku akan baik-baik saja, tenanglah yah!!! kalau ayah ikut bagaimana dengan anakku"
"Ia nak, sebenarnya ayah tidak ikhlas kalau kamu datang sendiri dan pasti mereka akan bicara tidak enak lagi dan juga menghinamu nak, ayah tidak ikhlas kamu dihina lagi"
"Aku ingin semua berakhir yah, aku tak mau ada hubungannya dengan mereka lagi"
"Doa ayah yang terbaik buatmu sayang"
Dini menguatkan hatinya dan dirinya sendiri untuk pergi ke pengadilan agama, mengakhiri hubungan pernikahan yang sudah di lalui selama 5 tahun ini, semua wanita menginginkan mempunyai rumah tangga yang harmonis dan menua bersama pasangan hidup kita, namun kadang harapan tak sesuai dengan kenyataan hidup kita.
"Loh mba Dini, mau kemana?" tanya salah satu tetangga dulu di mobil angkot saat akan ke pengadilan agama.
"Oh jadi benar yang diisukan para tetangga"
"Ah ibu jangan bilang begitu"
"Orang mb Dini sudah kami ingatkan tapi tidak percaya, mba itu polos banget sih, malah bawa wanita lain ke rumah tangga mba, meski itu adik kandungmu tapi jangan begitu saja percaya mba, pelapor itu bisa datang dari mana saja mba"
"Ia bu, saya sudah belajar banyak tentang pengalaman pahit ini"
"Ini juga mba jadi perempuan juga harus mandiri mba jangan menggantungkan semua pada suami coba kalau sudah begini mba bingung kan!!!! dulu kemana-mana mba naik mobil pajero dan jadi ratu sekarang mbanya jadi begini"
"Maaf bu, semuanya adalah pengaman berharga, dan saya tetap bersyukur atas apa yang saya punya sekarang, terimakasih ya bu atas perhatiannya ini, saya turun duluan ya bu, ini sudah sampai"
"Ia mba jaga diri baik-baik"
"Makasih bu"
__ADS_1
Aku langkahkan diri turun dari angkot.dan betapa kagetnya aku, aku sudah di sambut dengan 2 orang yang menjengkelkan itu.
"Wah kakak, sekarang naik angkot ya, kasihan sekali kakakku satu ini nasibnya buruk sekali makanya kak jangan sombong seolah-olah ngomong sukses nyatanya nol besar kak"
"Itu tuh sayang, sok bisa dan sombong nyatanya naik angkot" ucap Dion.
"Sudahlah aku tak mau berdebat dengan kalian berdua, ayo kita masuk ke dalam ruang sidang kita selesaikan semua urusan kita, kalau semua selesai kalian bisa menikahkan, itu yang kalian mau bukan"
"Tapi ingat ya Dini, aku tidak akan memberikan dirimu harta gono gini sedikitpun karna itu semua hasil kerja kerasku, bukan kamu"
"Kata-kata itu jangan. kau ulang-ulang aku sudah sangat jelas, tenang aku sudah punya uang berharga darimu yaitu anak kita jadi aku tak akan menuntut macam-macam lagi, jadi kalian tak usah risau"
Aku langkahkan kaki keruang persidangan tak bisa ku pungkiri aku sangat tak menduga aku bisa sampai disini.
Sidangpun dimulai dan para hakim sudah mulai menanyai kami.
"Bapak Dion apakah bapak serius dan yakin tanpa paksaan akan menceraikan istri anda Dini"
"Ia pak hakim saya sangat serius sekali dan tak ada yang memaksa saya"
"Bisa sebutkan alasan bapak kenapa menceraikan istri bapak"
"Begini pak hakim sebagai suami, saya ingin mempunyai istri yang bisa membuat saya bahagia lahir dan batin, sedangkan istri saya tidak bisa memberikan itu pada saya, contohnya pak, istri saya tidak bisa berdandan. dekil ngurus diri sendiri saja tidak bisa apalagi ngurus diri saya pak, dan saya tidak bahagia dengannya"
"bagaimana bu Dini apakah ibu setuju di ceraikan"
"Ia pak hakim sudah tak ada rasa saling sayang dan. menghargai diantara kami, jika pengabdian aku sebagai istri tidak ada harganya maka untuk apa diteruskan hubungan pernikahan seperti ini"
"untuk harta bagaimana bu Dini apakah anda ada tuntutan"
"Seperti apa yang sudah dikatakan suami saya, saya tidak bekerja jadi harta adalah milik suami saya dan saya tidak akan menuntut sedikitpun tentang harta yang ada, tapi saya hanya meminta hak asuh anak jatuh pada saya"
"Ia sesuai peraturan anak di bawah umur maka otomatis hak asuh jatuh pada ibunya jadi ibu berhak atas anak ibu"
"Setelah mendengar pernyataan dari ke dua belah pihak maka diputuskan mulai hari ini gugatan perceraian saudara Dion kami terima dan tidak ada lagi hubungan pernikahan antara saudara Dion dan Dini, hak asuh jatuh pada saudara Dini serta harta seutuhnya jatuh pada saudara Dion Tok... tok" tanda palu di ketok yang berarti mereka berdua sah bercerai mulai hari ini.
Terlihat raut lega di wajah Dini sedangkan Dion merasa lega sudah menceraikan Dini dan bahagia harta jatuh pada dia, dia tak sadar harta yang paling berharga sebenarnya seorang anak dan istri yang sayang padanya dan dia sudah kehilangan semua itu.
__ADS_1
bersambung