
fyi! cerita ini sedikit saya singkat karena mau aku tamatin segera, monmaap🙂 konflik berat ada di episode 70++ insyaallah aku tuntasin kurleb 100 eps😌
...----------------...
Dikediaman Alaric sudah ada tiga saudara yang tengah berkumpul di ruang keluarga, mereka sedang membahas sesuatu yang menurutnya penting dan sangat serius. Rasya sudah pulang ke mansion ini karena Raska yang membujuknya.
"Jadi gimana kak sama sahabat kakak itu" kata Rasya tersenyum meledek.
"Ck. Bukan lagi asal kamu tau" cebik Rafka.
"Udahlah bang jangan marah marah gitu kayak bocah" kata Raska.
"Kita bahas di markas aja jangan disini, sekalian juga sama yang lainnya biar ada usul bagaimana cara untuk balas perbuatan Galang juga GSc" kata Rafka.
"Setuju sih" kata Raska.
"Sekalian beresin masalah sahabat kak Rasya" sambungnya.
"Emang kenapa, siapa yang punya masalah" tanya Rafka.
"Di Raden lagi berantem sama Salsya karena salah paham, si Alen lagi berantem sama Thea" kata Rasya.
"Satu lagi, Lucas kak. Dia suka sama Ara dan sekarang Ara diculik dama GSc, dia frustasi banget tadi waktu pulang kata anak anak dia uring uringan sama kayak Alen" kata Raska.
"Ya jelas sama orang dia adiknya" celetuk Rasya enteng. Dia menatap dua saudaranya itu seolah tahu apa yang mereka pikirkan.
"Gue sama Vano udah tau semuanya. Sebenarnya Lucas tuh adik Alen yang terpisah itu, orang tuanya sempat menelantarkan Alen karena Alen adalah anak pembawa sial mybe. Lucas dibawa sama orang tuanya ke London, tapi gak berlangsung lama orang tua mereka cerai karena beda pendapat, selebihnya nanti markas gue gak mau ngulangin lagi omongan gue"kata Rasya.
"Pantes' gumam Raska.
"Kalung mereka udah jodoh, dipertemukan" kata Raska.
"benar katamu As" kata Rasya membenarkan.
*
"Sya, please dengerin aku. Aku bisa jelasin sama kamu. Aku gak mau jauh dari kamu aku gak mau putus Sya" kata Raden memelas.
Ya, saat ini Raden menemui Salsya yang sedang berada di apartemen miliknya. Salsya hanya diam saja sedari tadi, tidak mengatakan apapun, bilang iya atau tidak saja tak ia ucapkn, hanya diam dan bergeliat di pikirannya.
"Sayang" Sontak Salsya menatap Raden dengan mata memerah antara marah, kecewa juga diselipi rasa kangen didalam hatinya itu. Jujur ia sangat merindukan seorang Raden yang perhatian padanya.
Air mata Salsya meneted begitu saja melihat wajah Raden yang ternyata sudah banjir dengan air bening itu. Lelaki yang dihadapannya ini benar benar menangis karena dirinya.
__ADS_1
"Yank" lirih Raden menatap Salsya lekat.
"Salsya Anindya" kata Raden.
"Maafin aku"
"Jadi kamu beneran ngelakuin itu?" Tanya Salsya, dengan cepat Raden menggeleng.
"Nggak yank, kamu salah paham. Aku bisa jelasin, dia itu sekretaris Acha sayang, bos aku" kata Raden.
"Apa aku harus percaya?" Tanya Salsya.
"Kamu harus percaya sayang, dia juga sepupu jauh aku, kita jauh tapi pekerjaan membuat kita dekat dan hanya kak Adel yang selalu ada di samping aku sebelum kamu. Maafin aku Sya, kemarin tuh kamu salah paham, aku kemarin lagi kangen sama kak Adel makannya aku manja samanya setelah pulang dari kantor, sebenarnya ada Bimo saat itu tapi dia lagi beli makannan buat kita bertiga tapi keduluan kamu Dateng" kata Raden.
