
Terdengar tawa yang mengglegar di ruangan tertutup itu, tawa yang mengerikan bagi kaum biasa tapi bagi mereka itu adalah tertawa bahagia, tidak ada yang tidak ikut semuanya tertawa dengan menggilir gelas yang berisikan alkohol yang memabukkan itu.
Terlihat disana tidak hanya pria tua saja namun ada beberapa remaja yang ikut serta di meja bundar itu menikmati putaran gelas juga beberapa camilan yang disediakan. Nampak pandangan mengisyaratkan ketajaman namun tak lama lalu mereka pun tertawa lagi seolah tidak ada beban apapun padahal tidak membahas apapun hanya saja tadi mereka mendapati kabar jika rencana mereka akan berhasil.
"Hahaha kau terlihat senang sekali bung" kata teman pria itu yang diketahui umurnya sekitar 65 tahun tapi masih terjun di dunia Clubing bahkan istrinya yang dirumah dianggurkan demi wanita club yang ia sewa.
"Bahkan lebih dari itu, aku sangat senang sekali akhirnya akan melihat kehancuran mereka didepan mataku ini" kata pria itu penuh keyakinan lalu meneguk miras yang sekarang adalah gilirannya.
"Kau memang hebat paman, bahkan aku saja masih belum bertindak jauh kau sudah melangkahiku, menyebalkan" kata pemuda yang diketahui umurnya masih 19 tahun.
"Kau lambat sekali anak muda, apa susahnya kau masuk dilingkungan mereka"
"Sangat susah sekali paman bahkan mereka sepertinya tidak sembarangan menerima orang baru apalagi si ketua sok itu" kata pemuda itu dengan nada meremehkan.
"Benar sekali bahkan aku saja sudah dihajar habis habisan olehnya dan dia sama sekali tidak membantuku huh" keluh pemuda yang satunya lagi.
"Bagaimana aku bisa membantumu sedangkan kita saja sepakat untuk tidak saling mengenal bodoh"
"Tapi kalau dilihat lihat wanita incaranmu itu sangat cantik sekali, boleh kah aku main dengannya"
"Jangan kau sentuh dia, sampai berani kau menyentuhnya maka kubuat tubuhmu itu terpisah dengan kepalamu" ancam pemuda itu.
"Hahaha aku bercanda kenapa kau sangat sensi sekali rupanya kau sudah minum terlalu banyak"
"Sudah sudah hanya masalah wanita saja kalian bertengkar" lerai pria tua yang diketahui umurnya 50 tahun dan menyandang sebagai King mereka.
"Apa kau yakin jika mereka sekarang sedang bertengkar?"
"Yakin tuan, bahkan saya sendiri menyaksikan dimana dia beradu mulut dengan si sombong itu"
"Keliatannya kau sangat benci terhadapnya"
"Ya, aku sangat benci samanya karena berani sekali dia mengaturku dan menyuruhku untuk menjauhi gadisku"
"Hahahaha lucu sekali kau ini"
"Dia memang sok pintar, bahkan kalau dia tidak bersama sahabatnyapun pasti dia akan kalah ditangan kita"
"Halah waktu itu dia sendirian menghajarmu kau juga kalah begitu kan?"
"Itu cuma kebetulan saja adikku hahaha"
*
Keesokan harinya di SMA AL.
Pelajaran pertama sudah diselesaikan dengan baik, kali ini Icha dkk tak membuat rusuh seperti hari sebelumnya sampai guru pun heran sendiri, buat ulah pusing gak buat ulah juga pusing haha sulit.
"Cha kantin ga?" Tanya Thea.
"Hayukkk"
__ADS_1
"Woi lo beduaa kantin kaga?" Tanya Thea pada Amel dan Ara.
"Ayo lah, perut gue dah demo nih" kata Amel.
"Yuk" kata Ara.
"Guys, para lakik kita ke kantin dulu ya? Ada yang mau ikut?" Kata Thea.
"Aku sih mau tapi apa kata anak anak deh yank" kata Alen.
"Yaudah kalau gitu bye" Thea dan tiga sahabat itu hendak keluar kelas tapi dihentikan oleh trio cabe didepan kelas.
"Yang namanya Icha mana" kata Haya.
"Apa lo nyari gue" kata Icha terdengar ketus tak suka.
"Ikut gue" dahi Icha berkerut begitu juga Thea, Amel dan Ara yang saling pandang tak mengerti.
