
"Ayah aku takut sekali"
"Jangan takut ya nak, ada ayah disini"
"Kalau terjadi apa-apa dengan anakku bagaimana yah"
"Yakinlah nak, anakmu pasti akan sekuat dirimu"
Suster mulai masuk keruangan dan akan membawa Dini ke ruang operasi.
"Saya akan dibawa kemana ini suster"
"Keruang operasi bu"
"Ayah aku akan masuk keruang operasi ayah doakan ya semuanya lancar dan tidak terjadi apa-apa dengan aku dan anakku"
"Ia sayang ayah akan berdoa yang terbaik untukmu"
"Ayah juga jangan terlalu stres ya, aku gak mau ayah kefikiran dan terus sakit"
"Tenang sayang ada bu Sri disini yang akan jaga ayah"
"Ia Din, kamu fokus dengan dirimu, soal ayahmu akan ibu jaga dengan baik"
"Terimakasih banyak bu"
"Sama-sama"
Seketika duniaku rasanya pudar, hatiku hancur serasa aku tak berdaya atas diriku sendiri, saat masuk diruang oprasi fikiranku sangat kacau sekali, banyak sekali alat-alat operasi disekelilingku, yang membuatku semakin takut.
"Tuhan izinkan aku bahagia, jangan kau ambil anakku. jika aku kehilangan anakku bagaimana aku bisa melanjutkan hidup ini, dia adalah salah satu alasan aku hidup sekarang"
Dokter membawa sebuah jarum suntik dan mulai menyuntikkan ditubuhku, rasanya badanku sudah tidak berasa apa-apa, aku berbaring di meja operasi dengan ditemani oleh para suster dan dokter, harusnya saat wanita melahirkan inginnya ditemani oleh suaminya namun aku harus berjuang sendiri tanpa suami yang ada disampingku.
"Ibu berdoa ya didalam hati, tidak boleh stres, operasi akan kita mulai sekarang" ucap dokter kepadaku.
"Ia dok, lakukan yang terbaik buat bayiku. aku tidak mau terjadi apa-apa dengan bayiku ini"
__ADS_1
"Ia bu, kami semua akan melakukan yang terbaik buat ibu"
Hatiku gelisah tak karuan, betapa sakitnya hati ini hanya aku yang tau.
Selang 10 menit terdengar suara bayi yang membuat hidupku serasa berwarna dan ketakutanku seketika hilang.
"Owekkkkk..... oweeeekkk, tangis seorang bayi yang keluar dalam rahimku"
Hati yang gelisah sekejap berubah menjadi bahagia, ku lihat seorang bayi laki-laki yang tampan, putih bersih berhidung mancung mendekat.
"Ibu tak usah khawatir ini anak ibu sehat dan tidak kurang satu apapun"
Aku menciumnya dengan perasaan penuh kasih sayang.
"Kami bersihkan dulu ya bu, dan nanti bisa diazanin oleh ayahnya"
Sementara bagiku dibersihkan para dokter mulai membersihkan luka secar ku dan mulai menjahitnya. namun dibenakku sebenarnya kacau untuk pertama kali anakku keluar dari dunia ini namun sudah tak punya ayah.
Aku masih berharap ada sisi baik Dion dan akan mengazanin anaknya bagaimanapun dia adalah anak kandungnya.
Ditempat lain ayah Dini masih juga berharap cucunya bisa diazanin ayah kandungnya apalagi Dion masih berstatus suami Dini.
"Bu Sri kalau saya hubungi Dion bagaimana ya, dia harus bertemu anaknya"
"Bu Sri juga bingung kalau ia berterus terang tentang Dion pasti bapak akan sakit hati, jadi ia membiarkan ayah Dini melangkahkan menelfon Dion.
"Halo nak"
"Ia ada apa lagi pak"
"Anakmu sudah lahir laki-laki yang sangat tampan sekali, ayah harap temui anakmu itu dia butuh kamu Dion"
Tanpa membalas perkataan ayah mertua Dion mematikan ponselnya.
