
"Jadi siapa hm?" Icha terdiam, bodoh juga dirinya meminta bantuan pada Lucas.
"Siapa Ichaaaa, Karel l? Liam? Siapa hm?"tanya Lucas lagi.
"A-ar
Brak!
"Berani juga dia nyentuh lo Li" sarkas Lucas.
"Sabar elah main gebrak meja segala, tuan rumah ngamokkkk tau rasa lo" sindir Arel.
"Sorry" kata Lucas.
"Bang tapi Icha gakpapa, ada Arel yang bantu gue kemarin" kata Icha dengan wajah melas.
"Makasih rel udah bantuin Queen Li" sipemilik nama tampak mengangguk dan mengacungkan jempolnya.
"Sshh" desis Icha yang tiba tiba merasa pusing di bagian kepala.
"Cha lo kenapa?" Panik Lucas.
"Vano bawa dia ke atas sekarang, kalo gak kuat gendong atau istirahat dulu dan suruh bang Rian yang turun" perintah Rasya pada Devano agar segera membawa Icha ke lantai 3.
"Siap bos" Devano kini memapah Icha kembali ke tempat. Dan itupun Lucas tidak bisa menghadangnya, ia berpikir mungkin ini perawatan yang baik untuk bosnya itu dan disini mungkin orang baik walaupun tampang serem.
"Kenapa Queen Li bisa seperti itu Len? Siapa yang ngelakuin ini?" Tanyanya pada Alen yang memang dia dekat dengan Alen saja.
"Gue tidak sepenuhnya tahu tanyakan saja pada Arel atau Acha" jawab Alen santai. Lucas menatap ke arah Arel dan Acha bergantian meminta penjelasan.
"Lo udah tau kan penyebab dia seperti itu? Dan luka di kakinya karena kena pecahan kaca" jelas Arel yang masih menahan emosinya mengingat kejadian dimana dia menolong Icha kemarin.
"Karel? Sial, gue kenapa bisa kecolongan lagi sih" gumam Lucas yang masih baik sekali didengar oleh Rasya.
"Apa lo mau kita kerja sama balas dendam ke si brengsek itu karena musuh kita sama" kata Rasya. Lucas menatap Rasya dengan tatapan hanya dia saja yang tau arti tatapn itu.
"Kalo itu gue serahkan sama Queen, gue akan menuruti perintah dia?" Rasya mengangguk.
"Bos ini paketnya" ucap salah satu bawahan mereka mendekati Alen dan membawa satu paper bag yang entah apa isinya. Informasi saja, dia adalah utusan Rasya untuk menjadi anak buah Alen pribadi, Reno.
"Makasih dan kembalilah ke pekerjaanmu ren" Reno mengangguk kemudian pergi dari hadapan mereka semua tak lupa menunduk hormat. Semua sahabat Rasya diberi orang kepercayaan olehnya dan akan menjadi bawahan satu satu sahabatnya dan hal itu tak lepas dari pengawasan Rasya sendiri. Dan keputusan pun mereka ( anak buah) akan lebih menuruti perintah Rasya yang utama.
"Apa tuh tas coklat segala. Beli HP lo ya bukannya kemarin baru beli?" Tebak Ali. Alen mengangguk saja kemudian memberikan kepada Lucas.
"Nih buat lo" ucap Alen. Lucas terbengong.
"Untuk apa?"
"Buat lo untuk lo biar mudah ngerjain tugas lo. Gak usah diganti gue ikhlas" Lucas tersenyum kemudian menerima paper bag itu.
"Beneran hp Len?" Alen mengangguk.
"Makasih Len untuk hari ini, makasih banget lo udah nganterin ke tujuan awal gue sekaligus dapat bantuan dari kalian secara gak langsung, makasih banget terutama buat Lo Len, dan Rasya semuanya juga makasih banyak" ucap Lucas.
"Sans kita mah"
__ADS_1
Melihat Devano yang sudah kembali ke ruang tamu, Rasya menatap seolah bertanya 'gimana' Devano mengerti itu dan mengangguk saja.
"Lucas apa gue bisa bicara berdua dengan lo?" Tanya Devano.
"Ada apa ya?" Tanya Lucas.
"Hanya ingin mengobrol saja sebagai sesama kepercayaan orang besar bukan?" Semakin tak mengerti tetapi Lucas tetap menyetujuinya.
Rasya menatap tajam Alen. Yang ditatap menyeritkan alisnya karena bingung dengan tatapan Rasya, dia tak berbuat salah kok, pikir Alen.
"Apa lo masih mencari keberadaan orang tua lo Len?" Tanya Rasya.
"Pertanyaan bodoh yang seharusnya lo tau" balas Alen.
"Gue hanya tanya apa itu tidak boleh? Jika lo ingin bertemu mereka cari dulu saudara lo mungkin akan gampang karena anak muda akan suka sekali mengelilingi dunia bukan?" Alen semakin bingung.
"Apa maksud lo itu Cha gue tidak mengerti. Gue memang punya adik dan dia bersama dengan orang tua gue dan gue tidak tau kebenaran mereka sekarang ini"
"Kalo lo gue bantu gimana? Apa lo setuju?"
"Tidak usah Cha, biar urusan ini gue selesaikan sendiri"
"Gue tidak keberatan dan cepat bertemu lah kau dengannya dan jangan sakit hati tetapi bahagialah" Alen mengangguk.
"Terimakasih Cha atas tawaran lo, tapi gue bener bener tidak ingin merepotkan kalian dengan masalah pribadi gue. Gue bisa gue yakin apalagi gue kangen banget sama Lucas kecil" ucap Alen tersenyum getir. Mereka semua mengerti keadaan Alen seperti apa.