"Ngapain lo ngajak Icha segala ada urusan apa lo" kata Amel.
"Gue mau ngasih pritungan sama ni anak udah berani deketin Rasya emang dasar gak tau malu ya" kata Haya, dan yang didalam the perfect pun mendengar itu lalu menghampiri keributan.
"Ada apa ini hah" kata Alen.
"Gak usah ikut campur ini urusan perempuan"
"Gue berhak ikut campur, lo tadi udah nyebut nama gue" kata Rasya.
"Eh, Rasya sayang kamu salah denger kok, aku tadi gak nyebut kamu cuma emang dia aja yang gatel sama kamu iya kan?" Kata Haya dengan nada yang dibuat buat membuat empat gadis itu mengekpresikan ingin muntah.
"Salsyaa sini lo" teriak Amel.
"Apaan mel"
"Bawa kaca kan lo?" Kata Amel.
"Bawa Cha kenapa?" Kata Salsya.
"Kasih ke nih kakel biar dia ngaca hahaha" mereka tertawa mengejek Haya yang dirinya posisi sendiri sedangkan didepannya ada 10 orang yang tengah mentertawakannya, dia tak tahan juga malu akhirnya dia pergi.
"Dasar chili huh" cibir Amel.
"Iya tuh dia ngatain sini tapi gak ngaca kakel ngasuuu" cebik Ara kesal.
"Udah udah guys kantin yok" kata Icha.
"Eh eh gue ikut, kebetulan gue udah selesai nulisnya" kata Salsya.
"Yaudah ayok"
Mereka pun menuju kantin bersama, the perfect pun juga memutuskan ikut ke kantin walau sekedar memesan minuman saja.
__ADS_1
"Eh gue perhatiin lo berdua kok diem dieman? Ada masalah?" Tanya Icha pada Salsya dan Raden.
"Nah iya tuh baru sadar gue" kata Alen menyahuti membenarkan.
"Kalian baik baik saja kan?" Tanga Icha menatap Salsya yang sudah kebingungan.
"Kenapa bingung gitu muka lo?" Kata Amel.
"Gakpapa kok guys, gue sama R-raden baik baik aja gak lagi berantem juga" kata Salsya hati hati sambil melirik Raden yang juga menatapnya dengan tatapan yang menurut Salsya mengerikan.
"Yakin? Tapi tumben gak nebar uwu kyk kemarin?" Tanya Ali memicing.
"Ah perasaan lo aja kali, kita baik baik aja kok" kata salsya dengan tersenyum.
"Bener den lo baik baik aja" tanya Icha pada Raden.
Raden mengangguk pelan "hubungan gue baik baik aja kok, kita lagi gak mood ngomong iya kan Sya?" Salsya mengangguk kikuk.
"Gue curiga nih" batin Icha menatap Thea yang juga menatapnya seolah mengerti dan bisa berbicara telepati Thea dan Icha sama sama mengangguk.
"Sal, anterin gue ke toilet dong " kata Icha.
"Ayo" tanpa babibu Salsya langsung mau, dan kemudian mereka berdua sampai ditoilet. Icha yang sebenarnya tidak kebelet beneran ia tadi hanya berpura pura buang air saja kemudian keluar tetapi menahan Salsya dulu.
Sedangkan dikantin, pertanyaan curiga Alen dan Ali membuat Raden semakin tidak nyaman dan bingung.
"Yakin lo gak ada apa apa sama Salsya?" Tanya Ali.
"Yakin kok, kita baik baik aja bahkan lebih dari kata baik" kata Raden sambil tersenyum.
"Apa gue boleh selidiki?" Kata Rasya langsung membuat Raden terdiam, ia tahu jika sang ketua ini akan dengan mudah mencari informasi yang ia butuhkan.
"So?"
"G-g
PLAK!
tamparan mendarat di pipi kanan Raden dibuat oleh Icha yang baru saja kembali dari toilet.
"Brengsek lo" maki Icha.
"Apa apaan ini, kenapa lo nampar gue hah"
"Ada apa ini Cha kenapa lo tiba tiba nampar Raden salah apa dia" kata Amel.
"Arhhh brengsek" ucap Icha frustasi langsung pergi dengan menarik Salsya yang setia menunduk takut.
"Sialll" geram Raden menghentakkan kakinya.
"Kenapa lo" tanya Alen dibalas gelengan oleh Raden, kemudian Raden melenggang pergi keluar kantin.
__ADS_1
...----------------...
HAISSSSS CAPEQQ