"Telefon dari siapa sayang" ucap Nita.
"Dari ayahmu, katanya Dini sudah melahirkan anak laki-laki mas disuruh kesan, menurutmu bagaimana"
__ADS_1
"Sudah datang saja mas sekalian mas ceraikan Kakakku, sekarangkan kakak sudah melahirkannya jadi bisa mas ceraikan dan kita bisa menikah, aku janji akan beri mas anak yang tampan dan cantik, aku juga tidak mau hubungan kita begini terus mas, aku mau jadi istrimu yang sah dan satu-satunya"
"Emmuach ia sayang itu ide yang bagus, ayo kita ke rumah sakit sekarang"
Dini keluar dari ruang oprasi dan saat anaknya akan. ia peluk terlihat sesosok laki-laki yang baginya tak asing sekali benar saja itu adalah Dion bersama Nita, ayah begitu lega Dion mau menemui anaknya, dan Dini juga lega akhirnya anaknya bisa diazanin oleh ayahnya sendiri, namun di hati bu Sri muncul ketakutan jangan-jangan Dion datang hanya untuk menyakiti Dini bukan datang untuk anaknya.
"Mas akhirnya kamu datang juga mas, itu anakmu mas silahkan kamu azanin mas"
Bagaimanapum Dini adalah seorang ibu yang tak ingin anaknya kehilangan sosok dari ayahnya meski nantinya dia akan berpisah tapi bagaimanapun Dion adalah ayah dari anaknya.
"Aku kemari bukan untuk menemui anakmu!!!! melainkan aku kesini untuk menalakmu dengarkan ya, aku Dion pramono mulai hari ini telah menceraikanmu Dini, jadi kita tidak punya hubungan lagi, untuk surat cerai akan diurus oleh pengacaraku jadi kamu tenang dan tinggal tanda tangan nantinya"
Dini hanya bisa meneteskan airmata.
"Aku kira dilubuk hatimu yang paling dalam masih ada sisi manusiawi meski sedikit, namun ternyata aku salah kamu lebih hina dari hewan, seorang hewan saja akan sayang pada anak kandungnya tapi kamu!!!!! "
"Sudahlah kak, kamu sekarang bukan siapa-siapa mas Dion jadi jangan pernah ayah atau kakak sendiri telefon mas Dion untuk menemui kakak apalagi hanya alasan anak"
"Dengar baik-baik kamu Nita dan Dion aku tak akan lagi hubungani kalian, apalagi kamu Dion, kamu tidak pernah menganggap darah dagingmu sendiri ada jadi mulai sekarang anggap saja anakmu memang sudah tidak ada, dia tidak butuh ayah sepertimu, aku akan menjadi ayah dan ibu yang baik bagi dia camkan itu"
"Aku juga tak perduli dengan anak itu, jadi uruslah, aku akan punya anak dengan Nita yang pastinya anakku kelak akan lebih tampan dan cantik karena Nita cantik tak seperti kamu dekil dan tak berguna"
"Sudah enyahlah dari hadapanku sekarang aku tak mau melihat kamu lagi"
"Nita ayah kira kamu masih punya hati nurani, tapi ayah salah, andai ibumu masih hidup dia pasti menyesal telah melahirkan dirimu ke dunia ini, jadi enyahlah dari hadapan ayah sekarang, ingat ini ya sampai matipun ayah tak akan pernah maafkan kamu dan hidupmu tak akan bahagia selamanya"
"Terserah ayah mau bilang apa sama aku, aku sudah tak peduli lagi"
"Ayo sayang kita pergi dari sini. kita sudah tak ada urusan lagi disini"
"Ia sayang"
Akhirnya mereka berdua pergi dari rumah sakit itu, Dini menggendong anaknya.
"Nak tenang ada ibu sekarang yang akan buat kamu bahagia selamanya, dan ibu juga akan menjadi ayah sekaligus ibumu, aku yakin kamu nanti akan menjadi laki-laki yang sukses, aku beri kamu nama fahri kurniawan"
bersambung
__ADS_1