Ranjang Bergoyang Adikku

Ranjang Bergoyang Adikku
bab 36


__ADS_3

Ku pandang wajah anakku yang tanpa dosa serta polos itu, sekecil itu harus merasakan keegoisan seorang ayah kandungnya.


"Kenapa melamun nak" ucap ayah.


"Aku masih belum percaya yah. dia setega itu"


"Namun ini kenyataan nak, ayah tau kamu sebenarnya masih sayang sama suamimu tapi kamu mulai sekarang harus sadar bahwa dia bukan milikmu lagi, sekarang ada fakhri yang menjadi warna dalam setiap hidupmu, besarkan saja dia dengan baik"


"Ia yah"


"Dini sayang ibu pulang dulu ya, ini contoh bajunya ibu bawa pulang atau bagaimana"


"Sebelumnya tak ada kata-kata selain kata terimakasih aku ucapkan ke ibu atas bantuan ibu selama ini, terus bu soal biaya secar aku akan mencoba mengangsurnya. bajunya tinggalkan saja disini, nanti aku hubungi Mira aku gak mau pelanggan pertamaku kecewa bu"


"Ia tak usah kau fikirkan tentang uang yang penting kamu sehat, bayimu sehat juga, kalau sudah ada saja baru kau bayar"


"Ia bu Terimakasih"


"Din!!! luka operasimu masih basah nak, apa tidak kamu tidak jualan dulu nak, kamu harus banyak istirahat nak" ucap seorang ayah yang khawatir dengan kesehatan anaknya.


"Ayah bagaimana aku bisa istirahat, luka ini belum seberapa sakit dibanding luka di hatiku yah, sakit ini belum seberapa dengan sakit jika kita dihina karena kita tidak punya uang yah, sakit yah kalau kita dihina terus dengan orang yang sama"


"Tapi kamu butuh istirahat, ayah masih punya rumah dan sawah didesa, bagaimana kalau ayah jual ya buat kita hidup disini"


"Jangan yah, itu hasil kerja keras ayah biar buat ayah aku gak mau kalau itu dijual, yakinkan dengan anakmu ini yah bahwa aku bisa"


"Ia ayah yakin tapi ayah tak tega"


"Sudahlah yah, aku baik-baik saja ayah"


"Aku yakin dengan kasih sayang seorang. ayah, namun seorang anak tak akan membuat ayahnya mengorbankan harta bendanya hanya untuk anaknya, karena aku yakin aku bisa"


Tak terasa ayampun berkokok "kukuruyuk..... kukuruyuk" bertanda menunjukkan pagi hari.

__ADS_1


Dini melihat ke arah jendela kamarnya dan mulai menghirup udara di pagi hari sambil menggendong anak kesayangan.


"Wahai pagi, begitu indah kau di pagi ini, banyak warna dan harapan yang aku gantungkan pada hari ini, indahmu semoga menyertaiku bersama semua harapanku"


Dini menatap wajah ayahnya yang lelah tidur di sofa.


"Ayah aku akan mewarnai kehidupanmu dengan kebahagiaan dan tak akan ku biarkan kau menangis lagi"


"Kring...... kring" telefon dari Mira.


"Dini hari jadikan kita ketemu"


"Aku tidak bisa menemuimu Mira, aku melahirkan tadi malam, bagaimana jika kamu menemui aku dirumah sakit pelita"


"Wah selamat ya, aku ke rumah sakit saja, sekalian mau menemui keponakan baru"


"Makasih mau kesini ya, aku tunggu, aku sudah siapkan model bajunya"


Mira menutup telefonnya dan Dini sangat antusias menunggu Mira datang.


"Dini sayang" teriak Mira.


"Ya Tuhan Mira aku jadi pangling kamu cantik sekali sekarang"


Mira terlihat cantik, bersinar dan menawan gaya pakaiannya pun modis sekali serta sangat wangi, padahal dulu dia termasuk wanita yang tidak begitu cantik.


"Ah bisa saja, kenalkan ini anakku Ira dan ini suamiku yang sangat tampan Anton"


"Ah kamu bisa aja istriku, aku jadi malu dengan temanmu"


"Ia kan Dini suamiku tampan, bagaimana aku tidak cantik coba, orang suamiku sangat peduli dengan ku dan sayang sekali sampai-sampai suruh aku ke salon terus dan gak bolehin aku capai"


"Sudahlah mah, aku malu"

__ADS_1


Dalam hati Dini berkata " Benar kata orang wanita akan terlihat cantik bila bersama orang yang tepat dan sayang padanya"


"Emmmmm ia yang dikatakan Mira benar kok"


"Mana ponakanku"


Dini memberikan fahri pada Mira.


"Ya Tuhan tampan sekali pasti mirip kamu dan Dion"


"Dia anakku Mira jangan sebut Dion lagi"


"Loh emang kenapa"


"Kami lagi proses cerai karna dia milih adikku, siapalah aku wanita yang tidak cantik dan tidak bisa urus diri sendiri"


"Sudah ah jangan bilang begitu, kamu cantik sayang, jangan diingat lagi kalau begitu orang yang tak tau diri itu lupakalah, kamu pasti akan dapat laki-laki yang jauh lebih baik dari Dion, laki-laki yang mau menghargai perempuan, dia akan menyesal nantinya membuang mutiara dan mengambil buah busuk"


"Ah kamu ini bisa aja bilang begitu"


"Habis aku jengkel sekali kalau ada. laki-laki yang begitu"


"Ia aku saja sebagai laki-laki malu apabila ada wanita yang diselingkuhi" ucap Anton suami Mira.


"Sudahlah jangan bahas Dion lagi bagaimana ini contoh baju-bajunya, kira-kira kamu setuju atau tidak"


"Setelah aku melihat contoh bajunya aku suka sekali sayang, aku ambil 100 pices baju per modelnya, kamu total saja berapa jumlah uangnya ya"


Dini begitu sangat bahagia sekali.


"Mira aku berterima kasih ya atas orderannya"


"Ini adalah rezeki anakmu, aku hanya sebagai perantara saja, semoga usaha kita maju ya"

__ADS_1


"Amin semoga ini awal yang baik untuk kita"


bersambung


__ADS_2