
"Ayo mas kita ke kamar!! "
"Ayo aku juga sudah minum, mari kita kembali ke kamar"
Setelah masuk ke kamar Dini mulai merayu suaminya dan ingin meminta jatah malam jumat kepada suaminya.
"Sayang!!!" Dini sambil mengusap-usap tongkat suaminya karna ingin meminta haknya sebagai seorang istri.
"Ah kenapa sih kamu begini aku lagi capek tau, apa kamu tak ngeri!!! " dengan nada sangat keras Dion berkata pada istrinya.
Dini menarik tangannya dari suaminya dia merasa sangat malu dan sedih sekali.
"Biasanya kamu sangat suka sekali mas kalau aku melakukan itu"
"Apa kamu tuli ya, aku sangat capek, harusnya kamu sebagai istri paham atas hal ini, lagian kamu bisa lihatkan tongkatku tidak merespon, masak begini kamu tidak paham Itu tandanya suamimu tidak minat karna lelah. aku lelah bekerja selama ini untuk kamu, namun apa yang ku dapatkan darimu Aku hanya ingin punya anak tapi kamu tak bisa mewujudkannya, aku malu dengan teman-temanku, tau tidak hatiku tertekan sekali ingin punya anak. Percuma aku kumpulkan harta tapi tidak punya anak. Terus apa gunanya aku punya istri tapi tak bisa buat aku bahagia sebagai lelaki"
Dini tertunduk dan meneteskan bulir-bulir air mata yang jatuh di pipinya. Dirinya hancur dunia serasa runtuh seketika. Suami yang menguatkan ia selama ini malah menghinanya sehancur-hancurnya.
"Maafkan aku mas belum bisa jadi istri yang terbaik buat mas, aku belum bisa jadi istri yang bisa mas banggakan pada teman-teman mas, aku sadar sekali itu mas aku belum bisa jadi istri yang baik. Tapi aku akan mencoba buat mas bahagia tapi mas jangan hina aku begitu mas, hatiku hancur mas"
Dini menangis keras.
Seketika Dion merasa bersalah pada istrinya.
"Maaf ya sayang, aku capek saja jadi aku tak bisa menahan emosiku. Kamu jangan nangka ya sayang, ayo kita tidur lagi"
Sambil mengusap-usap rambut istrinya ia mencoba menenangkan istrinya yang sedang sedih.
Dini memang sangat lugu sekali sehingga ia percaya saja dengan perkataan istrinya.
Merekapun melanjutkan tidurnya. Sambil Dion memeluk istrinya sebagai cara menebus kesalahannya. Karna memang ia sangat lelah sekali dia tertidur sangat pulas sekali.
Dini menatap wajah suaminya yang sangat kelelahan. ia kira suaminya benar-benar kelelahan dan dia merasa kasihan kepada suaminya, dan tak lama Dini pun ikut tertidur dengan suaminya.
__ADS_1
Pagipun tiba, seperti biasa Dini menyiapkan makanan untuk suaminya tiba-tiba ia merasa sangat mual sekali dan diapun muntah-muntah.
"Ada apa sayang" ucap Dion.
"Tak tau mas tiba-tiba aku sangat mual sekali"
"Jangan-jangan kamu hamil sayang"
Nita yang mendengarnya sangat tidak suka sekali karna dia takut apabila kakaknya hamil dia akan ditinggalkan Dion, dalam hati Nita berkata.
"Kurang ajar, kalau sampai kakak hamil maka habislah aku ini, mas Dion tak akan lagi sayang padaku. kakak tak akan pernah hamil, aku tak akan membiarkan kakak hamil"
"Nit kamu berangkat naik go car aja ya, hari ini aku akan mengambil izin karna aku akan membawa kakakmu ke dr kandungan"
Terlihat Dion sangat antusias sekali untuk memeriksakan istrinya ke dokter.
"Okelah mas Dion, Nita bisa berangkat sendiri" meski di hati Nita sangat jengkel dengan situasi ini namun ia harus berpura-pura ikut bahagia.
"Mudah-mudahan ya dik, kakak kali ini hamil, memang kakak sudah telad halangan 1 minggu, semoga ada berita baik nantinya"
Dion segera izin ke kantor, sedangkan Nita berangkat kerja dengan hati kesal. Berbanding terbalik dengan Dion yang begitu bahagia.
Merekapun berdua berangkat ke Dr. kandungan. Setibanya disana Dini di periksa, Dion begitu tak tenang menanti hasil pemeriksaan dokter dan setelah dr melakukan USG, ternyata benar Dini sedang hamil 4 minggu.
Dion terlihat bahagia sekali mendengar istrinya sudah hamil.
"Terimakasih banyak sayang kamu telah memberikan hadiah terindah buat mas"
Dion langsung mencium kening istrinya dan Dini meneteskan air matanya karna bahagia.
"Mas kita jaga bersama anak kita ya?"
"Ia pastinya itu"
__ADS_1
Dokter berpesan kepada mereka berdua.
"Bapak dan ibu diusia kandungan 4 minggu ini sangat rentang sekali terjadi keguguran maka dari itu ibu tidak boleh stres dan jaga pola makan"
"Ia dok saya akan menjaga istri saya dengan baik"
Merekapun pulang dengan hati yang sangat bahagia, di kantor Nita sangat penasaran sekali apakah kakaknya hamil atau tidak.
"Kring...... kring... kring" bunyi ponsel Dini, ternyata Nita menelfonnya.
"Hallo kakak"
"Ia adikku sayang, ada apa? "
"Siapa yang telefon sayang" ucap Dion.
"Adikku sayang"
"Bagaimana kak, kok kakak diam aja"
"Oh ini kakak lagi ngobrol sama mas Dion, alhamdulillah sayang aku hamil. akhirnya setelah 5 tahun apa yang kakak harapkan dan impikan terwujud"
"Ia kakak alhamdulillah, aku ikut suka dan bahagia kalau gitu"
Nitapun menutup telefonnya.
"Sayang bagaimana kalau adikmu kita kontrakan saja biar dia juga bisa mandiri"
"Aduh mas, janganlah aku gak bisa tenang kalau dia sendiri. lagian aku sekarang hamil mas. dia bisa bantuin aku di rumah"
"Ya sudahlah terserah kamu kalau begitu"
bersambung
__ADS_1