"Kakak sepupu" Raden mengangguk.
"Maafin aku Den" lirih Salsya lalu menangis terisak, dengan sigap Raden menarik Salsya kedalam pelukannya.
"Aku udah maafin kamu, dan aku minta maaf. Bukannya beberapa hari aku diemin kamu tapi kamu yang selalu menghindar dari aku"
"Maaf sayang"
"Iya yank, jangan nangis lagi ya please"
*
Kali ini benar benar membuat Arel sangat marah dan frustasi, dia sangat kacau sekali. Kenapa tidak? tadi sepulang sekolah dia dipertemukan dengan kejadian dimana gadis pujaannya tengah bermesraan dengan lelaki lain. Ini bukan sepenuhnya salah gadis itu, tetapi salahnya sendiri yang mencintai dia secara diam dan tidak mencari tahu jika gadisnya sudah brpawang atau tidak. Antara marah dan sakit hati, tentu ia marah tidak akan ada gunanya, dia bukan siapa siapa gadis itu ngapain dia marah marah? Haha lucu sekali tuan Fairel ini.
Si angkuh dan biang onar ini sedang patah hati,haha pria yang sudah terbiasa menjamah tubuh wanita malam saat ini tengah acak acakan karena seorang perempuan yang selama ini ia perhatikan.
Arel berada di Delxclub untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau juga hatinya dengan menikmati beberapa pandangan indah, Arel tak munafik! Dia dalam keadaan sakit hati juga tidak menuntup kemungkinan dia juga sedikit bermain dengan wanita apalagi dalam keadaan mabuk. Arel sangat sangat mabuk kali ini ditambah dengan beberapa botol Wine dan Vodka ia minum sendiri tanpa teman.
Sekarang ini dia tengah diapit oleh dua wanita disampingnya, kanan kiri cukup cantik dan menggoda, sempat akan melakukan cumbu mesra dirinya tengah dipanggil seorang wanita yang baru sampai di depannya, Bianca.
Yapd, Bianca Liza. Gadis yang sengaja Arel rawat dan pelihara karena kejadian waktu itu yang sempat membuat keduanya bertemu di club ini. Bianca yang dulunya seorang gadis lugu dengan tiba tiba ia dijebak oleh teman kampusnya untuk datang ke club dan akan dijual oleh mereka, Bian menangis sejadi jadinya saat sudah didepan pris tua yang sudah membelinya, tangisannya keras sekali hingga tembus dari luar ruangan beruntungnya dia ada pria yang beranama Arel melewati tempat itu dan mendengar suaranya, dengan inisiatif tinggi Arel mendobrak pintu itu hingga rusak, orang yang berada didalam sampai kaget dengan kelakuannya.
Arel menatap pria tua itu tajam, dia nakal tapi hanya akan bermain dengan yang mau sama mau tidak memaksa, Arel menarik pria itu dengan kekuatannyaa, pria itu tidak bisa berkelahi hingga sampai pada titik dimana Arel menggantikan uang yang dikeluarkan pria itu untuk membeli Bian. Dari situlah Arel bertemu Bianca untuk menjadi partner tidurnya, tidak melakukan apapun karena Bianca tidak mau, dengan sedikit paksaan Bian akhirnya menerima dan menuruti kemauan Arel dengan syarat tidak lebih dari itu.
"Arel" sapa Bianca dengan senyuman manisnya yang selalu membuat hati Arel tenang dan seketika melupakan masalahnya sejenak.
Arel menatap Bian juga tersenyum, lalu menyuruh pergi dua wanita itu kemudian mengajak Bian duduk di sebelahnya.
"Ada masalah?" Tanya Bianca.
__ADS_1
"Tidak ada sayangku, hanya ingin bermain main saja" kata Arel dengan kesadaran yang ia miliki untuk menjawab pertanyaan Bianca. Ia bersandar dibahu Bian dengan tangan yang memeluk pinggang Bianca dari samping.
