
Sudah 2 hari berlalu Rafka masih dirawat dirumah sakit dan kemarin adalah hari terakhir Icha cuti dan sekarang adalah hari dia kembaki bersekolah.
Sejak Rafka masih dirawat dan belum membuka matanya sama sekali / koma terlihat sekali perubahan Icha, dia terlihat tidak bersemangat melakukan kegiatan yang sehari hari ia lakukan.
"Gue kangen lo bang, Bella butuh Bang Raf Bella kangen bang Raf" lirihnya sambil menunduk. Dia kini berada di rooftop, istirahat pertama dia tidak ikut sahabat barunya ke kantin dan Icha lebih memilih untuk ke rooftop dengan alasan ingin cari angin.
Tak sadar saja jika disana juga ada anggota the perfect di dalam ruangan, Icha kini sedang diluar menikmati hembusan angin pagi menjelang siang sambil sesekali mencurahkan isi hatinya pada angin.
"Gue kangen sama lo bang hiks" tak kuasa menahan air matanya kini dia mengeluarkan air matanya, terlihat sepi jadi tidak apa apa pikirnya. Namun salah besar kegiatannya sudah dilihat oleh the perfect dari dalam itu, dan mereka terlihat tak tega.
"Cha itu musuh lo samperin gih kasihan" usul Ali sesekali menggoda Rasya.
"Dih gue?" Menunjuk dirinya sendiri seolah tak mau dan ingin menolak.
"Yaiya siapa lagi kalo bukan lo? Lo kan yang kenal dulu samanya? Masa gue? Sorry ada hati yang harus gue jaga bro" cerocos Ali, Rasya memutar bola matanya malas.
"Harus gitu?" Tanya Rasya memastikan.
"Mungkin" kata Arel mengangkat bahunya.
"Den? Menurut lo?" Tanya Rasya pda Raden.
"Ada baiknya lo samperin siapa tau dia butuh banget sandaran keliatan dari wajahnya dia lagi dapet masalah" saran Raden membuat Rasya semakin kesal, kenapa harus dia padhal sahabatnya itu juga bisa? Pikir Rasya.
Dengan terpaksa Rasya keluar dan menghampiri Icha yang masih setia dengan tangisannya.
"Nih" ucap Rasya sambil memberi sapu tangan dan dengan cepat diterima sang penerima kemudian dia manyamakan duduk dilantai.
"Lo kenapa nangis?" Tanya Rasya. Icha menoleh dan kaget.
"Bang Raf?" Rasya mengkerutkan keningnya tak paham, apa maksud gadis ini?
"Bang lo udah sembuh?" Tanya Icha lagi sambil menyeka air matanya.
"Bang?" Beo Rasya. Tak ada angin tak ada hujan tiba tiba Icha memeluk Rasya.
"Gue kangen sama lo bang, terus kenapa lo bisa sekolah bukannya lo masih sakit?" Tanya Icha masih setia memeluk Rasya.
"Gue bukan abang yang lo maksud Cha" kata Rasya.
"Hah?" Melepaskan pelukannya, Icha menatap Rasya dengan intens.
"Dih tembok rupanya, ngapain lo disini?" Tanya Icha kembali ketus.
__ADS_1
"Ya lo ngapain disini?" Tanya Rasya balik.
"G-gue hiks hiks" kembali menangis membuat Rasya bingung sendiri. Dia mengkode temannya yang didalam segera pergi meninggalkan rooftop, karena Rasya mengerti jika gadis didepannya ini sekarang butuh sendiri, paham kode dari Rasya mereka semua turun melewati tangga belakang saja agar tidak ketahuan.
"Lo kenapa nangis hmm?" Tanya Rasya memperlihatkan sisi lembutnya.
"Gue boleh peluk lo?" Tanya Icha, belum dijawab Icha sudah menabrak tubuh Rasya dengan pelan Rasya mengelus punggung dan kepala Icha dengan tujuan agar tenang saja.
"Hiks hiks gue bodoh? Gue gak becus gue bukan pemimpin yang baik gue gak bisa jagain sahabat sahabat gue gue bodoh" lirihnya.
"Lo gak bodoh Cha lo pintar, ini semua udah takdir" kata Rasya. Icha melepaskan pelukannya dan menatap Rasya.
"Lo musuh gue kenapa lo baik gini sama gue" tanyanya.
"Gue belum lakuin apapun tapi lo udah anggep gue baik?"
"Secara gak langsung lo perhatian sama gue"
"Terserah lo, tapi gue tanya kenapa lo sendirian disini dan nangis kayak tadi?"
"Apa gue boleh percaya sama lo?" Mengangkat bahunya Rasya hanya tersenyum saja .
"Senyaman lo aja, gue gak maksa cuma secara pribadi gue gak bisa liat perempuan nangis kayak lo tadi"
"Ternyata lo gak se kutub yang gue kira"
"Hmm gitu"
"Bang Raf tadu siapa lo? Abang lo?" Icha mengangguk .
"Iya dia abang gue, bukan kandung si tapi udah gue anggap abang gue sendiri karena gue anak tunggal, tapi sekarang dia sedang di rawat di rumah sakit dan dia sekolah disini juga tapi kelas 12" jelas Icha.
"Rafka?" Tanya Rasya memastikan.
"Kok lo tau?"
"Abang gue "
"Hah?"
"Ngapa?"
"Sorry ya gara gara gue Abang lo kecela-
__ADS_1
"Shuttt, jangan nyalain diri lo sendiri itu semua kecelakaan dan musibah, sudah takdir kak Rafka seperti ini kita cukup berdoa saja" tutur Rasya.
"G-gue lemah sekarang gue gak tau gue siapa, gue ngerasa gak punya tujuan hidup dua penyemangat gue sama sama tidur di rumah sakit hiks"
"Siapa lagi?"
"Sahabat gue di Inggris"
"Kenapa?"
"Karena ta- eh kok lo kepo sih, kenapa si tembok kayak lo bisa berubah jadi cerewt seperti ini ya" kata Icha.
"Oke gamasalah tapi gue tau tentang lo sama sahabat lo itu" kata Rasya menyeringai.
"M-maksud lo?"
"Queen Riger koma karena serangan dadakan dari gangster GSC?" Ucap Rasya.
"Queen Li, penguasa dunia gelap di Inggris dan cukup dise- sebuah jari telunjuk mungil mendarat di bibir sexy milik Rasya membuatnya berhenti bicara.
"Shuttttt jangan diterusin"
"Kenapa Queen? Ada yang salah?" Kata Rasya menggoda Icha.
"Shutt, jangan panggil gue itu disini stop. Gimana lo bisa tau?"
"Gue Rasya kalo lo lupa?"
"Ck. Nyebelin lo"
"Ayolah, Queen kebanggan Tiger Bips kok lesuh dimana semangatnya Queen Li?" Ucap Rasya.
"Ah tau ah pusing, stop panggil gue seperti itu dan gue peringati jangan ember please?"
"Deal, tapi 1 syarat"
"Curiga dah gue"
"Mau ga?"
"Yaudah apaan?"
"Gak penting si, tapi kita damai udah itu aja"
__ADS_1
"Asal lo gak ngeselin"
"Yayayaya"