Devano mengajak Lucas berbicara empat mata di area taman belakang.
"Lucas , apa lo sangat tau tentang Bella?" Tanya Devano serius.
"Bella?" Beo Lucas.
"Tidak banyak, tetapi cukup taulah karena Queen sangat tertutup kecuali sama dua sahabatnya"
"Queen Ri sama Queen ai?" Lucas mengangguk.
"Gue tau lo bingung. Tapi lo sekarang ada di kawasan Black world kalo lo belum tau, jadi lo percayakan sama gue dlselaku pihak BW" Lucas melongo tak percaya. Gangster yang terkenal sadis dan kejam dan sekarang dia berada disekitar mereka, wah suatau kebanggaan tersendiri baginya.
"Serius lo anggota BW?" Devano mengangguk.
"Tapi jangan kasih tau siapapun, gue terpaksa bongkar semua ini karena gue butuh sedikit informasi dari lo tentang Bella em maksud gue Queen Li"
"Apa ada maksud tersembunyi"
"Ya, Rasya lo tau kan? Dia ingin tau lebih dalam tentang Bella tapi dari belakang karena dia sangat kaget sekali dengan Bella yang baru saja di Indonesia sudah ada pergerakan musuh yang menyerangnya"
"Blablabla.......
Panjang lebar Lucas memberi penjelasan tentang sedikit banyak informasi tentang Icha.
Back Rasya dkk.
"Sshhhahhh" desah Rasya tiba tiba. Membuat mereka kaget.
"Cha? Lo kenapa woi Cha" panik Arel melihat Rasya seperti orang kesakitan.
__ADS_1
"Udah biasa gue seperti ini, tapi hasil dokter mengatakan gue tidak ada penyakit apapun" jelasnya membuat sahabatnya keheranan. Kesakitan tapi tidak ada sakit apapun? Aneh! Pikir mereka semua.
"Serius lo?" Rasya mengangguk.
"Argh sakittttt arhhhh sssh" terlihat tambah parah dab wajah yang semakin pucat semua sahabatnya dibuat panik olehnya. Dengan segera mereka memapah Rasya menuju lantai 3 agar menemui Rian.
"Shhh sakitttt tolong gue gak kuatt" terus saja Rasya merintih kesakitan membuat semuanga bingung heran dan panik serta khawatir melihat Rasya seperti sekarang ini.
Mereka sudah berada di lantai tiga dan bertemu Rian. Setelah di cek memang benar Rasya tidak menderita sakit apapun tapi kenapa Rasya sekarang seperti orang kesakitan? Bahkan wajahnya yang sudah sangat pucat.
"Ngosh ngosh" tampak Devano dan Lucas yang ngos ngosan seperti selesai maraton saja.
"Kenapa lu lari lari segala" tanya Alen.
"Katanya , bos dibawa ke lantai 3 jadi gue panik lah" jelas Devano.
"Bang Rian. Tapi kok bisa Rasya kesakitan seperti itu?" Tanya Icha ikut nimbrung. Ia tadi kebangun karena keributan dan rintihan dari Rasya.
"Gue juga gak tau Cha"
Drt. Drt.
"Hp lo Cha bunyi" ucap Alen.
Icha : hal- hah? Caesar di keroyok? Sama GSC?
📞 : ......
Icha : gue kabarin bang Lucas sekarang oke!
Tut.
"Bang Caesar di keroyok sama GSC, dia sendirian. Awalnya menang tapi karena kwalahan dia di babi buta" kata Icha dengan lirih.
"Apa lo bilang? Caesar di keroyok? Wah gak beres nih. Baru juga gue tinggal udah dapet ae masalah" gerutu Lucas kesal.
"Kok bisa barengan gini masalahnya? Caesar ? Siapa dia? Atau salah satu anggota TB? Dan masalah dia dikeroyok tadi barengan sama sakitnya bos yang dinyatakan tidak sakit? Gue harus selidiki ini sekarang" batin Devano menebak nebak.
Memang ya kalo bicara soal logika harus sama Devano nih, ahli dalam teka teki!
"G-gue terbang sekarang Queen, gak mungkin kalo Queen Ai ngejaga Caesar sama Queen Ri sendiri, sementara Jo masih tugas ke Amerika" kata Lucas.
"Gue gak bisa ikut bang, jagain mereka ya?" Lucas mengangguk.
"Gakpapa , lo juga butuh perawatan disini jadi jangan khawatir" lucas segera pergi, dan tak lupa berpamitan dengan mereka semua dengan inisiatif tinggi Alen mengantar Lucas sampai ke bandara mengingat lelaki itu tadi kesasar.
"Sshh perut guee sakit banget" terdengar lagi setelah beberapa saat Rasya terdiam.
"Cha, are you not okay? Mana yang sakit hmm kenapa?" Tanya Icha yang sudah berada di samping brankar Rasya.
"Im oke, lo gak usah khawatir ini udah biasa buat gue"
"Gue udah selidikin dan dari awal gue udah curiga karena muka kalian sama persis, tapi gue belum berani ngungkapinnya ,gue gak berhak dan yang berhak dan bisaa jelasin semua hanya ortu lo" batin Icha sambil menatap Rasya.
"Cha, bagian mana yang sakit?" Tanya Icha memastikan luka dari sahabatnya ini.
__ADS_1
"Ini, ini dan lebih sakit di punggung sama perut" jelas Rasya seraya menujuk bagian yang terasa sakit itu. Mata Icha berkaca kaca mendengarnya, apa separah itu? Pikirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...