
Ayah melangkahkan kakinya ke arah kamar Nita dengan perasaan yang sangat sedih melihat anaknya sendiri tega menyakiti kakaknya sendiri.
"Prak..... prak" ayah langsung saja menampar Nita.
"Ayah sakit, kenapa ayah tampar aku!!! apa salah aku yah"
"Apa kamu bilang tamparan ayah sakit, apa kau tak sadar apa yang telah kau lakukan pada kakakmu itu jauh lebih sakit, entahlah apa yang kau fikir, kok bisa kamu tega sakiti kakakmu, dia sudah banyak berkorban"
"Sudahlah yang. jangan bahas itu aku sudah muak jika ayah bahas semua itu"
"Dasar anak durhaka, ayah tak sudi ikut dengan kamu"
"Terus ayah maunya bagaimana terserah ayah, kalau ayak ikut kakak apa yang ayah bisa harapkan sama kakak, kakak tidak kerja dan tidak punya apa-apa. tapi kalau ayah ikut aku dan mas Dion ayah akan hidup berkecukupan"
"Ayah tak sudi ikut dengan kamu, ayah mending kelaparan dari pada tinggal dengan kamu anak durhaka, mulai sekarang anggap ayah sudah mati kamu ngerti"
"Tega sekali ayah bilang begitu padaku, hanya untuk membela kakak saja, aku ini anakmu juga yah"
"Anak seperti apa kamu itu! !!! yang tega sakiti kakaknya sendiri, aku tak punya anak seperti kamu itu"
__ADS_1
"Sudahlah sayangku Nita, kalau ayahmu tau mau ikut kita biarkan saja, biar ayahmu pergi, nanti juga kalau mereka butuh bantuan, mereka pasti hubungi kita" ucap Dion.
"Dengar ya Dion, meski aku mati kelaparan, aku tak akan pernah minta bantuan kalian berdua, aku menyesal telah memberikan putri tersayangku padamu 5 tahun lalu, putri yang telah ku besarkan dengan kasih sayang namun sekarang teganya kau sakiti dia, aku doakan kalian berdua tak akan pernah bahagia seumur hidup kalian"
"Terserah bapak bilang apa sama aku, aku punya segalanya pastinya aku akan bahagia"
"Harta itu tidak akan di bawa mati Dion, camkan itu, kamu boleh sombong sekarang namun nanti kamu akan menyesal atas apa yang telah kau perbuat pada anakku, dan hati seorang ayah yang telah kau lukai ini tak akan pernah memaafkanmu seumur hidupku, ingat itu Dion"
"Sudahlah bapak jangan banyak bicara!!!! pergi dari rumahku ini, aku juga sudah muak dengan kalian berdua, jangan hina kami terus seolah kami yang salah, sana tanya anak bapak yang sebagai istri, sudah apa belum dia membuat suami bahagia, buat suami bangga punya dia, yang ada saya malu punya istri yang dekil dan tak bisa dandan"
"Emang susah bicara dengan orang yang tak punya hati sepertimu ini"
"Bawa apa kamu Dini" ucap Dion.
"Aku hanya membawa baju saja dan tak ada yang lain"
"Aku harus periksa tasmu itu!!!! jangan-jangan kau membawa yang lain, mana buku tabungan dan atm, itu semua uangku kamu tak berhak atas semua itu"
Dini mengeluarkan atm dan buku tabungannya itu dan di lemparkan ke wajah Dion.
__ADS_1
"Itu semua bukan. hak ku lagi, ambil itu semua aku juga tidak sudi menerimanya"
"Jangan sombong kamu Dini, sekarang lepas semua perhiasan yang telah kau pakai itu!!"
"Tanpa ragu-ragu Dini juga melepaskan semua perhiasan dan ia berikan ke adiknya Nita"
"Ini ku serahkan semua untukmu, kamu sudah merampas semua dariku, aku yakin di hatimu sebenarnya kamu juga tak bahagia, kamu hati-hati Dion bisa memperlakukan ku begini, wanita yang sudah mengabdi padanya, bukan tidak mungkin dia juga bisa membuangmu nantinya"
"Itu tidak mungkin kak, semua ini terjadi karena kakak tidak bisa jaga suami"
"Aku kira masih ada sisi kemanusiaan darimu ternyata semua itu sudah mati, jaga dirimu baik-baik"
"Jangan banyak bicara!!!! enyahlah kau dari kehidupanku sekarang!!" ucap Dion dengan nada keras.
Dini keluar dari rumah itu dengan ayahnya dengan meneteskan airmata, namun ia berjanji di dalam hatinya itu adalah tetesan air mata yang terakhir bagi orang yang telah menyakitinya, yang ada di depan dia adalah tangis bahagia bersama ayah dan anaknya.
Dini melangkahkan kaki ke luar pintu rumahnya, dia teringat waktu pertama kali dia masuk ke rumah itu dengan senyuman bahagia tapi kini dia harus terbuang dari rumah itu"
bersambung
__ADS_1