
"Din kamu dari dulu belum berubah ya, masih seperti dulu cantik dan baik hati sekali" ucap Rian di dalam mobil saat mengantar Dini pulang.
"Kamu Rian, ada saja"
"Andai dulu aku tidak memutuskan dirimu pasti kita sudah menikah"
"Ah. itu hanya masa lalu saja, aku malu kalau kau ungkit terus"
"Sebenarnya aku mau mencari dirimu setelah aku lulus kuliah namun aku sadar kamu milik orang lain jadi aku tak mencoba mencari dirimu, tapi Tuhan mempertemukan kita di waktu yang tepat dan saat yang tepat seperti sekarang kamu sudah sendiri"
"Ah Rian untuk membuka hati rasanya sudah amat sulit bagiku apalagi dengan laki-laki fokusku sekarang adalah anakku dan kehidupanku tak ada namanya laki-laki"
"Ia aku akan menunggunya hingga siap, biarkan aku jadi sahabatmu ya, kamu izinkan aku jadi sahabatmu kan"
"Ia tentunya aku akan membolehkan kamu jadi sahabatku"
Tak lama kemudian mereka tiba di kontrakan.
"Rian ini tempat tinggalku bersama ayahku sekarang"
"Lah ibu juga pastinya ya Din"
"Ibu sudah meninggal, ayo turun"
"Tok.... tok, ayah buka pintunya, ini Dini ayah"
"Ia sebentar sayang"
"Cekrek..... cekrek"
Ayah kaget ada laki-laki bersama Dini dan terlihat tidak asing sekali.
Rian dengan sopan mencium tangan ayah Dini.
"Ayah masih ingat tidak dengan aku" ucap Rian.
__ADS_1
"Bentar ayah ingat-ingat dulu oh kamu Rian ya. sekarang tambah ganteng sekali dan terlihat lebih sukses"
"Ayah bisa saja, ayo masuk"
Dini langsung mengambil anaknya dari gendongan ayahnya.
"Fahri rewel tidak yah"
"Tidak nak, dia anak yang pintar jadi tidak rewel"
"Ini anakmu Din?" ucap Rian.
"Ia ini anakku"
"Dia tampan sekali Din, boleh tidak aku menggendongnya"
"Emang kamu bisa? "
"Aku pintar Din, jangan remehkan aku, meski aku belum punya anak, tapi aku punya banyak ponakan jadi aku sering gendong anak kecil"
Saat Rian menggendong anaknya tiba-tiba Dini meneteskan air mata, karna fahri tidak rewel dan terlihat nyaman dipelukan Rian mungkin anaknya rindu pelukan seorang ayah.
"Din kenapa kamu menangis" ucap Rian
"Tak apa-apa Rian"
Tapi Rian tau sekali alasan Dini menangis kenapa, Rian tau sekali dibalik ketegaran Dini tersimpan hati. yang sangat terluka sekali.
"Kring..... kring" suara HP berbunyi, ternyata telefon dari Nita,.
"Ada apalagi Nit?"
"Bilang ayah besok hari pernikahanku jangan lupa ayah datang, kamu juga datang ya"
"Ia aku pastikan ayah akan datang"
__ADS_1
Setelah itu Dini mematikan HPnya.
"Siapa nak"
"Biasa Nita mengingatkan besok ayah harus datang"
"Emmm anak tak tau diri masih saja belum berubah"
"Biarkan saja yah. setelah besok dia menikah dia tidak akan mengganggu kita"
"Kamu mau datang juga tah, apa kamu tidak akan sakit hati"
"Ia aku akan datang tak, aku tak ingin terlihat lemah dihadapkan mereka, aku akan menjadi wanita yang kuat dan tangguh"
"semua terserah kamu nak"
"Lagian aku tidak ikhlas kalau ayah datang kesana sendiri aku tak mau terjadi apa-apa dengan ayah"
"kalau aku ikut nganter kalian bertiga boleh tidak, kasihan fahri kalau nanti naik angkot" ucap Rian.
"Bagaimana yah"
"Ia benar kata nak Rian kasihan fakhri, kalau nak Rian tidak sibuk dan mau mengantar kami, kami mau nak! benarkan Din"
"Ia tidak apa-apa kalau mau antar kami"
"Oke kalau gitu besok kalian aku jemput ya"
"Ia"
Rian berpamitan pulang, dan setelah Rian pulang ayah berkata pada Dini.
"Nak sepertinya Rian masih suka sama kamu, dia itu anak yang baik nak, dari dulu sampai sekarang sifatnya tak berubah, dulu dia putuskan kamu bukan karena tidak mencintaimu namun ia harus sekolah"
"Aku belum siap kalau sekarang yah, biarkan waktu yang menjawab semuanya"
__ADS_1
bersambung