"Rel, apa aku bisa mengatakan sesuatu padamu?" Kata Bianca. Arel melepaskan pelukannya lalu menghadap Bianca yang tersenyum ke arahnya.
"Apa"
"Apa aku boleh berhenti menjadi wanitamu?" Arel mendengar itu dengan cepat dia menggeleng lalu memegang kedua bahu Bianca erat.
"Kenapa?"
"Aku jatuh cinta samamu Rel, tapi aku sadar aku siapa dan aku tahu kamu sukanya sama teman satu sekolahmu itu bukan aku" kata Bianca dengan tertunduk. Matanya berkaca kaca saat ingin mengatakan perasaannya, dia takut pria yang selama ini membantunya dan menjaganya akan marah.
"Kalau begitu, kenapa kamu ingin pergi dariku Bi" kata Arel dengan raut wajah khawatir.
"Aku tidak ingin lebih jauh lagi mencintaimu Rel"
"Aku suka sama kamu Bi, jangan tinggalkan aku" kata Arel mantap menatap mata Bianca lekat. Bianca tak kuat menahan air matanya dan lolos begitu saja tanpa izin, dia sebenarnya juga tidak mau meninggalkan Arel tetapi dia tidak ingin cintanya tak terbalaskan, apalagi dirinya adalah teman tidur Arel.
"Apa kamu serius mengatakan itu Rel?" Arel mengangguk.
"Aku serius, aku akan melupakan dia demi kamu, aku sadar hanya kamu yang ngerti aku. Maafkan aku Bi"
"Jangan meminta maaf Rel, cukup dengan ungkapan kamu aku sangat berterimakasih"
"Gimana kuliah kamu? Apa masih ada yang ganggu?" Tanya Arel mengalihkan pembicaraan, dia tidak ingin terus berbohong dan akan menyakiti hati wanitanya.
"Hmmm seperti biasa dan berkurang karena penampilan aku, ternyata benar kata kamu disini tidak sama dikampungku. Disini memandang penampilan, aku merasa itu lucu sekali" kata Bianca.
"Dibilangin juga tidak percaya, kan aku sudah mengatakan"
"Iya Iya, aku sangat berterimakasih sama kamu, kalau tidak ada kamu aku gaktau hidupku akan gimana waktu itu"
"Udah ya, jangan diingat terus"
"Tapi aku masih mengingat dengan jelas saat itu dan saat kamu menolongku"
"Kamu harus ingat itu kalau tidak aku akan memintanya sekarang" kata Arel dengan nada bercanda.
"Bawanya itu mulu, gak asik kamu" kata Bianca kesal.
"Beberapa hari ini aku melihat Delix sering melamun dan marah marah tidak jelas sama karyawan disini, dia kenapa" kata Bianca, Delix adalah Ali yang dimana didunia kerjanya dia akan dipanggil tuan Delix.
"Aku tidak mau membahas pria lain Bi, aku merindukanmu" kata Arel, Bianca sadar arah pembicaraan Arel saat ini kemudian mengangguk dan langsung mengajak Arel dan memapahnya karena jalan Arel sudah tidak bisa tegak, memasuki room private Bianca menidurkan Arel diranjang lalu menuju ke kamar mandi untuk berganti baju dinasnya untuk Arel malam ini. Dia sudah siap dan kembali ke ranjang, disana Arel sudah siap tersenyum kearahnya. Mereka memulai dengan ciuman bbr lalu beralih ke leher dengan gairahnya tangan Arel masuk kedalam baju Bianca, dia sangat sadar dengan apa yang dia lakukan dan dia ingat batasannya. Arel melanjutkan ciumannya yang juga dinikmati oleh Bianca dengan tangan yang sudah memijat dan sedikit memainkan gunung kembar itu.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Bi" kata Arel disela kegiatannya, lalu kembali melakukan aktivitasnya sampai lelah dan mengeluarkan cairannya dengan bantuan tangan mungil Bianca dan juga mulut bulat Bianca.