RASYA : My Queen Not You Queen!

RASYA : My Queen Not You Queen!
R 61


__ADS_3

Devano, lantai tiga sudah tidak karuan lebih tepatnya di ruang pribadinya. Kali ini Devano sedang meminum sendiri dengan beberapa botol yang ia beli tadi, tidak sedikit hanya 10 botol ia beli dan sekarang sudah sisa 6 botol tapi tak membuatnya lemah justru semakin kuat.


Rambut acak acakan juga baju yang sudah tidak rapi dengan ruangan yang berserakan karena ulah Devano sendiri. Di pojok di samping lemari besar, Devano disana pandangan yang kosong dengan tangan kiri yang memegang botol Vodka ia minum langsung dari botolnya.


Seperti orang gila yang waras. Devano tidak menyadari jika dirinya tengah ditatap oleh Rasya.


Jam sebelas, semuanya sudah pulang menyisakan anggota BW sendiri serta Bianca yang menemani Arel yang tengah tertidur di kamarnya. Rasya menghampiri Devano sendirian tanpa siapapun. Yang lainnya sedang berada di ruang tamu, mengobrol santai.


Rasya hanya diam setelah masuk ruangan Devano yang sudah tak rapi lagi itu. Rasya tahu pasti salah satu orang kepercayaannya ini tengah banyak pikiran sampai dilampiaskan ke alkohol. Rasya menatap Devano walaupun sang empu tak menyadari keberadaannya.


"Udah minumnya?" Tanya Rasya setelah melihat Devano yang barusaja menghabiskan botol ke limanya dan ingin mengambil lagi namun terhenti karena pertanyaan Rasya tadi.


Devano menoleh ke arah Rasya. Matanya memerah, berkaca kaca. Ingin sekali Devano berteriak dan marah kepadanya tapi ini tidak sepenuhnya salah Rasya, pikir Devano.


Keadaan yang tidak baik, setengah sadar Devano menghampiri Rasya, meraih satu botol lalu membukanya dengan mudah menegukknya lalu duduk disebelah Rasya.


"Gue salah apa Cha?" Nada Devano berat, ia menatap Rasya dengan wajah letih.


"Emang lo kenapa Van?" Kata Rasya. Devano kembali meneguk minuman itu.


"Gue salah apa?" Lirih Devano.


Tes!


Air mata Devano lolos begitu saja, mengusap kasar wajahnya Devano meneguk minuman itu lagi cukup banyak.


"Stop Van, lebih baik cerita sama gue" tegas Rasya. Devano menaruh botol itu dilantai. Ia kembali menatap Rasya.


"Gue salah apa?" Kata Devano mengulanginya lagi.


"Lo gak salah"


"Gue gak tau salah gue apa" kata Devano lirih.


"Cha" Rasya menaikkan satu alisnya.


"Gue salah apa"


"Cerita sama gue van, lo kenapa. Jujur gur khawatir gak biasanya lo minum banyak" kata Rasya.


"Gue putus Cha gue putus" kata Devano kembali mengeluarkan air matanya.


"M-maksud lo, lo putus sama kak Della?"


"Pacar gue siapa lagi kalau bukan Della Cha, gue putus Cha gue gak tau salah gur dimana gue diputusin gitu aja tanpa alasan yang jelas"


"Kapan?"


"Kemarin"

__ADS_1


"Van, apa lo berbuat sesuatu"


"Berbuat gimana, lo yang selalu ada disisi gue Cha. Gue gak sda niatan aneh aneh sama Della. Gur sayang sama dia Cha gur sayang sama kakak lo"


"Vano udah jangan minum lagi udah habis enam botol lo itu"


"Ini gak ada apa apanya dibandingkan sakit hati gue. Rasanya gur mau mati Cha, gur gak bisa hidup tanpa Della Cha" kata Devano lirih.


"Lo jangan bicara seperti itu"


"Gue bisa bantu lo jelasin sama kak Della. Mungkin dia salah paham atau gimana jangan gegabah Van"


"Gur bodoh Cha gur bodoh"Devano memukul kepalanya sendiri.


"Apa yang terjadi sama kalian" gumam Rasya pelan.


"Cha ambilin satu lagi Cha gue mau lagi"


"Big no Devano, itu udah terlalu banyak. Lo tidur sekarang" titah Rasya.


"Cha " Rasya menatap Devano Tajam. Dalam keadaan mabuk pun aura Rasya sangat kerasa didiri Dvano, jujur itu mengerikan bagi Devano. Dengan berat dan jalan sempoyongan dibantu Rasya untuk turun kebawah dimana kamar Devano berada.


"Cha, dia siapa.. kenapa seksi sekali" kata Devano menatap ke arah dapur dimana ada wanita cantik yang sedang berada didepan kulkas, Bianca


"Lo mabuk Van jangan aneh aneh, inget kak Della" tutur Rasya.


