
"Duh mas kenapa mas pintar sekali" ucap Nita.
"Ya pasti dong Dion" Sambil seolah-olah sombong bisa memuaskan Nita.
"Kalau begini aku tambah cinta sama mas"
"Emmmm kamu memang lucu" Sambil Dion memegang pipi Nita.
Nita hanya bisa tersenyum manja menatap wajah laki-laki gagah yang ada di depannya.
"Sayang ayo kita kembali ke kakak, pasti dia menunggu kita"
"Aku malas sebenarnya kesana. liat mukanya saja rasanya aku muak, kalau tidak karna bayi yang ada diperutnya akan aku talak dia, dan aku akan bersamamu selamanya, kamu pintar cantik dan mempesona sehingga aku tidak malu menggandeng tanganmu jika aku ajak keluar rumah, berbanding terbalik dengan kakakmu yang buat malu bila diajak keluar, dia cupu dan gak modis cocoknya di rumah aja karna dia pintarnya masak dan mengurus rumah"
"Emmm kamu mas bisa aja memuji aku"
"Ia dong"
Mereka berberes-beres dan bergegas pergi ke rumah sakit.
Sedangkan di rumah sakit, Dini merasa sedih sekali suaminya tidak perhatian dengannya dan sikap suaminya sekarang berubah tak seperti dulu lagi.
"Nak ada apa, kamu menelfon ibu, apakah kamu sakit atau kamu kenapa? "
"Aku dirumah sakit bu, tadi aku kontraksi jadi dilarikan kerumah sakit"
"Ya Tuhan kamu tidak apa-apakan"
"Tidak bu, hanya tidak boleh kecapaian saja"
"Kasihkan telefon ini pada suamimu, ibu mau bicara"
"Dia lagi pulang bu"
"Terus adikmu apa tidak menemani kamu di rumah sakit"
__ADS_1
"Dia juga pergi sama mas Dion mau ambil baju katanya"
"Jadi kamu sendirian nak"
"Ini ada suster kok bu"
"Kok tega sekali suamimu ini istrinya lagi kesakitan malah pergi, ibu heran sama sikap suamimu nak"
"Sudahlah bu, tidak apa-apa sebentar lagi juga mereka datang, ibu jangan bilang macam-macam nanti mas Dion marah, aku tidak mau mas Dion marah sama aku, yang penting aku tidak apa-apa"
"Ia ibu nanti mau bilang ke suamimu bahwa acara tiga bulan kalian harus pulang ke desa, ibu mau buat acara dirumah, kalau kalian tidak kesini ibu yang akan ke sana"
"Ia bu"
"Kamu baik-baik disana ya, kalau ada apa-apa kamu kabari ibu"
"Ia bu, tak usah khawatir lagi ya aku tidak apa-apa"
"Ia nak, ibu berdoa semoga kamu sehat-sehat selalu dan rumah tanggamu selalu langgeng selamanya"
Tak lama kemudian Dion datang bersama adiknya, mereka terlihat senyum-senyum bahagia, Dini sedikit agak curiga sebenarnya ada hubungan apa mereka berdua ini.
"Duh Dini jangan curiga gini nanti kamu stres lagian tak mungkin adikmu selingkuh dengan suamimu, dia adalah adik kandungmu sendiri" ucap Dini dalam hatinya.
Dini mencoba untuk menutupi semua perasaan curiganya.
"Sayang gimana keadaanmu sekarang?"
"Sudah mending sayang sakitnya sudah mulai hilang"
"Syukur kalau gitu, jangan bandel lagi besok kita cari pembantu di rumah jadi tugasmu menjadi lebih ringan"
"Ia mas terimakasih sekali"
Saat Dion mendekatinya tercium bau harum yang tak asing baginya, dan bau wangi itu bukan dari pewangi yang biasa di pakai suaminya dan yang paling buat curiga lagi ada bekas merah di leher suaminya.
__ADS_1
"Sayang kamu kok wanginya tak seperti biasanya"
"Oh aku baru beli ini jadi ya kamu baru menciumnya"
"Kok sepertinya wanginya seperti punya Nita"
"Ia pasti sama seperti punyaku kan, orang tadi aku yang pilihin, udah tak usah curiga nanti sakit lagi"
"Ia kamu tuh, belum kapok ya sakit seperti kemarin"
"Bagaimana aku tidak curiga mas, tuh lihat di leher mas banyak bekas merah, sebenarnya apa sih yang terjadi" dengan nada tinggi Dini bertanya pada suaminya.
"Aku sudah bilang kurangi curigamu itu, kamu pingin tau apa yang sebenarnya terjadi"
"Ia aku ingin tau"
"Aku pulang tadi sakit terus muntah-muntah makanya Nita ngerikin aku no leher-leher juga, aku pusing tau!!!!! sudah stres dengan kerjaan yang numpuk ditambah istri yang super curiga sama suaminya, sekarang mau percaya. atau tidak juga terserah aku sudah pusing menghadapi kamu"
Dion bergegas meninggalkan kamar rumah sakit, sekali lagi Dini yang polos percaya apa yang dikatakan oleh suaminya itu dan terlihar bulir-bulir air mata yang menetes di. pipinya.
"Kakak jangan nangis gitu, nanti dedeknya kenapa-kenapa loh"
"Kakak ini aneh ya dik, sama adik dan suami sendiri kakak tidak percaya kami sudah menikah 5 tahun lebih harusnya tak ada kata tidak percaya lagi tapi kenapa kakak begini ini yang kakak sesali sudah buat mas Dion marah"
"Sudahlah nanti juga reda marahnya mas Dion yang penting kakak jangan menangis"
"Sekali lagi kakak minta maaf sama kamu ya"
"Sudah lupakan saja yang terpenting kakak sekarang sehat dan tidak sakit lag"
"Ia dik kamu memang adik terbaik kakak, maafkan kakak yang sering salah faham"
"Ia kak"
bersambung
__ADS_1