"Gue udah putus Cha"


Rasya melanjutkan perjalanannya. Memapah orang mabuk itu sangat melelahkan baginya apalagi tidak ada lift, turum dari lantai 3 ke lantai dasar dengan tangga, ia cukup lelah.


"Kenapa tu orang" kata Alen langsung membantu Rasya memapah Devano yang berjalan gontai itu.


"Jangan banyak bacot, sekarang ke kamar Vano kasian dia"


"Sebentar Cha, dia siapa. Aku sangat tertarik sama dia" kata Devano ngelantur.


"Dia kekasihnya Arel, jadi stop berpikir aneh aneh" kata Rasya.


"Sialan, gur butuh wanita Cha" kata Devano.


"Bang udah bang lo mabok, lo inget lo itu gak pernah kayak gini sekalipun mabuk sampai halu kayak gini" kata Alen.


"Gue gila Len" kata Devano lalu tertawa sendiri. Dia memberontak lalu berjalan sendiri ke sofa di ruang tamu dimana ada Raden dan Ali.


"Hai semuanya apa kabar " tanya Devano.


"Baik bang tapi lo yang gak baik baik saja " kata Ali.


"RADEVAA BRENGSEKKKKK"

__ADS_1


pyarr!


Suara pecahan terdengar sangat jelas ditelinga mereka. Membuat mereka kaget dan terkejut lalu segera berlari ke arah suara itu.


*


"Arhhhhhh" rintih Arel memegangi kepalanya.


Ya, yang membuat mereka kaget adalah Arel yang tengah emosi memecahkan vas didalam kamarnya.


Rasya dan yang lainnya sudah ada di kamar Arel dengan ekspresi terkejut. Terkejut karena ruangan sudah penuh pecahan vas juga seorang wanita yang menangis dipojokan.


Ali masuk lalu mengajak Bianca beranjak dari sana menenangkan dirinya. Sedangkan yang lainnya membereskan Arel yang tengah mengamuk.


"Kenapa lagi rel" tanya Alen menatap Arel.


"Kita harus serang Red Devil" kata Arel menatap ke arah Rasya.


"Ada urusan apalagi sama dia Rel" tanya Rasya.


"Apa yang membuat lo seperti ini dia? Hubungannya sama Amel apa?"


"Mereka pacaran?" Arel mengangguk lesuh.


"Gak seharusnya lo seperti ini rel, lo jangan egois. Lo mencintai Amel tapi gak lo ungkapin dan setelah lo tahu Amel udah ada pawang lo sakit hati, pacarnya gak salah walaupun itu musuh kita tapi dia gak tahu perasaan lo rel" kata Rasya menatap Arel yanb tengah memejamkan matanya.


"Jangan buat kelamahan lo terlihat didepan mereka, kalo lo seperti ini sama aja lo memperlihatkan kelemahan lo dengan lo mencintai Amel" sahut Alen.


"Dan lo juga akan mengecewakan Bianca, dia yang selalu nemenin lo. Dan lo tadi udah mengatakan kalo dia adalah gadis lo, apa lo hanya bercanda atau karena efek mabuk hinggal lo tidak sadar mengatakannya" kata Raden.


"Tapi hati gur berat, gue mencintai mereka berdua. Iya gur tahu gue serakah, tapi hati gur bener bener mencintai mereka, gue bingung" lirih Arel.


"Lo benar, Radeva gak salah. Maafin gue guys"


"Gue sebenernya pengen marah guys, gur kecewa sama kalian..tapi gue gak tau harus gimana, gue kasian liat kalian kayak gini. Jujur gue capek butuh istirahat dan sekarang apa lo liat lo liat Vano kayak gini benar benar buat gue gak bisa percaya sama perempuan"


"Apa gur egois jika gur marah sama kalian"


"Engga Cha" jawab Raden mewakili.


"Apa gue salah jika gue kecewa sama kalian"


"Gur udab memperingati kalian kenapa gak ada yang denger gue si"


"Kalian berempat kenapa selalu hanya tentang cewek hah. Lo semua tahu kan maksud gue buat larang kalian berpacaran dulu tahu kan apa maksud gue"


"Dan sekarang apa hah, hancur. Kalian ngelampiasin semua ini sama alkohol, menyakiti diri kalian sendiri"


"Jujur guys, gue kecewa sama kalian. Hanya karena cewek kalian hancur kayak gini"

__ADS_1


"Arhhhh fuk" kata Rasya melayangkan jari tengah ke arah mereka lalu meninggalkan mereka yang masih terdiam disana..


Mereka betiga tidak berani menyela Rasya, mereka juga merasa bersalah kepadanya.


__ADS_2